Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Ithuk-Ithukan Osing Banyuwangi 2026: 3.000 Porsi Diarak, Wujud Syukur atas Sumber Air Kajar

Ali Sodiqin • Rabu, 29 April 2026 | 20:19 WIB
Tradisi Ithuk-Ithukan Osing di Banyuwangi kembali digelar. Ribuan warga arak 3.000 ithuk sebagai syukur atas sumber air Kajar. (banyuwangitourism.com)
Tradisi Ithuk-Ithukan Osing di Banyuwangi kembali digelar. Ribuan warga arak 3.000 ithuk sebagai syukur atas sumber air Kajar. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi sakral yang telah berusia ratusan tahun kembali menggema di lereng Glagah. Ratusan warga Suku Osing di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Banyuwangi, menggelar ritual adat Ithuk-Ithukan, Rabu (29/4/2026), sebagai wujud syukur atas melimpahnya sumber air Kajar yang menjadi nadi kehidupan mereka.

Sejak fajar, suasana kampung yang biasanya tenang berubah semarak. Warga dari berbagai usia tumpah ruah mengikuti prosesi tahunan yang selalu digelar setiap 12 Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah tersebut.

3.000 Ithuk Diarak, Simbol Syukur Kolektif

Sorotan utama tradisi ini adalah arak-arakan ribuan ithuk—wadah makanan dari daun pisang berisi nasi dan lauk khas. Tahun ini, sekitar 3.000 porsi ithuk disiapkan dan diarak keliling desa.

Ithuk tidak sekadar makanan. Di dalamnya terdapat pecel pitik, kuliner khas Osing berbahan ayam kampung bakar suwir yang dipadukan dengan parutan kelapa berbumbu tradisional.

Prosesi diawali dengan doa bersama di hadapan ribuan ithuk, sebagai bentuk munajat kolektif kepada Sang Pencipta.

“Ithuk-Ithukan bukan sekadar tradisi, tapi ungkapan rasa syukur kami atas karunia air yang tak pernah habis,” ujar tokoh adat Rejopuro, Sarino, sebagaimana dilansir dari laman banyuwangitourism.com.

Pawai Budaya, Iringi Langkah Warga

Setelah didoakan, ribuan ithuk diarak dalam pawai budaya yang meriah. Barisan warga, terutama kaum perempuan, berjalan beriringan sambil menjunjung ithuk di atas kepala.

Suasana semakin hidup dengan iringan kesenian tradisional seperti Giro Osing, Barong, Kuntulan, hingga Sanggar Nampani. Musik tradisional yang rancak mengiringi langkah peserta menyusuri jalan desa.

Rute pawai dimulai dari sisi timur desa untuk membagikan makanan kepada warga, kemudian berlanjut ke arah barat menuju pusat sumber air Kajar.

Makan Bersama di Sumber Air

Puncak acara berlangsung di kawasan mata air Kajar. Di lokasi inilah seluruh warga berkumpul dan menyantap ithuk secara bersama-sama.

Momen makan bersama ini menjadi simbol kuat kebersamaan, persaudaraan, dan harmoni sosial yang terus dijaga lintas generasi.

Tak hanya itu, nilai empati juga sangat dijunjung tinggi. Warga yang tidak dapat hadir karena sakit tetap mendapat kiriman ithuk ke rumah masing-masing.

Warisan Sejak 1617, Tetap Lestari

Tradisi Ithuk-Ithukan diyakini telah ada sejak tahun 1617 dan terus dilestarikan hingga kini. Lebih dari sekadar ritual budaya, tradisi ini menjadi pengikat sosial masyarakat Osing.

Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menegaskan bahwa nilai utama dari tradisi ini adalah kesadaran menjaga alam, khususnya sumber air.

“Ini pesan bagi generasi muda agar selalu menjaga kelestarian air sebagai anugerah Tuhan,” ujarnya.

Sumber Air Kajar, Nadi Kehidupan

Keberadaan sumber air Kajar memiliki peran vital bagi masyarakat. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, air dari sumber ini juga mengaliri lahan pertanian di sejumlah desa sekitar seperti Glagah, Kenjo, hingga Tamansuruh.

Meski musim kemarau melanda, debit air Kajar tetap stabil—menjadi alasan kuat mengapa masyarakat terus menjaga dan mensyukurinya melalui tradisi ini.

Budaya sebagai Penjaga Alam

Ithuk-Ithukan bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat kolektif bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada keseimbangan alam.

Melalui tradisi ini, warga Rejopuro menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi benteng kuat dalam menjaga lingkungan sekaligus mempererat solidaritas sosial.

Di tengah arus modernisasi, Ithuk-Ithukan tetap hidup—menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu bertahan, bahkan semakin relevan sebagai penjaga harmoni antara manusia dan alam. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya banyuwangi #Ithuk-Ithukan Banyuwangi #tradisi suku Osing #sumber air Kajar #Pecel Pitik