RADARBANYUWANGI.ID – Ritual Gandrung Subuh yang telah lama menghilang dari perairan Selat Bali akhirnya kembali digelar pada peringatan 1 Suro 2026. Tradisi sakral masyarakat pesisir Ketapang itu tampil berbeda. Dua penari gandrung tidak menari di panggung, melainkan di atas kapal yang berlayar menyusuri perairan Selat Bali sembari mengiringi doa keselamatan pelayaran.
Tradisi yang menjadi bagian dari rangkaian Sedekah Segoro tersebut berlangsung di kawasan Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Senin dini hari (15/6). Ribuan mata menyaksikan bagaimana ritual budaya yang sempat vakum lebih dari tiga dekade itu kembali dihidupkan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus ikhtiar keselamatan bagi aktivitas pelayaran di salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia.
Pagi masih gelap ketika suara gamelan mulai terdengar dari area penumpang Pelabuhan Ketapang. Sejumlah warga berpakaian serba putih membawa bunga tujuh rupa berjalan perlahan menuju dermaga ponton tempat KMP Dharma Rucitra bersandar.
Di barisan depan, dua penari gandrung memimpin rombongan. Sesampainya di atas kapal, karpet hijau dibentangkan di geladak sebagai arena pertunjukan. Tak lama kemudian kapal bergerak meninggalkan dermaga menuju perairan Pantai Boom.
Di tengah perjalanan, Gandrung Lina dan Gandrung Sunasih mulai melantunkan gending-gending khas Banyuwangi. Alunan gamelan yang mengiringi tarian keduanya menyatu dengan suasana fajar yang perlahan menyingsing di atas Selat Bali.
Momen tersebut menjadi simbol kembalinya Gandrung Seblang-Seblang Subuh, ritual yang dahulu rutin digelar masyarakat pesisir Ketapang setiap memasuki tahun baru Jawa.
Vakum Sejak Awal 1990-an
Bagi warga Desa Ketapang, kemunculan kembali ritual ini menghadirkan nostalgia sekaligus harapan baru.
Saudah, 64, warga Ketapang yang ikut dalam prosesi tersebut, mengaku tradisi Gandrung Subuh terakhir kali digelar pada awal 1990-an. Saat itu ritual biasanya dilakukan di atas kapal-kapal penyeberangan yang melayani rute Ketapang-Gilimanuk.
"Dulu dilakukan di KMP Kintamani dan KMP Blambangan. Sudah lama sekali tidak ada," ujarnya.
Perempuan yang telah memiliki sembilan cucu itu juga mengenang tradisi petik laut yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Ketapang. Menurutnya, berbagai ritual tersebut perlahan menghilang seiring perkembangan zaman.
Ia bahkan meyakini tradisi tersebut memiliki makna spiritual yang kuat bagi keselamatan pelayaran.
"Dulu saat rutin digelar hampir tidak ada kecelakaan. Setelah tradisi ditinggalkan, sering muncul berbagai peristiwa," katanya.
Dipilih sebagai Doa Keselamatan Kapal di Selat Bali
Budayawan Banyuwangi, Subari Sofyan, menjelaskan Sedekah Segoro tahun ini awalnya dirancang menggunakan konsep petik laut dengan prosesi pelarungan kepala hewan ke laut.
Namun setelah melalui berbagai diskusi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan pelabuhan, konsep tersebut akhirnya diubah.
Menurut Subari, ritual Gandrung Subuh dinilai lebih dekat dengan identitas budaya masyarakat Ketapang sekaligus memiliki makna filosofis yang kuat.
"Kalau petik laut lebih identik dengan nelayan. Sementara tujuan kegiatan ini adalah mendoakan keselamatan seluruh kapal yang melintas di Selat Bali," ujarnya.
Ia menambahkan, Gandrung Subuh merupakan ritual yang memiliki posisi penting dalam tradisi Gandrung Banyuwangi karena menjadi tahapan spiritual tertinggi bagi seorang penari.
"Menjadi gandrung prosesnya panjang, mulai latihan menari, mupuh, puasa mutih, meras, hingga akhirnya menjalani Seblang Subuh. Ritual ini memang bertujuan memohon keselamatan," jelasnya.
Bunga Tujuh Rupa dan Doa Lintas Agama
Selama pelayaran berlangsung, perwakilan perusahaan pelayaran yang beroperasi di Selat Bali turut mengikuti prosesi dengan menaburkan bunga tujuh rupa dari atas kapal.
Ritual tersebut tidak hanya diisi tarian gandrung. Dalam rangkaian Sedekah Segoro juga digelar pembacaan doa lintas agama, mocoan Lontar Yusuf, kesenian jaranan, hingga selamatan bersama.
Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan lahir dari keprihatinan masyarakat terhadap sejumlah musibah pelayaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, pemerintah desa bersama KSOP, ASDP, perusahaan pelayaran, dan berbagai elemen masyarakat sepakat menghidupkan kembali tradisi lokal yang sarat makna.
"Kami ingin mendoakan agar aktivitas pelayaran di Selat Bali berjalan aman dan lancar. Ada dua kapal yang dilibatkan, KMP Dharma Rucitra untuk Gandrung Subuh dan KMP Prathita IV untuk doa lintas agama," katanya.
Didorong Jadi Daya Tarik Wisata Budaya
Kembalinya ritual Gandrung Subuh mendapat dukungan dari berbagai stakeholder pelabuhan.
Kepala KSOP Tanjungwangi, Captain Purgana, menilai Sedekah Segoro merupakan bentuk harmonisasi antara manusia, budaya, dan alam yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir.
"Semoga apa yang dilakukan ini menjadi ikhtiar yang baik dan dapat menghadirkan keselamatan bagi seluruh aktivitas pelayaran di Selat Bali," ujarnya.
Senada dengan itu, General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, berharap ritual yang sempat hilang puluhan tahun tersebut dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya Banyuwangi.
"Ini warisan budaya yang sangat berharga. Kami berharap tradisi ini tetap terjaga dan bisa dikenal lebih luas," katanya.
Ke depan, masyarakat Ketapang berencana menjadikan Sedekah Segoro dan Gandrung Subuh sebagai agenda budaya tahunan. Selain menjadi sarana doa bersama, ritual tersebut juga diharapkan berkembang sebagai atraksi wisata budaya yang memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah yang kaya tradisi dan kearifan lokal. (fre)
Editor : Ali Sodiqin