Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bertahan Sejak 1639, Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi Tetap Eksis di Tengah Modernisasi, Penari Menari dalam Kondisi Trance

M Ksatria Raya • Selasa, 2 Juni 2026 | 07:30 WIB
PENUH AROMA MISTIS: Isni menari diikuti alunan gending tradisional dalam ritual Seblang Bakungan yang digelar Minggu (31/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PENUH AROMA MISTIS: Isni menari diikuti alunan gending tradisional dalam ritual Seblang Bakungan yang digelar Minggu (31/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggerus banyak tradisi lokal, masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, membuktikan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat terhormat. Ritual Seblang Bakungan yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1639 kembali digelar dengan khidmat dan penuh kekuatan spiritual, Minggu (31/5).

Tradisi sakral yang telah bertahan hampir empat abad tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya. Bagi warga Bakungan, Seblang merupakan ritual adat yang menjadi simbol hubungan antara manusia, leluhur, dan alam semesta sekaligus wujud syukur atas kehidupan yang diberikan Sang Pencipta.

Rangkaian ritual dimulai sejak petang. Warga terlebih dahulu melaksanakan salat magrib dan salat hajat berjamaah di masjid setempat. Setelah itu, masyarakat berkumpul dalam kenduri massal yang digelar di sepanjang jalan kampung.

Suasana kebersamaan begitu terasa ketika ratusan warga duduk berjejer menikmati hidangan tradisional yang telah disiapkan secara gotong royong. Tumpeng dan pecel pithik, kuliner khas masyarakat Osing, menjadi sajian utama yang dinikmati bersama.

Malam semakin larut ketika prosesi ider bumi dimulai. Warga membawa oncor atau obor menyusuri jalan-jalan kampung mengelilingi wilayah Bakungan. Cahaya api yang berpendar di tengah gelap malam menciptakan suasana sakral yang menjadi ciri khas pelaksanaan Seblang dari masa ke masa.

Tradisi tersebut menjadi bagian penting yang tidak pernah terpisahkan dari ritual Seblang. Selain memiliki nilai spiritual, prosesi itu juga memperkuat ikatan sosial masyarakat yang selama ratusan tahun menjaga tradisi leluhur secara kolektif.

Puncak acara berlangsung ketika Isni, 54, memasuki arena ritual. Perempuan yang kembali dipercaya menjadi penari Seblang untuk ketiga kalinya itu kemudian menari dalam kondisi trance atau tidak sadar.

Dengan mata terpejam, Isni bergerak mengikuti irama gending tradisional yang dimainkan secara langsung oleh para pengrawit. Alunan lagu-lagu sakral seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto mengiringi setiap gerakannya.

Bagi masyarakat Osing, kondisi trance yang dialami penari Seblang bukan sekadar fenomena biasa. Mereka meyakini pada saat itu penari sedang dirasuki roh leluhur yang hadir untuk memberkati jalannya ritual.

Ratusan warga dan wisatawan yang memadati lokasi tampak larut dalam suasana magis yang menyelimuti prosesi tersebut. Tidak sedikit yang mengabadikan momen langka itu melalui kamera maupun telepon genggam.

Keunikan Seblang Bakungan bahkan berhasil menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Salah satunya adalah wisatawan asal Hungaria, Gergo Zalatnai. Ia mengaku takjub setelah menyaksikan langsung ritual yang selama ini hanya diketahuinya melalui informasi di internet.

“Unik. Penarinya paruh baya, dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain,” ujarnya.

Kesan serupa disampaikan Riski, wisatawan asal Yogyakarta yang sengaja datang ke Banyuwangi untuk menyaksikan ritual Seblang secara langsung.

“Saya sangat terkesan nonton Seblang, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya,” katanya.

Seblang merupakan salah satu tradisi paling tua yang masih bertahan di Banyuwangi. Hingga kini ritual tersebut hanya dapat dijumpai di dua wilayah basis masyarakat Osing, yakni Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari.

Meski memiliki akar budaya yang sama, keduanya memiliki karakteristik berbeda.

Seblang Bakungan diselenggarakan setiap bulan Dzulhijah dengan penari perempuan paruh baya yang dipilih melalui mekanisme adat. Sementara Seblang Olehsari digelar setelah Idul Fitri dan dibawakan oleh penari perempuan yang masih berusia muda.

Perbedaan tersebut justru memperkaya khazanah budaya masyarakat Osing yang hingga kini masih terjaga dengan baik.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memberikan apresiasi atas konsistensi warga Bakungan dalam menjaga tradisi leluhur yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Menurutnya, keberlangsungan Seblang tidak hanya penting sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga memiliki nilai sosial yang besar bagi masyarakat.

“Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga,” ujarnya.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, Seblang Bakungan menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman. Dengan semangat gotong royong yang terus hidup, masyarakat Osing berhasil menjaga salah satu ritual tertua di Banyuwangi tetap lestari sejak 1639 hingga hari ini.

Bahkan, keberadaan Seblang kini tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Bakungan, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan nasional maupun mancanegara untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi Banyuwangi. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #Seblang Bakungan Banyuwangi #Ritual Seblang 1639 #Tradisi Osing Banyuwangi #Seblang Kelurahan Bakungan