RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional, denyut persiapan Festival Kuntulan Ewon di Banyuwangi kian menguat. Gladi resik terakhir yang digelar Jumat (1/5) menunjukkan satu hal: ribuan pelajar tampil semakin kompak, menyatukan gerak dan irama dalam satu panggung kolosal yang diproyeksikan menjadi magnet utama Hardiknas tahun ini.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 1.100 siswa dari berbagai jenjang pendidikan—SD, SMP, hingga SMA—akan turun langsung dalam pergelaran yang dipusatkan di Taman Blambangan pada 2 Mei. Skala besar ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga simbol konsolidasi pendidikan dan budaya di tengah tantangan zaman.
Yang membuat sorotan kian tajam, acara ini dijadwalkan dihadiri oleh Abdul Mu'ti. Kehadiran menteri menambah tekanan sekaligus gengsi perhelatan, menuntut kesiapan maksimal dari seluruh peserta.
Gladi Resik Jadi Penentu
Latihan terakhir menjadi fase krusial. Ribuan siswa yang sebelumnya berlatih di titik berbeda kini dipertemukan dalam satu panggung besar. Hasilnya, kekompakan mulai terbentuk—gerakan tari lebih sinkron, iringan musik semakin padu.
Kepala Bidang SD Dispendik Banyuwangi, Sutikno, mengakui bahwa proses menuju titik ini tidak mudah. Koordinasi lintas sekolah dengan jumlah peserta besar menjadi tantangan tersendiri.
“Gladi resik ini penting untuk memastikan semua siap. Alhamdulillah, anak-anak sudah semakin kompak,” ujarnya.
Menurutnya, total peserta mencapai sekitar 1.100 siswa, terdiri dari ratusan penari dan pemusik yang akan tampil secara bersamaan.
Kolaborasi 1.100 Siswa di Panggung Kolosal
Festival Kuntulan Ewon dirancang sebagai pertunjukan seni massal yang memadukan tari dan musik tradisional khas Banyuwangi. Sebanyak 600 siswa akan memainkan musik kuntulan, sementara 500 lainnya tampil sebagai penari.
Kabid Pendidikan Masyarakat Dispendik Banyuwangi, Lina Kamalin, menegaskan bahwa konsep kolosal ini menjadi kekuatan utama acara.
“Ini bukan sekadar pertunjukan biasa. Ini kolaborasi besar lintas jenjang pendidikan,” jelasnya.
Dengan komposisi tersebut, panggung Kuntulan Ewon dipastikan akan dipenuhi energi ribuan pelajar yang tampil serempak—sebuah visual kuat yang jarang terjadi dalam event pendidikan.
Antara Gengsi dan Misi Budaya
Di balik megahnya panggung, tersimpan dua misi besar: menjaga budaya sekaligus memperkuat karakter siswa. Kuntulan Ewonan bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga sarana menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, dan kecintaan terhadap tradisi lokal.
Namun, skala besar acara juga menghadirkan tekanan tersendiri. Kehadiran menteri membuat standar penampilan meningkat. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
“Nanti rencananya kita undang Bapak Menteri Abdul Mu’ti hadir. Ini tentu menjadi motivasi sekaligus tantangan bagi anak-anak,” kata Sutikno.
Hardiknas Bukan Sekadar Seremoni
Festival ini menjadi penanda perubahan cara merayakan Hardiknas di Banyuwangi—dari sekadar upacara menjadi panggung ekspresi dan kolaborasi besar.
Dengan melibatkan ribuan siswa, pemerintah daerah ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal ruang kelas, tetapi juga bagaimana membangun karakter dan identitas budaya.
Jika berjalan sesuai rencana, Kuntulan Ewon berpotensi menjadi ikon baru perayaan Hardiknas—bukan hanya di Banyuwangi, tetapi juga di tingkat nasional.
Di tengah sorotan dan ekspektasi tinggi, satu hal sudah terlihat jelas dari gladi resik: ketika ribuan siswa bergerak dalam satu ritme, yang tercipta bukan hanya pertunjukan—melainkan energi kolektif yang menggambarkan masa depan pendidikan itu sendiri. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin