Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Tiban Banyuwangi Selatan Diserbu Penonton, Adu Cambuk di Atas Panggung Jadi Magnet Wisata Budaya

Zamrozi Wahyu • Minggu, 17 Mei 2026 | 06:30 WIB
SALING CAMBUK: Dua pegiat tiban adu ketangkasan mencambuk tubuh lawan yang digelar di Pasar Sejati, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Sabtu (16/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
SALING CAMBUK: Dua pegiat tiban adu ketangkasan mencambuk tubuh lawan yang digelar di Pasar Sejati, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Sabtu (16/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Suara cambuk yang meletup keras memecah malam di Pasar Sejati, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Di atas panggung persegi panjang, dua pria saling berhadapan. Mereka bergantian melecutkan lidi aren ke dada dan punggung lawan, disaksikan ratusan pasang mata yang bersorak penuh antusias.

Tradisi tiban kembali menggeliat di Banyuwangi Selatan. Seni adu cambuk khas budaya Jawa itu sukses menyedot perhatian masyarakat selama sepekan terakhir. Tak hanya warga sekitar, pegiat tiban dari berbagai daerah di sekitar Purwoharjo turut memadati arena pertunjukan.

Di tengah gempuran budaya modern dan hiburan digital, tradisi lawas tersebut justru tampil sebagai magnet baru wisata budaya rakyat.

Adu Cambuk Demi Lestarikan Budaya Leluhur

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang mengaitkan tiban dengan ritual meminta hujan, gelaran di Desa Karetan kali ini lebih menonjolkan misi pelestarian budaya.

Panitia sengaja menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya nenek moyang yang mulai jarang digelar.

Konon, seni tiban berasal dari Tulungagung dan dahulu identik dengan ritual musim kemarau panjang. Namun di Banyuwangi, tradisi tersebut dikemas lebih modern dan aman tanpa meninggalkan nilai budaya aslinya.

Panitia menyiapkan arena khusus berbentuk panggung persegi panjang. Para petarung tiban juga dilengkapi helm pelindung demi menjaga keselamatan saat bertanding.

Cambuk yang digunakan pun bukan sembarang alat. Para petiban memakai lidi aren yang dikenal lebih lentur namun tetap menghasilkan suara keras saat mengenai tubuh lawan.

Ada Wasit Khusus, Pertandingan Dibuat Fair

Tradisi tiban di Karetan berlangsung tertib karena seluruh jalannya pertandingan diatur oleh landang atau wasit khusus.

Setiap petarung mendapat kesempatan mencambuk lawan sebanyak tiga kali secara bergantian. Para peserta dituntut memiliki ketahanan fisik sekaligus teknik bertahan agar mampu menghindari cambukan keras lawan.

Wilayah yang diperbolehkan untuk dicambuk juga dibatasi hanya pada dada dan punggung. Sementara area kepala wajib dilindungi helm demi menghindari cedera serius.

Bagi para petiban berpengalaman, kemampuan membaca gerakan lawan menjadi kunci untuk bertahan di arena.

Digelar Lagi Setelah Vakum Empat Tahun

Panitia tiban “Sodo Purwo”, Sutiyo, mengatakan tradisi tersebut terakhir kali digelar sekitar empat tahun lalu. Kini seni tiban kembali dihidupkan agar tidak hilang ditelan zaman.

“Terakhir kita gelar empat tahun lalu. Dulu digelar ketika musim kemarau panjang. Kali ini akan kita gelar tiap tahun agar seni tiban tidak punah,” katanya.

Ia menegaskan, tiban yang digelar di Desa Karetan bukan ritual meminta hujan sebagaimana tradisi asalnya di Tulungagung.

“Kita kenalkan anak-anak muda dengan budaya Jawa agar tidak tergerus budaya modern,” ujarnya.

Menurut Sutiyo, peserta tiban sementara ini berasal dari masyarakat sekitar Desa Karetan dan pengunjung yang ingin mencoba langsung tradisi tersebut.

Namun pada puncak acara Minggu (17/5), panitia menghadirkan pegiat tiban dari Tulungagung dan Blitar untuk menambah semarak pertunjukan budaya itu.

Jadi Hiburan Sekaligus Edukasi Budaya

Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan tradisi lokal masih memiliki tempat di hati generasi muda. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga ingin mengenal sejarah dan filosofi seni tiban.

Salah satu penonton, Didin Ali Irfan, 24, mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung pertunjukan tiban. Menurutnya, tradisi tersebut sangat menarik dan layak dikenalkan lebih luas kepada generasi muda.

“Ternyata seni tiban sangat seru dan bisa mengenalkan ke masyarakat, khususnya para pemuda,” ujar warga Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari itu.

Gelaran tiban di Banyuwangi Selatan kini bukan sekadar hiburan rakyat. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang pertemuan budaya, identitas lokal, sekaligus bukti bahwa warisan leluhur masih mampu bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi tiban Banyuwangi #seni tiban Purwoharjo #budaya Jawa Banyuwangi #Pasar Sejati Karetan #tiban Tulungagung