RADARBANYUWANGI.ID – Pergelaran drama tari dan musikal bertajuk Pandome Urip Wajiwa sukses menyedot perhatian ratusan penonton di Gedung Seni dan Budaya Banyuwangi (Gesibu), Sabtu malam (25/4).
Pementasan megah yang mengangkat kisah heroik Perang Puputan Bayu itu tampil memikat dengan balutan artistik yang kuat dan sarat nilai sejarah.
Sejak awal pertunjukan, antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Ratusan warga memadati ruang pertunjukan hingga kursi penuh. Bahkan, sebagian penonton rela berdiri demi menyaksikan jalannya pementasan hingga akhir.
Karya yang dipersembahkan oleh Sanggar Joyokaryo ini tidak sekadar menyuguhkan hiburan visual, tetapi juga menghadirkan narasi sejarah yang kuat tentang identitas dan perjuangan masyarakat Blambangan.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, Hasan Basri, menegaskan bahwa pementasan tersebut memiliki makna lebih dalam dari sekadar tontonan.
“Yang kita saksikan ini bukan hanya sekadar berkumpul menikmati pertunjukan. Ini adalah cara kita merawat, menimang, dan memaknai sejarah Blambangan, khususnya Perang Bayu,” ujarnya.
Sarat Nilai Martabat dan Kekuatan Jiwa
Menurut Hasan, tema Perang Bayu yang diangkat tidak hanya menggambarkan perlawanan fisik, tetapi juga menyiratkan nilai-nilai tentang harga diri, keberanian, dan kekuatan jiwa masyarakat Blambangan.
“Perang Bayu mengajarkan kita tentang harga diri dan jiwa yang kuat. Kami memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Sanggar Joyokaryo yang telah menghadirkan seniman-seniman hebat Banyuwangi,” tambahnya.
Libatkan 100 Seniman, Angkat Harmoni Budaya
Pembina Sanggar Joyokaryo, Elvin Hendrata, mengungkapkan bahwa pertunjukan ini melibatkan sekitar 100 anak didik serta penari lokal Banyuwangi.
Ia menjelaskan, Pandome Urip Wajiwa merupakan pertunjukan ketiga yang digelar sanggar tersebut. Sebelumnya, konser perdana digelar di Ballroom Hotel Santika Banyuwangi pada 15 Juni 2024 dengan konsep perpaduan musik Banyuwangi dan orkestra.
Sementara konser kedua berlangsung di Cafe Hedon Banyuwangi pada 22 Februari, mengusung konsep musik etnik tradisional yang dipadukan dengan unsur modern tanpa meninggalkan notasi khas Banyuwangi.
“Untuk pertunjukan ketiga ini, kami mengusung konsep penggabungan musik pelog dan slendro yang berpadu halus, serta menggabungkan demografi budaya Bali dan Banyuwangi,” jelasnya.
Penonton Terpukau, Sebut Pertunjukan Mewah
Penampilan dramatis dengan tata panggung megah, koreografi dinamis, serta iringan musik yang harmonis sukses memukau penonton. Salah satu penonton, M. Hasan, mengaku terkesan dengan kualitas pertunjukan.
“Pertunjukannya terasa mewah walaupun mengusung tema perang Puputan Bayu, dengan penampilan yang proper dan berbeda dari yang lain,” tuturnya.
Merawat Sejarah Lewat Seni Pertunjukan
Melalui Pandome Urip Wajiwa, Sanggar Joyokaryo tidak hanya menghadirkan hiburan artistik, tetapi juga mengajak masyarakat untuk kembali mengenal sejarah dan nilai-nilai perjuangan Blambangan.
Pementasan ini sekaligus menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium efektif dalam merawat memori kolektif dan memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin