Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Festival Sulur Kembang VI Banyuwangi Jadi Panggung Regenerasi Seniman Tari, 320 Peserta Ramaikan Gesibu Blambangan

Ali Sodiqin • Senin, 11 Mei 2026 | 10:00 WIB
Festival Sulur Kembang VI di Banyuwangi diikuti 320 peserta dari TK hingga SMA sebagai upaya pelestarian seni tari tradisional. (banyuwangitourism.com)
Festival Sulur Kembang VI di Banyuwangi diikuti 320 peserta dari TK hingga SMA sebagai upaya pelestarian seni tari tradisional. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Gemuruh tabuhan gamelan berpadu dengan gemulai gerak penari cilik hingga remaja kembali mengguncang Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Festival Sulur Kembang VI resmi digelar mulai 7 hingga 9 Mei 2026 dan menjadi panggung besar regenerasi seni tari tradisional Banyuwangi di tengah derasnya arus budaya modern.

Ratusan peserta dari berbagai jenjang pendidikan memadati arena festival untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam membawakan tari khas Banyuwangi. Ajang tahunan tersebut sekaligus menjadi ruang pelestarian budaya yang terus menjaga denyut seni tradisi tetap hidup di tangan generasi muda.

Sebanyak 320 peserta tercatat ambil bagian dalam Festival Sulur Kembang tahun ini. Mereka berasal dari kategori perorangan maupun kelompok, mulai tingkat TK/PAUD hingga SMA sederajat.

Antusiasme peserta dan dukungan masyarakat membuat Gesibu Blambangan dipenuhi nuansa budaya selama festival berlangsung. Penampilan para penari muda dinilai menjadi bukti bahwa regenerasi seniman tari di Banyuwangi masih terus berjalan kuat.

Nama “Sulur Kembang” sendiri mengandung filosofi mendalam. Sulur dimaknai sebagai sesuatu yang terus merambat dan tumbuh, sedangkan kembang melambangkan bunga yang berkembang indah.

Makna tersebut merepresentasikan harapan agar seni tari tradisional Banyuwangi terus hidup, berkembang, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Festival ini juga menjadi ruang penting bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal akar budaya daerahnya sejak dini.

Menariknya, penyelenggaraan Festival Sulur Kembang 2026 kali ini didominasi karya artistik Sanggar Lang-Lang Buana. Sekitar 75 persen tarian yang dipentaskan merupakan karya maestro tari Banyuwangi, Sabar Harianto.

Meski demikian, festival tetap menghadirkan karya dari sejumlah seniman tari ternama lain seperti Subari Sofyan, Adlin Mustika, hingga karya almarhum Sumitro Hadi.

Berbagai kategori tari diperlombakan sesuai jenjang usia peserta. Untuk tingkat TK/PAUD, penari cilik tampil membawakan Tari Onclang Kidang dan Tari Meang Meong yang penuh kelucuan dan ekspresi ceria.

Sementara peserta tingkat SD/MI bersaing melalui Tari Jangkrik, Tari Buk Buk Cung, Tari Gebyar Barong, hingga Tari Dikgar yang dikenal energik dan dinamis.

Pada kategori SMP sederajat, peserta ditantang menampilkan Tari Jaripah dan Tari Pulung yang membutuhkan teknik gerak lebih matang serta penghayatan karakter yang kuat.

Sedangkan kategori SMA sederajat menghadirkan Tari Lasmi, salah satu tarian Banyuwangi yang dikenal memiliki karakter elegan, filosofis, dan sarat makna budaya.

Ketua Panitia Festival Sulur Kembang VI, Sabar Harianto, mengatakan tema festival tahun ini adalah “Kembang Seronce”.

Tema tersebut menggambarkan rangkaian karya tari ciptaannya yang dirajut menjadi satu harmoni pertunjukan sebagai simbol keberagaman gerak seni yang menyatu dalam estetika budaya Banyuwangi.

“Alhamdulillah kita bisa kembali menggelar Festival Sulur Kembang yang ke-6. Harapan besar kami adalah pelestarian kesenian, khususnya di sektor tari, dapat terus berkelanjutan dan tidak berhenti di sini,” ujarnya.

Puncak kemeriahan festival dijadwalkan berlangsung pada 9 Mei 2026 melalui pertunjukan spesial Janger Khrisna Buana.

Dalam penampilan penutup tersebut, akan dibawakan lakon bertajuk “Lelakon Urip Kang Legowo Sabar Sabaro” yang mengangkat perjalanan hidup Sabar Harianto sejak kecil hingga menjadi maestro tari Banyuwangi.

Lakon tersebut menjadi bentuk refleksi perjalanan kreatif sekaligus penghormatan terhadap proses panjang dalam melahirkan berbagai karya tari tradisional Banyuwangi.

“Jadi di puncak acara, Janger Khrisna Buana membawakan cerita perjalanan hidup saya mulai kecil hingga saat ini yang sudah melahirkan beberapa karya tari. Ini adalah bentuk refleksi sekaligus apresiasi terhadap proses kreatif,” pungkas Sabar.

Festival Sulur Kembang VI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan tari, tetapi juga ruang edukasi budaya dan regenerasi seniman muda Banyuwangi. Di tengah perubahan zaman, festival tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi Banyuwangi tetap tumbuh, hidup, dan terus menemukan penerusnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Festival Sulur Kembang 2026 #Sanggar Lang-Lang Buana #Sabar Harianto #Gesibu Blambangan #Tari Banyuwangi