Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jaranan Senja di Agro Wisata Tamansuruh Diserbu Ribuan Penonton, Banyuwangi Ubah Seni Tradisi Jadi Atraksi Wisata Berkelas

Ali Sodiqin • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:00 WIB
Ribuan Wisatawan Padati Jaranan Senja di Tamansuruh, Banyuwangi Hadirkan Wajah Baru Seni Tradisi. (banyuwangitourism.com)
Ribuan Wisatawan Padati Jaranan Senja di Tamansuruh, Banyuwangi Hadirkan Wajah Baru Seni Tradisi. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Stigma bahwa Jaranan hanyalah kesenian rakyat yang identik dengan keramaian dan citra negatif perlahan mulai terkikis. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berhasil menghadirkan wajah baru seni tradisi tersebut menjadi pertunjukan budaya yang estetis, modern, dan mampu memikat ribuan pengunjung.

Transformasi itu terlihat dalam gelaran Jaranan Senja di Agro Wisata Tamansuruh (AWT), Selasa (2/6/2026). Pertunjukan yang digelar di tengah panorama perbukitan hijau tersebut menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat dan wisatawan. Tata cahaya artistik, kemegahan panggung terbuka, iringan gamelan yang menghentak, serta suasana matahari terbenam menciptakan atmosfer pertunjukan yang memukau.

Ribuan penonton memadati kawasan Agro Wisata Tamansuruh sejak sore hari. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan atraksi Jaranan, tetapi juga menikmati perpaduan harmonis antara keindahan alam Banyuwangi dengan kekayaan budaya lokal yang dikemas secara profesional.

Langkah ini menjadi salah satu inovasi terbaru Disbudpar Banyuwangi dalam mengangkat seni tradisi ke level yang lebih tinggi. Jika selama ini Jaranan lebih sering tampil di lapangan terbuka, jalan desa, atau lingkungan kampung, kini kesenian tersebut diposisikan sebagai atraksi wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pemilihan Agro Wisata Tamansuruh sebagai lokasi pertunjukan juga bukan tanpa alasan. Destinasi yang merupakan aset strategis milik Pemkab Banyuwangi tersebut saat ini tengah dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu.

Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas dalam satu kawasan, mulai wisata alam, berkuda, wahana ATV, kuliner khas daerah, hingga sajian seni budaya. Kehadiran pertunjukan Jaranan Senja semakin memperkuat identitas AWT sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman lengkap.

Suasana semakin semarak ketika grup Jaranan Bhagaskara memasuki arena pertunjukan. Sorak penonton dan tepuk tangan bergemuruh menyambut para penari yang tampil energik dengan gerakan khas Jaranan.

Dentuman gamelan yang berpadu dengan tata lampu panggung menghasilkan nuansa magis yang membuat ribuan pengunjung larut dalam setiap adegan yang disajikan. Atraksi khas Jaranan yang selama ini dikenal masyarakat tampil lebih tertata, elegan, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang menjadi ruh kesenian tersebut.

Salah seorang penari, Panji, mengaku bangga melihat seni Jaranan mendapatkan ruang pertunjukan yang lebih terhormat dan profesional.

Menurutnya, apresiasi masyarakat yang tinggi menjadi motivasi besar bagi para pelaku seni untuk terus menjaga dan melestarikan budaya daerah.

“Jaranan yang selama ini sering dipandang sebelah mata ternyata bisa tampil sangat indah dan berkelas. Kami bangga karena budaya yang kami cintai mendapat tempat yang layak dan diapresiasi masyarakat,” ujarnya.

Kekaguman juga datang dari para pengunjung. Vidya, wisatawan asal Srono yang datang bersama keluarganya, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda dibanding saat menyaksikan pertunjukan Jaranan pada umumnya.

Ia menilai konsep yang dihadirkan Disbudpar Banyuwangi berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesenian tradisional tersebut.

“Biasanya saya melihat Jaranan di lapangan atau di jalan. Tapi malam ini berbeda sekali. Dengan latar perbukitan, lampu-lampu yang cantik, suasana yang tertata, ditambah bisa berinteraksi langsung dengan para penari, rasanya sangat berkesan,” katanya.

Menurut Vidya, konsep seperti ini dapat menjadi daya tarik baru bagi sektor pariwisata Banyuwangi.

“Ini bisa menjadi alasan wisatawan datang ke Banyuwangi, bukan hanya menikmati alamnya tetapi juga budayanya,” imbuhnya.

Antusiasme masyarakat yang membludak menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki daya tarik kuat apabila dikemas dengan pendekatan kreatif dan mengikuti perkembangan industri pariwisata.

Jaranan yang sebelumnya hanya diposisikan sebagai hiburan rakyat kini berkembang menjadi atraksi budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.

Konsep tersebut juga membuka peluang baru bagi para seniman lokal untuk mendapatkan ruang ekspresi yang lebih luas serta meningkatkan kesejahteraan pelaku seni melalui sektor pariwisata.

Melihat tingginya animo masyarakat, Disbudpar Banyuwangi berencana menjadikan Jaranan Senja sebagai agenda rutin yang digelar setiap awal bulan di Agro Wisata Tamansuruh.

Program ini diproyeksikan menjadi salah satu atraksi unggulan yang masuk dalam kalender wisata Banyuwangi dan menjadi destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke ujung timur Pulau Jawa.

Keberhasilan Jaranan Senja sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh perkembangan zaman. Dengan sentuhan kreativitas, inovasi, dan manajemen pertunjukan yang profesional, seni budaya lokal dapat tampil lebih modern tanpa kehilangan identitas aslinya.

Di panggung Agro Wisata Tamansuruh, Banyuwangi kembali menunjukkan kemampuannya mengolah warisan budaya menjadi kekuatan pariwisata. Saat senja mulai turun di kaki perbukitan, Jaranan tak lagi sekadar tontonan rakyat, melainkan simbol kebanggaan daerah yang mampu menyatukan budaya, wisata, dan pergerakan ekonomi masyarakat dalam satu panggung yang memukau. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #Agro Wisata Tamansuruh #Jaranan Senja Banyuwangi #Jaranan Bhagaskara #Disbudpar Banyuwangi