Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenal Ki MPP Bayu Aji, Dalang Muda Pewaris Darah Seni Ki Anom Suroto

Ali Sodiqin • Minggu, 14 Juni 2026 | 13:00 WIB
Ki MPP Bayu Aji Lanjutkan Jejak Sang Maestro Ki Anom Suroto. (Facebook @Ki Bayu aji Pamungkas fans club)
Ki MPP Bayu Aji Lanjutkan Jejak Sang Maestro Ki Anom Suroto. (Facebook @Ki Bayu aji Pamungkas fans club)

RADARBANYUWANGI.ID - Riuh tepuk tangan ribuan penonton pecah di Taman Blambangan, Banyuwangi, Sabtu malam (13/6/2026). Di balik kelir putih, sosok dalang muda itu memainkan wayang dengan sabetan lincah, suara lantang, dan penghayatan yang mampu menghidupkan setiap tokoh pewayangan.

Dialah Ki MPP Bayu Aji.

Dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar Polresta Banyuwangi, Ki Bayu Aji membawakan lakon Pandawa Mbangun Praja. Namun, malam itu bukan sekadar pertunjukan wayang kulit biasa. Ada nama besar yang melekat pada dirinya, sekaligus ekspektasi tinggi publik terhadap seorang penerus maestro.

Ya, Ki MPP Bayu Aji adalah putra sulung dalang legendaris Ki Anom Suroto.

Tetapi, selama puluhan tahun meniti karier, pria bernama lengkap Muhammad Pamungkas Prasetya Bayu Aji itu berhasil membuktikan dirinya bukan sekadar bayang-bayang sang ayah. Ia tumbuh menjadi salah satu dalang muda paling berpengaruh di Indonesia.

Lahir dari Keluarga Seniman

Ki Bayu Aji lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 1984.

Darah seni mengalir deras dalam dirinya.

Ayahnya, Ki Anom Suroto, dikenal sebagai salah satu maestro wayang kulit terbesar Indonesia. Sedangkan ibunya, Sri Sayuti, berasal dari keluarga pemain wayang orang.

Tak hanya itu, kakek buyutnya juga seorang dalang.

Lingkungan keluarga yang sarat tradisi membuat Bayu Aji akrab dengan dunia pewayangan sejak usia dini.

Bahkan, ia mulai tampil mendalang ketika usianya baru sekitar tiga tahun.

Kala itu, tubuhnya masih terlalu kecil untuk duduk bersila layaknya dalang dewasa.

Ia harus berdiri di belakang kelir saat tampil dalam peringatan Hari Anak Nasional di Pendapa Joglo Sriwedari, Solo.

Tak ada yang menyangka, anak kecil yang memegang wayang dengan penuh semangat itu kelak menjadi salah satu pewaris penting seni pedalangan Indonesia.

Bukan Sekadar Mewarisi Nama Besar

Memiliki ayah seorang Ki Anom Suroto tentu menjadi kebanggaan sekaligus tantangan.

Nama besar itu bisa menjadi jalan pintas menuju popularitas, tetapi juga menjadi beban karena publik selalu membandingkan.

Bayu Aji memilih jalan berbeda.

Ia tidak berusaha meniru gaya ayahnya sepenuhnya.

Ia membangun karakter pementasannya sendiri.

Gaya pakeliran Ki Bayu Aji dikenal atraktif dan dinamis.

Gerakan wayangnya lincah, tempo pementasan cepat, tetapi tetap menjaga pakem pewayangan klasik.

Ia piawai memainkan berbagai tokoh dengan perubahan suara yang khas dan mampu membangun komunikasi dengan penonton dari berbagai usia.

Tak heran jika pertunjukannya selalu hidup.

Bahkan bagi generasi muda yang sebelumnya tidak akrab dengan wayang kulit.

Wayang Sebagai Media Kritik Sosial

Bagi Ki Bayu Aji, wayang bukan sekadar tontonan.

Wayang adalah tuntunan.

Karena itu, ia sering memanfaatkan panggung sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan sosial.

Berbagai isu kehidupan masyarakat, kepemimpinan, hingga persoalan kebangsaan kerap disisipkan dalam dialog tokoh pewayangan.

Pendekatan itu membuat pementasannya terasa dekat dengan realitas.

Wayang tidak lagi dipandang sebagai seni tradisional yang berjarak dengan kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, ia menjadi medium yang relevan untuk semua generasi.

Menjelajah Panggung Nasional

Kemampuan itu membuat nama Ki Bayu Aji melesat.

Ia tampil di berbagai kota di Indonesia.

Panggung-panggung besar menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Pada 2023, ia dipercaya tampil dalam pagelaran wayang kulit bertajuk Wahyu Cakraningrat di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta.

Penampilannya kala itu mendapat perhatian luas.

Ia bahkan menyebut Polri sebagai salah satu institusi yang terus memberikan ruang bagi pelestarian budaya dan seni tradisional.

Tiga tahun berselang, kepercayaan itu kembali datang.

Dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi, Ki Bayu Aji dipercaya menjadi dalang utama.

Lakon yang dibawakan, Pandawa Mbangun Praja, sarat pesan tentang kepemimpinan, kebersamaan, dan pembangunan.

Nilai-nilai yang dianggap selaras dengan semangat pengabdian Polri kepada masyarakat.

Di bawah sorot lampu panggung Taman Blambangan, Ki Bayu Aji kembali menunjukkan kelasnya.

Ribuan penonton larut dalam cerita.

Suara gamelan mengalun berpadu dengan sinden, sementara gerakan wayang yang dimainkan Bayu Aji mampu menghipnotis siapa saja yang menyaksikan.

Menjaga Api Tradisi Tetap Menyala

Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya populer, menjadi dalang bukan profesi yang mudah.

Namun Ki Bayu Aji memilih tetap setia pada dunia yang telah membesarkannya.

Ia percaya, wayang kulit tidak akan pernah kehilangan penonton selama mampu beradaptasi dengan zaman.

Karena itu, ia terus berusaha menghadirkan pementasan yang menarik tanpa meninggalkan akar tradisi.

Kini, di usianya yang lebih dari empat dekade, Ki MPP Bayu Aji bukan hanya dikenal sebagai putra Ki Anom Suroto.

Ia telah menjelma menjadi sosok penting yang menjaga api tradisi tetap menyala.

Dan malam itu di Banyuwangi, ribuan pasang mata kembali menyaksikan bagaimana seorang dalang muda meneruskan warisan leluhur, sekaligus membawa wayang melangkah ke masa depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Ki Bayu Aji #Taman Blambangan #wayang kulit #HUT Bhayangkara #Ki Anom Suroto