RADARBANYUWANGI.ID – Suasana berbeda menyelimuti Dusun Sukodono, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Senin malam (1/6). Di saat sebagian warga bersiap beristirahat usai menunaikan salat Isya, puluhan warga justru berkumpul menyaksikan fenomena yang telah lama menjadi bagian dari rangkaian tradisi Kebo-Keboan Aliyan.
Sejumlah warga mengalami trance atau kesurupan secara bersamaan, menandai semakin dekatnya pelaksanaan ritual adat yang menjadi warisan budaya turun-temurun masyarakat setempat.
Fenomena tersebut sontak menarik perhatian warga. Beberapa peserta ritual tampak menunjukkan perilaku yang tidak biasa dan menirukan gerakan menyerupai kerbau, simbol utama dalam tradisi Kebo-Keboan yang telah dikenal luas sebagai salah satu ritual agraris khas Banyuwangi.
Bagi masyarakat Aliyan, peristiwa semacam itu bukanlah hal baru. Justru, kondisi trance yang dialami sebagian pelaku ritual kerap muncul menjelang pelaksanaan tradisi tahunan tersebut.
Kepala Desa Aliyan Agus Nur Bani Yusuf membenarkan adanya kejadian trance massal yang terjadi pada Senin malam.
Menurut dia, fenomena tersebut merupakan bagian yang kerap menyertai rangkaian persiapan ritual Kebo-Keboan setiap tahun.
“Biasanya memang pelaku ritual mengalami trance ketika menjelang ritual. Namun tadi malam yang mengalami cukup banyak sehingga terlihat ramai. Karena ramai, beberapa gamelan kemudian dibunyikan untuk mengiringinya,” ujarnya.
Biasanya Terjadi Bertahap, Kali Ini Muncul Bersamaan
Agus menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya warga yang mengalami trance biasanya hanya satu atau dua orang dalam satu waktu.
Fenomena itu dapat terjadi secara bertahap selama beberapa hari menjelang ritual adat berlangsung.
Namun kali ini jumlah warga yang mengalami kondisi serupa dalam waktu hampir bersamaan terbilang lebih banyak dibanding biasanya sehingga menarik perhatian masyarakat.
“Kalau normal biasanya hanya satu atau dua orang. Tetapi hampir setiap hari ada yang mengalami trance menjelang ritual. Waktunya juga tidak menentu, bisa siang atau malam,” katanya.
Ia mengaku sudah terbiasa menerima laporan warga kapan saja ketika memasuki masa-masa menjelang pelaksanaan Kebo-Keboan.
Bahkan tidak jarang warga datang ke rumahnya pada dini hari untuk melaporkan kejadian serupa.
“Kadang ada warga yang mengetuk pintu rumah saya jam dua atau jam tiga pagi ketika menjelang ritual,” ujarnya.
Pelaku Ritual Berasal dari Tujuh Dusun
Desa Aliyan terdiri atas tujuh dusun yang seluruhnya terlibat dalam pelaksanaan ritual Kebo-Keboan.
Masing-masing dusun memiliki kelompok pelaku ritual yang secara turun-temurun mengikuti prosesi adat tersebut.
Menurut Agus, setiap dusun rata-rata memiliki sekitar sepuluh orang pelaku ritual yang terlibat dalam berbagai tahapan kegiatan.
Ketika ada peserta yang mengalami trance, biasanya mereka akan dibawa kepada tokoh adat atau sesepuh desa untuk mendapatkan pendampingan dan penanganan sesuai tradisi yang berlaku di masyarakat setempat.
“Pelaku yang mengalami trance biasanya dibawa ke sesepuh untuk ditangani,” jelasnya.
Tradisi Agraris yang Bertahan Lintas Generasi
Ritual Kebo-Keboan Aliyan merupakan salah satu tradisi budaya paling dikenal di Banyuwangi.
Tradisi ini lahir dari kehidupan agraris masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah warga akan berdandan menyerupai kerbau dan mengikuti berbagai rangkaian prosesi adat yang sarat simbol serta filosofi kehidupan petani.
Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat sekaligus doa bersama agar desa terhindar dari berbagai bencana, wabah penyakit, dan ancaman gagal panen pada musim berikutnya.
“Ritual ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa tolak bala agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan,” terang Agus.
Digelar 20 Juni Mendatang
Tahun ini, ritual Kebo-Keboan Aliyan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 20 Juni mendatang.
Berbagai persiapan telah dilakukan oleh masyarakat dan panitia adat untuk menyambut pelaksanaan tradisi yang selalu menarik perhatian ribuan pengunjung tersebut.
Selain menjadi ritual budaya masyarakat lokal, Kebo-Keboan juga telah berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Banyuwangi yang dikenal hingga tingkat nasional.
Setiap tahun, wisatawan, peneliti budaya, fotografer, hingga pegiat seni datang untuk menyaksikan langsung prosesi yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal tersebut.
Agus berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar serta tetap menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
“Ritual ini sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan mungkin lebih lama dari itu. Harapannya tradisi ini tetap lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Fenomena trance yang muncul menjelang Kebo-Keboan Aliyan menjadi bagian dari dinamika budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Bagi warga setempat, peristiwa tersebut bukan sekadar kejadian tahunan, melainkan penanda bahwa salah satu tradisi agraris paling tua di Banyuwangi kembali memasuki puncak perayaannya. (why)
Editor : Ali Sodiqin