Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Festival Tumpeng Sewu Kemiren Banyuwangi Dibanjiri Wisatawan, Tradisi Oseng Sarat Gotong Royong

M Ksatria Raya • Senin, 25 Mei 2026 | 04:15 WIB
Sejumlah turis asing ikut menikmati nasi tumpeng di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah pada Kamis malam (21/5). (Dini for Radar Banyuwangi)
Sejumlah turis asing ikut menikmati nasi tumpeng di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah pada Kamis malam (21/5). (Dini for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Ribuan warga dan wisatawan memadati sepanjang jalan adat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis malam (21/5). Mereka larut dalam kemeriahan Festival Tumpeng Sewu, tradisi tahunan masyarakat Oseng yang bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol kuatnya gotong royong dan solidaritas sosial yang masih terjaga hingga kini.

Di bawah cahaya lampu sepanjang jalan desa, ribuan tumpeng berjajar rapi di depan rumah-rumah warga. Aroma pecel pitik khas Oseng bercampur suasana hangat kebersamaan menciptakan pengalaman budaya yang memikat perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara.

Tradisi Tumpeng Sewu tahun ini kembali digelar meriah dengan rangkaian ritual adat yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Kegiatan diawali dengan ritual mepe kasur atau menjemur kasur khas warga Oseng sejak Kamis pagi. Kasur-kasur berwarna merah dan hitam dijemur berjajar di depan rumah warga sebagai simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk.

Selain itu, warga juga menggelar Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk. Tradisi membaca naskah kuno yang berisi kisah Nabi Yusuf tersebut dipercaya sebagai bentuk doa keselamatan dan tolak bala bagi masyarakat desa.

Puncak acara berlangsung pada Kamis malam melalui tradisi makan tumpeng bersama yang menjadi inti Festival Tumpeng Sewu. Ribuan warga duduk berjajar bersama wisatawan menikmati sajian khas Oseng dalam suasana guyub tanpa sekat.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir langsung dalam acara tersebut menilai Tumpeng Sewu menjadi salah satu kekuatan budaya lokal yang dimiliki Banyuwangi. Menurut dia, tradisi masyarakat Oseng Kemiren mencerminkan nilai gotong royong yang semakin langka ditemukan di daerah lain.

“Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ujarnya.

Ipuk juga mengapresiasi kekompakan warga Desa Kemiren yang secara sukarela menyiapkan ribuan tumpeng untuk dinikmati bersama-sama. Menurutnya, keterlibatan masyarakat secara penuh dalam tradisi tersebut menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial masyarakat adat Oseng.

Tradisi Tumpeng Sewu sendiri merupakan ritual turun-temurun masyarakat Oseng sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki selama setahun terakhir. Tradisi tersebut rutin digelar setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Adha.

Dalam pelaksanaannya, warga menyajikan tumpeng lengkap dengan lauk khas Oseng berupa pecel pitik dan aneka lalapan. Pecel pitik menjadi menu wajib dalam tradisi tersebut. Makanan khas itu berupa ayam kampung panggang yang dicampur parutan kelapa dan bumbu tradisional khas Oseng.

Tidak hanya warga lokal yang menikmati suasana tersebut. Sejumlah wisatawan asing tampak antusias mengikuti prosesi hingga ikut menikmati hidangan bersama masyarakat.

Adam, wisatawan asal Republik Ceko, mengaku terkesan dengan keramahan warga dan kekayaan budaya Desa Kemiren.

“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” katanya.

Sebelum prosesi makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong keliling desa. Dua barong diberangkatkan dari arah timur dan barat desa sebelum akhirnya bertemu di depan Balai Desa Kemiren.

Prosesi tersebut dipercaya sebagai simbol penolak bala dan doa keselamatan bagi seluruh warga desa. Setelah itu, masyarakat bersama-sama menggelar doa agar dijauhkan dari bencana maupun penyakit.

Kepala Desa Kemiren Muhammad Arifin mengatakan tradisi Tumpeng Sewu menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan.

“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” ujarnya.

Kemeriahan Festival Tumpeng Sewu berlanjut hingga Jumat malam (22/5) melalui kegiatan bertajuk “Malam Gandrungan”. Ribuan warga dan wisatawan kembali memadati kawasan adat Kemiren untuk menyaksikan pertunjukan tari gandrung khas Banyuwangi.

Suasana semakin semarak ketika wisatawan diajak menari bersama para penari gandrung di tengah iringan musik tradisional Banyuwangi. Antusiasme penonton terlihat tinggi hingga acara berlangsung larut malam.

Festival Tumpeng Sewu kini tidak hanya menjadi ritual adat masyarakat Oseng, tetapi juga berkembang menjadi magnet wisata budaya Banyuwangi yang mampu menarik perhatian wisatawan nasional hingga mancanegara. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan bertahan di tengah derasnya modernisasi zaman. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #festival Banyuwangi #Tumpeng Sewu Kemiren #tradisi suku Oseng #Desa Kemiren Glagah