Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kuntulan Ewon Jadi Senjata SMPN 1 Giri Bentuk Karakter Siswa, Lawan Gempuran Budaya Modern

Sidrotul Muntoha • Sabtu, 2 Mei 2026 | 00:30 WIB
JAGA WARISAN BUDAYA: Siswa-siswi SMPN 1 Giri berpartisipasi aktif dalam event Kuntulan Ewon sebagai bagian pengembangan seni dan kreativitas. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
JAGA WARISAN BUDAYA: Siswa-siswi SMPN 1 Giri berpartisipasi aktif dalam event Kuntulan Ewon sebagai bagian pengembangan seni dan kreativitas. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah derasnya arus budaya modern yang kian mendominasi ruang ekspresi generasi muda, sekolah dituntut tidak hanya mengajar akademik, tetapi juga menjaga identitas lokal. Tantangan inilah yang coba dijawab SMPN 1 Giri dengan mendorong siswa terlibat aktif dalam seni tradisional Kuntulan Ewon.

Langkah ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa. Lebih dari itu, menjadi strategi membangun karakter sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri siswa di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Kepala SMPN 1 Giri, Hadi Bagijono, menegaskan bahwa keterlibatan pelajar dalam seni tradisional memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan kepribadian.

“Kegiatan seperti Kuntulan Ewon ini bukan hanya soal seni, tetapi juga membentuk karakter, melatih keberanian tampil, dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa,” ujarnya.

Program Kuntulan Ewon sendiri merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang bertujuan menghidupkan kembali seni tradisional di kalangan generasi muda. Di tengah dominasi budaya populer, program ini menjadi ruang alternatif agar pelajar tetap terhubung dengan akar budaya lokal.


Seni Tradisional vs Budaya Populer

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan banyak generasi muda lebih akrab dengan budaya luar dibanding tradisi daerahnya sendiri. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan pudarnya identitas budaya lokal.

SMPN 1 Giri melihat situasi ini sebagai tantangan serius. Melalui pelibatan siswa dalam Kuntulan Ewon, sekolah berupaya menciptakan keseimbangan antara modernitas dan pelestarian budaya.

“Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki karakter kuat dan bangga terhadap budayanya sendiri,” tambah Hadi.

Kegiatan seni ini juga menjadi wadah ekspresi kreatif bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar gerakan dan musik tradisional, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.


Bangun Percaya Diri Lewat Panggung Seni

Salah satu dampak paling nyata dari kegiatan ini adalah meningkatnya kepercayaan diri siswa. Kesempatan tampil di depan publik membuat mereka lebih berani, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan.

Menurut Hadi, pengalaman tampil dalam seni tradisional memberi bekal penting bagi siswa, baik dalam kehidupan sosial maupun masa depan mereka.

“Ketika siswa berani tampil, itu artinya mereka sudah melewati batas rasa takut. Ini penting untuk membentuk mental yang kuat,” jelasnya.


Sekolah Jadi Garda Pelestari Budaya

Lebih jauh, SMPN 1 Giri berkomitmen menjadikan sekolah sebagai pusat pelestarian budaya lokal. Kolaborasi dengan komunitas seni terus diperkuat agar kegiatan seperti Kuntulan Ewon tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

“Kami terus mendorong pelibatan sekolah dan komunitas seni agar warisan budaya tetap hidup, tidak hilang ditelan zaman,” tegas Hadi.

Upaya ini menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga identitas bangsa. Di tengah perubahan zaman yang cepat, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga benteng terakhir pelestarian budaya.

Dengan pendekatan ini, SMPN 1 Giri tak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga generasi yang berakar kuat pada budaya sendiri—sebuah fondasi penting untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati diri. (*/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#seni tradisional Banyuwangi #SMPN 1 Giri Banyuwangi #Kuntulan Ewon #pendidikan budaya #karakter siswa