Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Libur Iduladha 2026 di Banyuwangi Makin Magis, Tradisi Mencak Sumping Mondoluko Jadi Buruan Wisatawan

Ali Sodiqin • Kamis, 28 Mei 2026 | 06:30 WIB
Tradisi Mencak Sumping di Banyuwangi kembali digelar saat Iduladha 2026. Atraksi silat magis ini jadi daya tarik wisata budaya unik. (banyuwangitourism.com)
Tradisi Mencak Sumping di Banyuwangi kembali digelar saat Iduladha 2026. Atraksi silat magis ini jadi daya tarik wisata budaya unik. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Libur panjang Iduladha 2026 menjadi momentum istimewa bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman budaya berbeda di Banyuwangi. Di tengah suasana Lebaran Kurban, masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, kembali menggelar tradisi unik nan magis bernama Mencak Sumping atau Pencak Sumping, Rabu (27/5/2026).

Tradisi turun-temurun ini tak sekadar menjadi hiburan rakyat biasa. Mencak Sumping telah menjelma menjadi atraksi wisata budaya khas Banyuwangi yang mampu memikat perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara karena keunikan ritual, nuansa mistis, dan aksi pencak silat tradisional yang penuh energi.

Setiap kali digelar, kawasan Dusun Mondoluko selalu dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung pertunjukan para pendekar lintas generasi menampilkan jurus-jurus silat diiringi musik tradisional khas Bumi Blambangan.

Suasana magis langsung terasa begitu tabuhan alat musik mulai menggema. Riuh penonton bercampur dentingan irama tradisional menciptakan atmosfer budaya yang sulit ditemukan di daerah lain.

Mencak Sumping Jadi Ikon Wisata Budaya Banyuwangi

Mencak Sumping bukan sekadar pertunjukan seni bela diri. Tradisi ini menjadi simbol identitas budaya masyarakat Mondoluko yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur.

Dalam pertunjukan tersebut, para pendekar tampil memperagakan teknik bela diri menggunakan tangan kosong maupun senjata tajam secara atraktif dan menegangkan.

Menariknya, seluruh lapisan masyarakat ikut ambil bagian dalam tradisi ini. Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia tampil bersama menunjukkan kemampuan silat mereka.

Tak hanya laki-laki, sejumlah perempuan juga turut memperagakan jurus-jurus pencak silat dengan lincah dan penuh percaya diri.

Perpaduan antara seni bela diri, musik tradisional, dan semangat kebersamaan warga menjadikan Mencak Sumping sebagai salah satu agenda budaya paling dinanti setiap momentum Iduladha di Banyuwangi.

Berawal dari Sejarah Perlawanan di Mondoluko

Di balik kemeriahan tradisi Mencak Sumping, tersimpan kisah sejarah panjang yang melekat kuat dengan asal-usul Dusun Mondoluko.

Konon pada masa penjajahan Belanda, terdapat seorang tokoh masyarakat bernama Buyut Ido yang terlibat dalam pertempuran melawan penjajah.

Dalam pertempuran tersebut, Buyut Ido mengalami luka parah hingga tubuhnya terkoyak atau dalam bahasa lokal disebut “modol-modol” dan “luko”.

Dari kisah itulah kemudian muncul nama Mondoluko yang kini menjadi identitas dusun tempat tradisi tersebut terus dilestarikan.

Cerita sejarah tersebut dipercaya masyarakat menjadi semangat lahirnya tradisi pencak silat sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan perlawanan warga terhadap penjajahan.

Kue Sumping Jadi Simbol Perdamaian Antarpendekar

Salah satu bagian paling unik dalam tradisi ini adalah keberadaan kue sumping yang menjadi ciri khas utama acara.

Sumping merupakan kudapan tradisional berbahan dasar pisang yang dibungkus adonan tepung lalu dikukus, sekilas mirip nagasari.

Namun dalam tradisi Mencak Sumping, kue tersebut bukan sekadar makanan ringan bagi tamu undangan.

Kue sumping justru digunakan langsung dalam atraksi silat sebagai simbol kemenangan sekaligus penghormatan antarpendekar.

Pendekar yang menang dalam pertarungan akan ‘menyumpal’ mulut lawannya menggunakan kue sumping.

Meski terdengar unik dan mengundang tawa penonton, aksi tersebut memiliki filosofi mendalam sebagai simbol perdamaian agar tidak ada dendam usai pertarungan selesai.

Tradisi itu menjadi bentuk penghormatan antarpendekar sekaligus pesan bahwa pertarungan hanya bagian dari seni budaya, bukan ajang permusuhan.

Jadi Daya Tarik Wisata Saat Libur Panjang Iduladha

Tradisi Mencak Sumping kini tidak hanya menjadi milik warga Mondoluko, tetapi juga telah berkembang menjadi magnet wisata budaya Banyuwangi.

Banyak wisatawan sengaja datang saat libur Iduladha untuk menyaksikan langsung ritual budaya yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal tersebut.

Keunikan perpaduan seni bela diri, musik tradisional, kuliner khas, dan kisah sejarah lokal membuat Mencak Sumping menjadi pengalaman wisata yang berbeda dibanding destinasi lain.

Momentum libur panjang Iduladha 2026 pun dimanfaatkan masyarakat setempat untuk memperkenalkan budaya asli Banyuwangi kepada wisatawan yang datang dari berbagai daerah.

Dengan terus dilestarikan setiap tahun, tradisi Mencak Sumping menjadi bukti kuat bahwa Banyuwangi tidak pernah kehabisan pesona budaya yang unik, autentik, dan penuh cerita. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #Mencak Sumping #tradisi Mondoluko #Iduladha Banyuwangi #pencak silat tradisional