Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mantan Kades Aliyan Gabung Jeruji Akustik Lapas, Anton Tetap Salurkan Bakat Musik di Balik Penjara

Ali Sodiqin • Kamis, 14 Mei 2026 | 07:00 WIB
Mantan Kades Aliyan Anton Sujarwo (kanan) gabung Jeruji Akustik Lapas Banyuwangi. Musik jadi media pembinaan dan ekspresi warga binaan. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
Mantan Kades Aliyan Anton Sujarwo (kanan) gabung Jeruji Akustik Lapas Banyuwangi. Musik jadi media pembinaan dan ekspresi warga binaan. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

Dari Kendang ke Cajon, Musik Jadi Media Pembinaan Warga Binaan di Lapas Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Vonis penjara lebih dari lima tahun tidak membuat mantan Kepala Desa Aliyan, Rogojampi, Banyuwangi, Anton Sujarwo, kehilangan ruang untuk menyalurkan bakat bermusiknya. Di balik jeruji besi, Anton kini bergabung dalam grup musik “Jeruji Akustik Lapas”, sebuah wadah kreativitas bagi warga binaan di Lapas Banyuwangi.

Grup musik akustik tersebut dibentuk sebagai bagian dari program pembinaan humanis bagi warga binaan. Tidak hanya menjadi hiburan, kegiatan bermusik juga diarahkan sebagai sarana membangun semangat positif dan menjaga kondisi psikologis penghuni lapas selama menjalani masa pidana.

Jika sebelumnya dikenal piawai memainkan kendang, kini Anton terlihat luwes memainkan cajon dalam grup musik tersebut. Alat musik perkusi akustik itu menjadi teman baru baginya untuk tetap berekspresi di dalam lapas.

“Ya bisa ngendang, bisa akustikan. Semua bisa wes mas, yang penting dibuat seneng aja, untuk terus mengekspresikan diri meski di balik jeruji,” ungkap Anton.

Jeruji Akustik Lapas sendiri membawakan berbagai lagu populer Indonesia dengan konsep musik akustik sederhana. Perpaduan instrumen dan vokal harmonis para warga binaan menciptakan suasana santai sekaligus menjadi hiburan positif di lingkungan lapas.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian serius pihak lapas karena dinilai mampu menjadi media pendekatan emosional antara petugas dan warga binaan.

Kepala Lapas Banyuwangi, Solichin, mengatakan program musik akustik bukan sekadar hiburan semata. Menurutnya, musik menjadi salah satu media efektif dalam proses pembinaan mental dan sosial warga binaan.

“Musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan hati. Melalui musik akustik ini, Lapas ingin membangun kedekatan emosional antara petugas dan warga binaan,” katanya.

Solichin menilai pendekatan humanis penting dilakukan agar proses pembinaan berjalan lebih efektif. Dengan hubungan yang lebih dekat, pesan-pesan pembinaan dinilai lebih mudah diterima warga binaan.

“Dengan adanya kedekatan ini, pesan-pesan pembinaan akan lebih mudah diterima,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan Jeruji Akustik Lapas menjadi bukti bahwa warga binaan tetap memiliki kesempatan berkarya dan mengembangkan potensi diri selama menjalani hukuman.

Pihak lapas, lanjut Solichin, sengaja membuka ruang seluas-luasnya bagi warga binaan untuk mengembangkan bakat positif, baik di bidang musik, seni, maupun keterampilan lainnya.

“Kami memberikan ruang seluas-luasnya bagi warga binaan untuk mengembangkan bakat, baik di bidang musik, seni, maupun keterampilan lainnya,” tegasnya.

Program pembinaan berbasis seni seperti musik akustik dinilai memiliki dampak positif dalam menjaga stabilitas emosional warga binaan sekaligus menciptakan suasana lapas yang lebih kondusif.

Selain menjadi sarana hiburan, aktivitas tersebut juga diharapkan mampu membangun rasa percaya diri dan semangat perubahan diri bagi warga binaan selama menjalani masa hukuman.

Keberadaan Jeruji Akustik Lapas pun menjadi warna tersendiri di lingkungan Lapas Banyuwangi. Di tengah keterbatasan ruang gerak, musik menjadi medium yang memberi kesempatan para warga binaan tetap berkarya dan mengekspresikan diri secara positif. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Jeruji Akustik Lapas #pembinaan warga binaan #musik akustik lapas #anton sujarwo #lapas banyuwangi