Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perayaan Hari Tari Sedunia Banyuwangi 2026 Meriah, 14 Sanggar Tampil Kolosal Angkat Budaya Lokal

Ali Sodiqin • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:00 WIB
Perayaan Hari Tari Sedunia 2026 di Banyuwangi meriah, libatkan 14 sanggar tari dan angkat budaya lokal melalui pertunjukan kolosal. (foto: banyuwangitourism.com)
Perayaan Hari Tari Sedunia 2026 di Banyuwangi meriah, libatkan 14 sanggar tari dan angkat budaya lokal melalui pertunjukan kolosal. (foto: banyuwangitourism.com)

Semangat pelestarian budaya membuncah di Banyuwangi. Perayaan Hari Tari Sedunia 2026 menghadirkan pertunjukan kolosal melibatkan 14 sanggar tari, menegaskan eksistensi seni tradisional di tengah arus modernisasi.


RADARBANYUWANGI.ID – Panggung budaya di Bumi Blambangan kembali bergemuruh. Meski Hari Tari Sedunia diperingati setiap 29 April, masyarakat Banyuwangi menggelar selebrasi puncaknya pada Minggu (3/5/2026) dengan kemasan spektakuler yang memikat ribuan penonton.

Perayaan ini menjadi ajang unjuk kreativitas komunitas tari lokal, khususnya Jiwa Etnik Blambangan (JEB), yang tampil sebagai motor utama gelaran.

Tak sendiri, JEB berkolaborasi dengan 14 sanggar tari dari berbagai daerah, termasuk peserta dari Pasuruan dan Surabaya. Kolaborasi lintas daerah ini melahirkan pertunjukan kolosal yang memadukan ragam gerak tari tradisional penuh makna.

Di lokasi acara, penonton disuguhkan deretan tarian khas Banyuwangi yang sarat nilai filosofis. Gerakan gemulai namun penuh energi dari para penari menggambarkan kekayaan sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya lokal.

Mayoritas penampil merupakan pelajar. Meski masih muda, mereka tampil penuh percaya diri, menunjukkan bahwa regenerasi seni tari di Banyuwangi berjalan kuat. Antusiasme mereka menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, khususnya di wilayah Singojuruh dan sekitarnya, yang memadati lokasi sejak pagi.

Tahun ini, perayaan mengusung tema “Mencorong Sunare”, yang bermakna harapan agar cahaya seni tradisional terus bersinar dan tetap relevan bagi generasi muda di masa depan.

Partisipasi peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa seni tari tradisional Banyuwangi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan diminati lintas wilayah.

Selain pertunjukan, acara ini juga menjadi momentum penghormatan bagi para maestro seni yang telah berjasa menjaga warisan budaya. Penghargaan diberikan kepada Mbah Yokanah, Mbah Awik Badut, serta Mbah Misadi dan Khotib.

Ketua panitia, Adlin, menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang strategis untuk menjaga eksistensi seni tradisional.

“Ini bukan hanya panggung kreativitas, tapi juga ajang silaturahmi bagi para pegiat seni tari di Banyuwangi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman banyuwangitourism.com.

Ia menambahkan, pihaknya berkomitmen menghidupkan kembali karya-karya lama para maestro yang dinilai masih relevan untuk ditampilkan saat ini.

“Warisan para maestro kita baca ulang. Ternyata karya mereka luar biasa dan masih sangat layak dipentaskan,” pungkasnya.

Perayaan ini menjadi bukti bahwa Banyuwangi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengembangkannya secara adaptif. Seni tari bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya banyuwangi #Hari Tari Sedunia Banyuwangi #Jiwa Etnik Blambangan #sanggar tari Banyuwangi #festival tari 2026