RADARBANYUWANGI.ID - Dentuman gong mulai terdengar sejak sore di Taman Blambangan, Banyuwangi. Irama gamelan berpadu dengan suara gendang dan tembang sinden mengalun dari atas panggung, mengundang perhatian warga yang melintas. Di tengah suasana itu, dalang muda kondang Ki MPP Bayu Aji tampak serius memimpin gladi bersih, mematangkan setiap adegan sebelum pagelaran wayang kulit dimulai.
Sejak Sabtu sore (13/6), Taman Blambangan tidak hanya menjadi ruang hiburan masyarakat. Kawasan pusat kota Banyuwangi itu berubah menjadi panggung budaya dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar Polresta Banyuwangi.
Dengan mengusung lakon Pandawa Mbangun Praja, pagelaran wayang kulit tersebut diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kepemimpinan, persatuan, dan semangat membangun negeri.
Sejak sore hari, Ki MPP Bayu Aji bersama para pengrawit dan sinden telah melakukan gladi bersih. Alunan gamelan yang menggema dari atas panggung seolah menjadi pertanda bahwa malam budaya akan segera dimulai.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00 dan diperkirakan akan menyedot perhatian ribuan warga.
Tak hanya menghadirkan Ki MPP Bayu Aji, malam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 itu juga dimeriahkan maestro tembang Catur Arum serta duo pelawak Gandu dan Pentul yang siap menghidupkan suasana dengan humor khas Banyuwangi.
Kehadiran Ki MPP Bayu Aji sendiri menjadi daya tarik tersendiri. Putra maestro dalang legendaris almarhum Ki Anom Suroto itu dikenal sebagai salah satu dalang muda berbakat asal Surakarta yang telah tampil di berbagai daerah di Indonesia.
Gaya pementasannya yang atraktif, dipadukan kemampuan membawakan lakon-lakon klasik dengan sentuhan kekinian, membuat namanya semakin dikenal di kalangan pencinta wayang.
Ketua Panitia Hari Bhayangkara ke-80 Polresta Banyuwangi, Kompol Sudarsono, mengatakan pemilihan pagelaran wayang kulit bukan tanpa alasan.
Menurut dia, Polri memiliki komitmen untuk tidak hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga ikut melestarikan warisan budaya bangsa.
"Ini adalah bentuk kepedulian Polri dalam melestarikan nilai-nilai budaya bangsa, khususnya seni budaya wayang kulit," ujar Sudarsono mewakili Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan.
Lebih jauh, Sudarsono menjelaskan lakon Pandawa Mbangun Praja dipilih karena mengandung pesan moral yang relevan dengan semangat pengabdian Polri.
Cerita tersebut menggambarkan bagaimana kepemimpinan yang baik dibangun melalui kebersamaan, keberanian, dan pengabdian untuk kepentingan masyarakat.
"Pemilihan lakon ini mengandung pesan tentang kepemimpinan, kebersamaan, dan pembangunan yang selaras dengan semangat pengabdian Polri kepada masyarakat," katanya.
Pagelaran wayang kulit tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara budaya dan masyarakat modern. Tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Karena diperkirakan akan dipadati pengunjung, Satlantas Polresta Banyuwangi telah menyiapkan rekayasa arus lalu lintas serta sejumlah kantong parkir resmi di sekitar kawasan Taman Blambangan.
Kasat Lantas Polresta Banyuwangi AKP I Gusti Bagus Krisna Fuady menjelaskan, di sisi utara Taman Blambangan tersedia area parkir sepanjang Jalan Veteran mulai Simpang Tiga Kepatihan hingga Simpang Tiga Gedung Juang dengan kapasitas sekitar 130 kendaraan roda empat.
Sementara di sisi barat, pengunjung dapat memanfaatkan area parkir di depan Gesibu Blambangan yang mampu menampung sekitar 80 kendaraan roda empat dan 100 kendaraan roda dua.
Pada sisi selatan, area parkir disiapkan di sepanjang Jalan Dr Soetomo, kawasan ruko sebelah barat Bank Mandiri, serta lahan kosong di timur Mie Gacoan dengan kapasitas sekitar 130 kendaraan roda empat dan 400 kendaraan roda dua.
Sedangkan di sisi timur, pengunjung dapat menggunakan area jalan sebelah barat Kodim untuk kendaraan roda empat serta sejumlah titik parkir roda dua.
"Secara keseluruhan, kapasitas parkir yang disiapkan mencapai sekitar 370 kendaraan roda empat dan 700 kendaraan roda dua," ujar Krisna.
Dia mengimbau masyarakat agar memanfaatkan lokasi parkir resmi yang telah disediakan dan mengikuti arahan petugas selama acara berlangsung.
"Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketertiban, mengurangi kemacetan, dan memberikan kenyamanan bagi seluruh pengunjung selama acara berlangsung," imbaunya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pagelaran wayang kulit di Hari Bhayangkara ke-80 ini menjadi pengingat bahwa budaya tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Dan malam itu, di bawah langit Banyuwangi, kisah Pandawa kembali hidup, mengajarkan bahwa membangun negeri selalu dimulai dari nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. (ray)
Editor : Ali Sodiqin