RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gempuran musik modern dan budaya digital, upaya menyelamatkan musik keroncong terus dilakukan komunitas Keroncong Genta Sritanjung Banyuwangi. Tidak hanya mempertahankan eksistensi musik lawas tersebut, komunitas ini juga mulai serius membangun regenerasi dengan melibatkan anak-anak hingga penyandang disabilitas sebagai wajah baru musik keroncong Banyuwangi.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian ialah Bagas, siswa kelas 4 SDN 4 Penganjuran Banyuwangi. Di usianya yang masih belia, Bagas rutin berlatih bersama para musisi senior Keroncong Genta Sritanjung untuk mendalami musik keroncong yang selama ini identik dengan generasi tua.
Tidak hanya itu, komunitas tersebut juga memiliki anggota penyandang tunanetra bernama Yono yang piawai memainkan alat musik selo sekaligus memiliki kemampuan vokal yang memikat saat membawakan lagu-lagu keroncong.
Ketua Keroncong Genta Sritanjung Sucahyo Pinardi mengatakan, kehadiran anak-anak muda dan penyandang disabilitas menjadi semangat baru dalam menjaga keberlangsungan musik keroncong di Banyuwangi.
“Di Keroncong Genta Sritanjung kami ada anak kelas 4 SDN 4 Penganjuran yaitu Bagas yang merupakan cucu dari anggota kami sendiri,” ujarnya.
Menurut Cahyo, Bagas hampir setiap hari menjalani latihan bersama anggota senior agar semakin terbiasa memainkan irama keroncong. Bahkan setiap Sabtu malam, Bagas diberi kesempatan tampil dalam latihan rutin di Kantor Kelurahan Penganjuran sebagai sarana melatih mental dan keberanian tampil di depan umum.
“Ia hampir setiap hari latihan bersama Pak Nono. Setiap malam Minggu kami tampilkan di sini sebagai sarana uji nyali,” katanya.
Tidak hanya fokus pada regenerasi usia muda, komunitas Keroncong Genta Sritanjung juga membuka ruang inklusif bagi penyandang disabilitas untuk ikut berkarya dan tampil di panggung seni.
Keberadaan Yono, anggota tunanetra yang aktif memainkan selo sekaligus menjadi vokalis, disebut menjadi bukti bahwa musik dapat menjadi ruang ekspresi bagi siapa saja tanpa batasan fisik.
“Ada anggota kami yang difabel. Ini luar biasa dan sesuai deklarasi Banyuwangi sebagai kabupaten inklusi. Yono memang tidak bisa melihat, tetapi sangat piawai memainkan selo dan aktif menjadi vokalis saat ada acara keroncong,” jelas Cahyo.
Menurutnya, komunitas tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar maupun bergabung memainkan musik keroncong, tanpa memandang usia, latar belakang, maupun kemampuan fisik.
Namun, Cahyo mengakui tantangan terbesar saat ini adalah mengubah stigma anak muda terhadap musik keroncong yang dianggap kuno dan membosankan.
“Kalau anak remaja diajak keroncong biasanya mundur karena katanya bikin ngantuk,” ungkapnya sambil tersenyum.
Karena itu, komunitasnya mulai mengubah pendekatan dengan membawakan lagu-lagu populer dan kekinian dalam nuansa keroncong agar lebih mudah diterima generasi muda.
“Kami membebaskan lagu apa saja, tetapi dibawakan dengan warna keroncong. Jadi mereka mencintai musiknya dulu lewat lagu pop atau kekinian, baru nanti dikenalkan keroncong asli,” katanya.
Selain latihan rutin, Keroncong Genta Sritanjung juga mendorong adanya pelatihan musisi keroncong bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Program tersebut nantinya menyasar pelajar SMA hingga mahasiswa sebagai langkah memperkuat regenerasi musisi keroncong di Banyuwangi.
“Insya Allah kami ingin menjaring anak-anak SMA dan ke depannya bisa sampai ke mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menilai munculnya sosok seperti Bagas menjadi sinyal positif bahwa musik keroncong masih memiliki masa depan cerah di tangan generasi muda.
“Ketika ada anak muda seperti Bagas muncul, itu meyakinkan kami bahwa musik keroncong masih bisa dimainkan anak-anak. Maka pembinaan dan pelatihan harus terus dilakukan,” ujarnya.
Menurut Hasan, Banyuwangi perlu segera membangun ekosistem musik keroncong yang lebih kuat agar semakin banyak anak muda tertarik mempelajari genre musik tradisional tersebut.
“Kita jangan sampai terlambat. Kita harus mencari Bagas-Bagas lainnya agar musik keroncong tetap hidup,” katanya.
Ia menambahkan, ke depan musik keroncong Banyuwangi akan dikembangkan dengan konsep yang lebih segar, modern, dan dekat dengan selera generasi muda, baik dari sisi aransemen maupun branding.
“Kita akan membangun branding musik keroncong dengan lebih baik dan meng-upgrade image-nya di kalangan anak muda,” ujarnya.
Hasan optimistis musik keroncong tetap mampu bertahan di tengah perkembangan zaman karena memiliki karakter khas yang tidak dimiliki genre musik lain.
“Saya yakin musik keroncong akan ditangkap positif oleh anak muda karena punya karakter yang khas,” pungkasnya. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin