Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mahasiswi Jerman Menangis Saat Teliti Gandrung Banyuwangi dan Suku Osing

Ali Sodiqin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 16:00 WIB
Mahasiswi Jerman memilih Banyuwangi untuk riset kesehatan holistik Suku Osing. Ia menangis saat mendengar lagu Gandrung Mak Temu. (banyuwangitourism.com)
Mahasiswi Jerman memilih Banyuwangi untuk riset kesehatan holistik Suku Osing. Ia menangis saat mendengar lagu Gandrung Mak Temu. (banyuwangitourism.com)

Riset tentang Kesehatan Holistik Membawa Merle Rappold ke Banyuwangi, Suara Mak Temu Misti Membuatnya Tersentuh hingga Menitikkan Air Mata

RADARBANYUWANGI.ID – Sebuah penelitian akademik yang awalnya dirancang untuk mengkaji kesehatan holistik berbasis budaya lokal berubah menjadi pengalaman emosional yang tak terlupakan bagi seorang mahasiswi asal Jerman. Di tengah proses risetnya di Banyuwangi, Merle Friederike Rappold tak kuasa menahan air mata saat mendengar lantunan lagu Gandrung klasik yang dibawakan langsung oleh maestro seni Banyuwangi, Mak Temu Misti.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Merle melakukan wawancara lapangan terkait budaya Suku Osing sebagai bagian dari penelitian magisternya di Dortmund University, Jerman. Momen yang semula berlangsung formal mendadak berubah menjadi suasana penuh emosi ketika Mak Temu menyanyikan lagu legendaris Banyuwangi berjudul Layar Kumendung.

Meski tidak memahami bahasa yang digunakan dalam syair lagu tersebut, Merle mengaku merasakan ikatan emosional yang kuat melalui karakter vokal dan penjiwaan sang maestro Gandrung.

"Saya merasakan koneksi yang luar biasa dengan gelombang suara Mak Temu. Meskipun saya tidak mengerti arti dari lirik lagunya, kombinasi antara melodi dan karakter suaranya benar-benar menyentuh batin saya," ujar Merle, Kamis (4/6/2026).

Siapa Merle Friederike Rappold?

Merle Friederike Rappold merupakan mahasiswa program magister Social Sustainability and Demographic Change di Dortmund University, Jerman.

Dalam studi yang sedang ia jalani, Merle menaruh perhatian khusus pada konsep ethno-healing, yakni pendekatan penyembuhan yang menggabungkan unsur budaya, spiritualitas, ritual tradisional, hubungan sosial masyarakat, serta pemanfaatan bahan-bahan alami sebagai media kesehatan.

Melalui penelitian tersebut, ia ingin memahami bagaimana praktik-praktik budaya lokal dapat berkontribusi terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan mental masyarakat modern.

Mengapa Banyuwangi Dipilih?

Di tengah banyaknya daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, Merle justru memilih Banyuwangi sebagai lokasi penelitian utama.

Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Menurutnya, Banyuwangi memiliki kombinasi unik antara kekayaan alam, tradisi budaya yang masih hidup, serta karakter sosial masyarakat yang dinilai sangat terbuka dan hangat.

Ia melihat masyarakat Banyuwangi memiliki kualitas interaksi sosial yang semakin sulit ditemukan di banyak negara modern saat ini.

"Bagi saya, kehangatan masyarakat Banyuwangi bukan sekadar budaya sosial. Ini adalah bagian penting dari kesehatan holistik karena manusia tidak hanya membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga dukungan emosional dan hubungan sosial yang sehat," katanya.

Meneliti Ethno-Healing dalam Tradisi Suku Osing

Fokus utama penelitian Merle adalah menggali konsep ethno-healing yang hidup dalam budaya Suku Osing, masyarakat adat yang menjadi identitas budaya Banyuwangi.

Dalam perspektif akademik, ethno-healing dipahami sebagai sistem penyembuhan yang berkembang dari kearifan lokal suatu komunitas.

