Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Mepe Kasur Osing Kemiren Banyuwangi Kembali Digelar, Kasur Warisan Puluhan Tahun Dijemur Sambut Bulan Haji

M Ksatria Raya • Jumat, 22 Mei 2026 | 08:13 WIB
TURUN-TEMURUN : Sugiono, salah satu Suku Oseng sedang menjemur kasur di depan rumahnya yang berada di Desa Kemiren, Kamis (21/5). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
TURUN-TEMURUN : Sugiono, salah satu Suku Oseng sedang menjemur kasur di depan rumahnya yang berada di Desa Kemiren, Kamis (21/5). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemandangan tak biasa terlihat di sepanjang jalan perkampungan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis (21/5). Sejak pagi, deretan kasur berwarna merah-hitam tampak berjajar di depan rumah warga. Bukan sedang bersih-bersih biasa, masyarakat Suku Osing kembali menggelar tradisi turun-temurun Mepe Kasur—ritual sakral yang diyakini bukan sekadar menjemur tempat tidur, tetapi juga membersihkan diri dari energi negatif menjelang bulan haji.

Tradisi yang rutin digelar setiap 1 Dzulhijjah itu menjadi bagian dari warisan budaya yang masih kuat dijaga masyarakat adat Osing di Desa Kemiren.

Kasur-kasur yang dijemur di halaman rumah ternyata bukan barang biasa.

Sebagian besar merupakan kasur warisan keluarga yang telah digunakan lintas generasi selama puluhan tahun.

Tradisi tersebut tidak hanya mempertahankan nilai budaya, tetapi juga merekam jejak sejarah keluarga masyarakat Osing.

Salah seorang warga Kemiren, Sugiono, mengatakan Mepe Kasur selalu dilakukan pada awal bulan haji sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Kasur yang dimilikinya bahkan disebut berasal dari warisan orang tua dan diperkirakan telah berusia lebih dari setengah abad.

"Kasur ini warisan dari orang tua saya. Kalau diperkirakan usianya sudah lebih dari 50 tahun dan tidak pernah diganti," ujarnya.

Kasur Puluhan Tahun, Kapuk Tetap Dipertahankan

Yang menarik, masyarakat Osing tidak serta-merta mengganti kasur ketika usianya mulai menua.

Sugiono menjelaskan yang biasanya diganti hanya bagian pembungkus luar ketika mulai rusak atau robek.

Sementara isi kapuk di dalam kasur tetap dipertahankan sejak awal diwariskan.

"Kalau kasurnya sudah mulai rusak paling cuma kainnya saja yang diganti, tetapi kapuknya tidak pernah diganti dari dulu," katanya.

Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Osing memiliki hubungan emosional dengan benda warisan keluarga.

Kasur dipandang bukan sekadar alas tidur, melainkan bagian dari perjalanan sejarah keluarga.

Warna Merah-Hitam Jadi Ciri Khas

Keunikan lain terlihat dari tampilan kasur masyarakat Osing yang hampir semuanya memiliki warna seragam.

Kasur-kasur itu didominasi warna merah pada bagian samping, sedangkan sisi atas dan bawah berwarna hitam.

Perpaduan warna tersebut telah menjadi identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Deretan kasur merah-hitam yang dijemur bersamaan menjadi pemandangan khas yang hanya dapat ditemukan saat tradisi Mepe Kasur berlangsung.

Tradisi ini bahkan kerap menarik perhatian wisatawan maupun peneliti budaya.

Bukan Sekadar Menjemur, Ada Makna Spiritual Mendalam

Tokoh adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan Mepe Kasur memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding aktivitas membersihkan perlengkapan rumah tangga.

Selain membersihkan debu dan kotoran fisik, ritual tersebut diyakini menjadi simbol pembersihan jiwa.

"Tujuan tradisi ini selain membersihkan kasur dari kotoran, juga bermakna untuk membersihkan jiwa dari hal negatif," ungkapnya.

Dalam keyakinan masyarakat Osing yang masih memegang teguh nilai adat, menjemur kasur dipercaya dapat mengusir energi negatif maupun unsur-unsur mistis yang dianggap menempel.

Tradisi itu juga menjadi momen refleksi memasuki bulan haji.

Menurut Suhaimi, kasur memiliki filosofi khusus dalam kehidupan masyarakat Osing.

Kasur merupakan simbol keluarga yang diwariskan dari seorang ibu kepada anak perempuannya yang kelak juga akan menjadi ibu.

"Kasur ini tidak hanya berfungsi sebagai alat tidur, tetapi juga simbol keluarga yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya yang kelak akan menjadi ibu juga," ujarnya.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, Mepe Kasur menjadi bukti bahwa masyarakat Osing Banyuwangi masih menjaga erat identitas budaya leluhur. Sebab bagi mereka, warisan bukan sekadar benda lama, tetapi juga nilai, doa, dan ingatan yang terus hidup lintas generasi. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Mepe Kasur Banyuwangi #Suku Osing Kemiren #tradisi Kemiren #Desa Kemiren Banyuwangi #budaya osing