RADARBANYUWANGI.ID – Persaingan sengit antar pelaku seni tradisi siap tersaji dalam agenda terbaru Banyuwangi Festival. “Sulur Kembang #6” dengan tajuk “Kembang Seronce” akan digelar di Gesibu Blambangan, menghadirkan rangkaian lomba hingga malam puncak yang dipastikan penuh atmosfer magis—dan menariknya, seluruh rangkaian acara dibuka gratis untuk publik.
Event ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan arena adu kreativitas sekaligus pertaruhan eksistensi seni tradisi di tengah gempuran hiburan modern yang kian agresif.
Agenda Banyuwangi Festival yang Wajib Ditonton
“Sulur Kembang #6” menjadi salah satu agenda penting dalam kalender Banyuwangi Festival tahun ini. Rangkaian acara akan dimulai dengan kompetisi pada 7–9 Mei 2026 sejak pukul 08.00 WIB.
Para peserta dari berbagai daerah akan saling beradu kreativitas dalam menampilkan karya seni terbaik mereka. Kompetisi ini menjadi pintu menuju malam puncak yang akan digelar pada 9 Mei 2026 pukul 19.00 WIB.
Pada puncak acara, publik akan disuguhkan pagelaran seni spektakuler bertajuk “Kembang Seronce” yang menggabungkan unsur tari, musik, dan visual artistik dalam satu panggung megah.
Panggung Magis dan Adu Gengsi Seniman
Tak hanya kompetisi, event ini juga menghadirkan penampilan spesial dari Janger Krishna Buana yang dikenal dengan eksplorasi seni tradisional bernuansa kontemporer.
Kehadiran mereka menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menaikkan standar pertunjukan. Hal ini memicu atmosfer kompetitif di kalangan peserta yang ingin tampil maksimal di hadapan publik.
Di sisi lain, ajang ini juga menjadi ruang pembuktian bagi seniman lokal untuk menunjukkan bahwa karya tradisional mampu bersaing dengan hiburan modern.
Gratis, Tapi Bukan Sembarangan
Berbeda dengan banyak event besar yang berbayar, Sulur Kembang #6 justru membuka akses gratis bagi masyarakat. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memperluas jangkauan penonton sekaligus mendekatkan seni kepada publik.
Namun, gratis bukan berarti tanpa kualitas. Justru, dengan skala dan konsep yang diusung, event ini diproyeksikan menjadi salah satu pertunjukan budaya paling menarik di Banyuwangi bulan ini.
Antara Pelestarian dan Eksistensi
Di tengah perubahan selera masyarakat, seni tradisional menghadapi tantangan besar: bertahan atau ditinggalkan. Sulur Kembang #6 mencoba menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang lebih kompetitif dan atraktif.
Kompetisi sengit di siang hari dan pertunjukan magis di malam puncak menjadi dua sisi yang saling melengkapi—antara proses dan hasil, antara tradisi dan inovasi.
Gesibu Blambangan Jadi Episentrum
Dengan dipusatkan di Gesibu Blambangan, kawasan ini dipastikan menjadi pusat keramaian selama tiga hari pelaksanaan. Ribuan pengunjung diprediksi akan hadir, baik untuk menyaksikan lomba maupun menikmati malam puncak.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman budaya yang lengkap—dari dinamika kompetisi hingga keindahan pertunjukan.
Jangan Lewatkan Momen
Sebagai bagian dari Banyuwangi Festival, “Sulur Kembang #6” menjadi agenda yang sayang untuk dilewatkan. Selain gratis, event ini menawarkan paket lengkap: kompetisi, pertunjukan, dan pengalaman budaya dalam satu rangkaian.
Di tengah derasnya arus hiburan modern, Banyuwangi kembali membuktikan bahwa budaya lokal masih punya daya tarik kuat—asal dikemas dengan berani dan relevan.
Dan mulai 7 hingga 9 Mei, panggung itu akan berbicara di Gesibu Blambangan. (*)
Editor : Ali Sodiqin