Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi Kembali Digelar, Ribuan Wisatawan Saksikan Tarian Trance Berusia Ratusan Tahun

Ali Sodiqin • Rabu, 3 Juni 2026 | 13:00 WIB
Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi kembali digelar. (banyuwangitourism.com)
Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi kembali digelar. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Ketika malam mulai turun di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, ribuan obor menyala serentak menerangi jalan-jalan desa. Di tengah lantunan doa, aroma pecel pithik yang tersaji dalam kenduri massal, dan denting gamelan yang mulai menggema, masyarakat Osing kembali menghidupkan salah satu tradisi paling sakral di Banyuwangi: Seblang Bakungan.

Ritual yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1639 itu kembali digelar dan sukses menyedot perhatian ribuan wisatawan yang memanfaatkan libur panjang Idul Adha untuk berkunjung ke Banyuwangi. Tidak hanya wisatawan domestik, sejumlah turis mancanegara juga terlihat memadati lokasi untuk menyaksikan langsung tradisi budaya yang langka dan sarat nilai spiritual tersebut.

Seblang Bakungan bukan sekadar pertunjukan seni. Bagi masyarakat Osing, ritual ini merupakan warisan leluhur yang berfungsi sebagai sarana bersih desa, tolak bala, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan keberkahan yang diberikan kepada warga.

Dimulai dengan Doa dan Ider Bumi

Prosesi ritual Seblang Bakungan dimulai sejak sore hari. Warga setempat terlebih dahulu melaksanakan salat Magrib dan salat hajat berjamaah di masjid sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon keselamatan bagi seluruh warga desa.

Usai berdoa bersama, suasana desa berubah menjadi lebih khidmat. Ribuan warga membawa obor dan mengikuti tradisi ider bumi atau berkeliling kampung. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Setelah prosesi keliling desa selesai, warga dan para pengunjung berkumpul di sepanjang jalan untuk mengikuti kenduri massal. Sajian utama yang wajib hadir dalam ritual tersebut adalah pecel pithik, kuliner khas masyarakat Osing yang terbuat dari ayam kampung berbumbu kelapa parut dan rempah-rempah tradisional.

Momen itu menjadi simbol kebersamaan sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat yang selama ratusan tahun menjaga tradisi Seblang tetap hidup.

Tarian Sakral dalam Kondisi Trance

Puncak ritual berlangsung ketika penari Seblang mulai memasuki arena pertunjukan.

Tahun ini, ritual dipimpin oleh Isni, perempuan berusia 54 tahun yang kembali dipercaya menjadi penari Seblang untuk tahun ketiga berturut-turut.

Berbeda dengan pertunjukan tari pada umumnya, Seblang Bakungan dibawakan dalam kondisi trance atau tidak sadarkan diri. Masyarakat Osing meyakini penari yang terpilih akan dirasuki roh leluhur sehingga mampu menjalankan ritual yang dianggap sakral tersebut.

Ketika gamelan mulai memainkan gending-gending klasik seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto, Isni perlahan memasuki kondisi trans. Dengan mata terpejam dan ekspresi yang berubah, ia menari mengikuti irama musik tradisional yang dimainkan tanpa henti.

Gerakan-gerakan yang muncul terlihat mengalir secara alami, seolah mengikuti kekuatan yang tidak kasat mata. Suasana magis yang tercipta membuat ribuan pengunjung larut dalam kekhusyukan dan rasa takjub.

Banyak pengunjung terlihat mengabadikan momen tersebut. Namun tidak sedikit pula yang memilih duduk diam menikmati prosesi yang jarang ditemukan di tempat lain.

Wisatawan Mancanegara Terpukau

Keunikan Seblang Bakungan tidak hanya memikat wisatawan lokal. Sejumlah turis asing yang hadir mengaku terkesan dengan kekayaan budaya Banyuwangi yang masih terjaga hingga saat ini.

Salah satunya adalah Gergo Zalatnai, wisatawan asal Hungaria yang untuk pertama kalinya menyaksikan ritual Seblang secara langsung.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen budaya paling unik yang pernah ia lihat selama berkunjung ke Indonesia.

"Unik sekali. Penarinya paruh baya dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru itu yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain," ujarnya.

Kekaguman serupa juga disampaikan Riski, wisatawan asal Yogyakarta. Ia sengaja datang ke Banyuwangi setelah mengetahui jadwal pelaksanaan Seblang Bakungan.

Selain terpikat oleh unsur mistis dan nilai budaya yang kuat, Riski mengaku terkesan dengan keterlibatan seluruh warga dalam menjaga kelangsungan tradisi tersebut.

"Yang menarik bukan hanya tariannya, tapi juga kekompakan masyarakatnya. Semua warga ikut terlibat dan menjaga tradisi ini bersama-sama," katanya.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut hadir dalam pelaksanaan ritual memberikan apresiasi kepada masyarakat Bakungan yang tetap konsisten melestarikan tradisi leluhur di tengah derasnya modernisasi.

Menurut Ipuk, Seblang bukan hanya aset budaya masyarakat Osing, tetapi juga identitas penting Banyuwangi yang memiliki nilai sejarah dan daya tarik wisata budaya yang sangat kuat.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kata dia, berkomitmen terus mendukung pelestarian ritual Seblang agar tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.

"Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Ini menjadi kekayaan Banyuwangi yang harus terus dilestarikan," ujarnya.

Hanya Ada di Dua Tempat di Banyuwangi

Seblang merupakan tradisi yang sangat khas dan hanya dapat ditemukan di dua wilayah di Banyuwangi.

Pertama adalah Seblang Bakungan yang digelar setiap bulan Dzulhijjah atau sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha. Penarinya merupakan perempuan paruh baya yang dipilih berdasarkan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.

Sedangkan yang kedua adalah Seblang Olehsari yang digelar setiap selesai Hari Raya Idul Fitri. Berbeda dengan Bakungan, penari Seblang Olehsari merupakan remaja perempuan yang belum akil balig.

Meski memiliki perbedaan dalam pelaksanaan dan karakter penarinya, kedua ritual tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keseimbangan hidup masyarakat serta melestarikan nilai-nilai budaya leluhur.

Magnet Wisata Budaya Banyuwangi

Di tengah berkembangnya wisata modern, Seblang Bakungan membuktikan bahwa kekuatan budaya lokal masih menjadi magnet utama bagi wisatawan.

Ribuan pengunjung yang memadati lokasi selama libur panjang menjadi bukti bahwa wisata berbasis tradisi memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dapat digantikan oleh atraksi buatan.

Bagi Banyuwangi, Seblang bukan hanya ritual sakral masyarakat Osing. Lebih dari itu, tradisi ini telah menjelma menjadi simbol identitas daerah sekaligus etalase budaya yang memperkenalkan kekayaan warisan leluhur kepada dunia.

Ketika gamelan berhenti dimainkan dan obor-obor mulai padam menjelang tengah malam, satu hal kembali terbukti: tradisi yang telah bertahan hampir empat abad itu masih hidup, dijaga, dan dicintai oleh masyarakatnya. Sebuah warisan budaya yang terus berdetak di jantung Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #tradisi Banyuwangi #ritual Seblang Banyuwangi #Seblang Bakungan #suku osing