Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang, Dua Ritual Sakral Banyuwangi yang Sama-sama Kerbau Jadi-Jadian tetapi Berbeda Makna

Ali Sodiqin • Rabu, 3 Juni 2026 | 10:04 WIB
Suasana tradisi Keboan yang digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)
Suasana tradisi Keboan yang digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Setiap memasuki bulan Suro, dua desa di Banyuwangi, Banyuwangi, berubah menjadi panggung budaya yang sarat nuansa mistis dan spiritual. Warga berlarian di tengah lumpur, saling menyiram air, berteriak histeris, sementara puluhan pria bertubuh hitam legam dengan tanduk kerbau bertingkah layaknya hewan yang sedang membajak sawah.

Bagi wisatawan, pemandangan itu mungkin terlihat sama. Namun bagi masyarakat adat Banyuwangi, terdapat perbedaan mendasar antara ritual Keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, dan Kebo-Keboan di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.

Meski sama-sama menghadirkan manusia yang berubah menjadi "kerbau jadi-jadian", kedua tradisi tersebut lahir dari sejarah, keyakinan, serta tata ritual yang berbeda.

Menurut Budayawan Banyuwangi yang kini sudah almarhum, Hasnan Singodimayan pernah mengatakan, bahwa masyarakat kerap menyamakan dua ritual tersebut. Padahal secara tradisi, keduanya memiliki karakter yang berbeda.

"Yang di Aliyan namanya Keboan, bukan Kebo-Keboan. Sedangkan Kebo-Keboan lebih dikenal di Alasmalang," ujarnya, saat itu.

Sama-sama Kerbau Jadi-Jadian

Keboan maupun Kebo-Keboan merupakan ritual agraris masyarakat Osing yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan desa, keberlimpahan hasil panen, serta permohonan agar masyarakat terhindar dari bencana dan wabah penyakit.

Menariknya, dalam kedua ritual tersebut tidak ada seekor kerbau asli yang digunakan.

Suasana tradisi Kebo-Keboan yang digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)
Suasana tradisi Kebo-Keboan yang digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)

Tokoh utama ritual justru manusia yang dirias menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri warna hitam, mengenakan tanduk, lonceng, dan berbagai atribut yang membuat penampilannya menyerupai kerbau sungguhan.

Saat ritual berlangsung, para pemeran tidak lagi berperilaku seperti manusia biasa.

Mereka membajak sawah, berkubang di lumpur, menyeruduk warga, hingga mengeluarkan suara yang menyerupai kerbau.

Namun di balik kemiripan visual itu, terdapat perbedaan filosofi yang cukup tajam.

Keboan Aliyan: Dipilih Langsung oleh Leluhur

Dalam tradisi Keboan Desa Aliyan, siapa yang akan menjadi "kerbau" tidak pernah ditentukan oleh panitia atau pemuka adat.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, para pemeran dipilih langsung oleh roh leluhur desa.

Beberapa hari bahkan semalam sebelum ritual berlangsung, warga yang terpilih diyakini mulai mengalami tanda-tanda kesurupan.

Saat roh leluhur masuk ke dalam tubuh mereka, perilaku yang muncul berubah drastis.

Mereka mulai berjalan seperti kerbau, berbicara tidak jelas, bergerak liar, bahkan sulit dikendalikan keluarga.

"Hampir semua pemain Keboan di Aliyan mengalami kesurupan roh leluhur. Kalau di Alasmalang tidak semuanya mengalami kondisi seperti itu," kata Hasnan.

Karena dipilih oleh leluhur, jumlah pemeran Keboan Aliyan tidak pernah pasti.

Tahun tertentu bisa puluhan orang yang terpilih. Tahun berikutnya jumlahnya dapat berkurang drastis.

Berawal dari Wangsit Buyut Wongso Kenongo

Sejarah Keboan Aliyan dipercaya berawal pada abad ke-18.

Konon pendiri Desa Aliyan, Buyut Wongso Kenongo, mendapatkan wangsit agar masyarakat menggelar ritual Keboan sebagai sarana tolak bala.

Wangsit tersebut muncul setelah desa mengalami berbagai gangguan yang diyakini berasal dari kekuatan gaib maupun ancaman gagal panen.

Sejak saat itu ritual Keboan dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan keselamatan bagi seluruh warga.

Dalam perkembangannya, ritual ini juga berkaitan dengan dua garis keturunan besar masyarakat Aliyan, yakni keturunan Buyut Pekik dan Buyut Turi.