Pendekatan ini tidak hanya melihat kesehatan sebagai kondisi fisik semata, tetapi juga mencakup keseimbangan mental, emosional, spiritual, sosial, dan lingkungan.

Merle menilai banyak praktik budaya lokal Banyuwangi yang memiliki relevansi dengan konsep kesehatan holistik yang saat ini mulai banyak dikembangkan di berbagai negara.

Tangis Haru Saat Mendengar Layar Kumendung

Momen paling berkesan selama penelitian lapangannya terjadi ketika ia bertemu Mak Temu Misti, salah satu maestro Gandrung paling dihormati di Banyuwangi.

Dalam sesi wawancara, Merle awalnya mengajukan berbagai pertanyaan mengenai makna budaya, filosofi kehidupan masyarakat Osing, hingga peran seni tradisional dalam kehidupan sosial.

Namun suasana berubah ketika Mak Temu secara spontan menyanyikan lagu Layar Kumendung.

Lagu tersebut merupakan salah satu karya klasik dalam tradisi Gandrung yang sarat makna filosofis dan emosional.

Suara khas Mak Temu yang kuat dan penuh penghayatan membuat Merle larut dalam suasana.

Air mata pun mengalir di wajahnya.

Meskipun tidak memahami isi lirik secara langsung, ia mengaku dapat merasakan energi emosional yang disampaikan melalui nada, ekspresi, dan kekuatan vokal sang maestro.

Peristiwa itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa seni tradisi memiliki kemampuan universal untuk menyentuh perasaan manusia lintas bahasa dan budaya.

Budaya sebagai Media Penyembuhan Universal

Dalam hasil pengamatan awalnya, Merle menemukan bahwa banyak unsur budaya Banyuwangi yang berpotensi menjadi referensi dalam pengembangan pendekatan kesehatan berbasis komunitas.

Ia melihat seni, ritual adat, musik tradisional, serta hubungan sosial masyarakat berperan penting dalam menciptakan keseimbangan psikologis individu.

Menurutnya, pengalaman emosional yang ia rasakan saat mendengar Gandrung menjadi bukti bahwa budaya dapat menjadi media penyembuhan yang melampaui batas geografis maupun bahasa.

"Budaya mampu menciptakan koneksi emosional yang sangat kuat. Saya merasakan sendiri bagaimana sebuah lagu yang tidak saya pahami bahasanya dapat menyentuh sisi terdalam dari diri saya," ungkapnya.

Akan Dibawa ke Forum Akademik Internasional

Melalui penelitian yang dilakukan di Banyuwangi, Merle berharap dapat memperkenalkan nilai-nilai budaya Suku Osing kepada dunia internasional.

Ia berencana menuangkan seluruh hasil kajiannya ke dalam tesis magister yang akan dipresentasikan dalam lingkungan akademik di Jerman.

Tidak hanya itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat Indonesia memiliki kontribusi penting dalam diskusi global mengenai kesehatan mental, keberlanjutan sosial, dan kesejahteraan manusia.

Baginya, Banyuwangi bukan sekadar lokasi penelitian.

Daerah di ujung timur Pulau Jawa itu telah menjadi ruang pembelajaran yang memperlihatkan bagaimana alam, budaya, dan hubungan sosial dapat bersinergi membangun kesehatan yang utuh.

Melalui riset tersebut, Merle berharap dunia semakin memahami bahwa penyembuhan tidak selalu berasal dari teknologi modern atau fasilitas medis canggih. Dalam banyak kasus, budaya, musik, tradisi, dan kehangatan manusia justru menjadi obat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan di Banyuwangi, pelajaran itu ia temukan melalui suara seorang maestro Gandrung bernama Mak Temu Misti. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Mahasiswi Jerman di Banyuwangi #Suku Osing Banyuwangi #Mak Temu Misti #Ethno Healing #gandrung banyuwangi