Hingga kini, jalur arak-arakan Keboan masih mengikuti jejak historis kedua leluhur tersebut.

Keboan dari wilayah Sukodono bergerak menuju makam Buyut Turi, sedangkan kelompok dari Aliyan Krajan menuju makam Buyut Pekik.

Kubangan Lumpur dan Air Selokan

Salah satu adegan paling ikonik dalam ritual Keboan Aliyan adalah kubangan lumpur.

Para "kerbau jadi-jadian" akan berlarian menuju kubangan, lalu berguling-guling dan berkubang seperti kerbau sungguhan.

Tak jarang mereka menarik warga untuk ikut tercebur ke dalam lumpur.

Menariknya, tidak ada warga yang marah.

Justru hal tersebut dipercaya sebagai bagian dari berkah ritual.

Tradisi saling menyiram air selokan juga menjadi bagian penting dalam prosesi.

Siapa pun yang terkena siraman air tidak diperbolehkan marah.

Sebaliknya, mereka dianjurkan membalas dengan menyiramkan air kepada warga lainnya.

Suasana yang semula sakral kemudian berubah menjadi pesta rakyat yang penuh kegembiraan.

Kebo-Keboan Alasmalang Lahir karena Pagebluk

Berbeda dengan Aliyan, sejarah Kebo-Keboan Alasmalang berawal dari kisah pagebluk atau wabah penyakit yang melanda Dusun Krajan pada masa lampau.

Saat itu masyarakat mengalami gagal panen, serangan hama, dan wabah misterius yang menyebabkan banyak warga meninggal dunia.

Dalam kondisi genting tersebut, seorang sesepuh desa bernama Mbah Karti melakukan tapa dan meditasi.

Dari hasil semedinya, ia memperoleh petunjuk agar masyarakat menggelar ritual Kebo-Keboan dan memuliakan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.

Konon setelah ritual pertama dilaksanakan, wabah penyakit menghilang dan panen kembali melimpah.

Sejak saat itulah tradisi Kebo-Keboan Alasmalang diwariskan hingga sekarang.

Pemeran Dipilih oleh Pemuka Adat

Perbedaan paling mencolok terletak pada mekanisme pemilihan pemeran.

Jika di Aliyan dipilih langsung oleh leluhur, di Alasmalang para pemeran ditentukan oleh pemuka adat.

Jumlahnya pun relatif tetap.

Biasanya terdapat sekitar 18 orang yang berperan sebagai Kebo-Keboan.

Mereka dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ritual.

Selain pemeran kerbau, pemuka adat juga menentukan siapa yang akan memerankan Dewi Sri.

Tokoh Dewi Sri memiliki posisi penting karena melambangkan kemakmuran dan kesuburan hasil pertanian.

Ider Bumi dan Simulasi Bertani

Puncak ritual Kebo-Keboan Alasmalang diawali dengan prosesi ider bumi atau mengelilingi dusun.

Arak-arakan melibatkan sesepuh adat, pawang, pemain hadrah, barong, pembawa sesaji, hingga para pemeran Kebo-Keboan.

Prosesi kemudian menuju bendungan yang menjadi simbol sumber kehidupan masyarakat agraris.

Air bendungan dialirkan ke sepanjang jalan desa yang sebelumnya ditanami berbagai tanaman palawija.

Setelah itu, para pemeran Kebo-Keboan turun ke sawah dan memperagakan aktivitas kerbau yang sedang membajak lahan.

Mereka berkubang, mengamuk, dan mengejar warga yang berebut benih padi.

Benih tersebut dipercaya membawa keberuntungan, menolak bala, serta mendatangkan hasil panen yang melimpah.

Warisan Budaya yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Di tengah derasnya arus modernisasi, Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi.

Bukan sekadar tontonan wisata, ritual tersebut menjadi cermin hubungan erat antara manusia, alam, leluhur, dan keyakinan masyarakat agraris Osing.

Setiap tahun ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan keunikan tradisi tersebut.

Namun bagi warga setempat, Keboan dan Kebo-Keboan bukanlah atraksi.

Keduanya adalah doa yang diwujudkan dalam bentuk budaya.

Sebuah pengingat bahwa di tengah kemajuan zaman, masyarakat Banyuwangi masih menjaga warisan leluhur yang telah hidup selama ratusan tahun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi Banyuwangi #ritual adat Banyuwangi #Kebo-Keboan Alasmalang #keboan aliyan #budaya osing