Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Festival Gandrung Sewu 2026 Angkat Tema Kembang Dermo, Filosofi Sakral Seblang Jadi Ruh Pertunjukan Kolosal

M Ksatria Raya • Minggu, 26 April 2026 | 08:00 WIB
SEBLANG OLEHSARI: Kembang dermo merupakan identitas budaya yang tidak hanya sarat makna, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Olehsari. (Disbudpar Banyuwangi)
SEBLANG OLEHSARI: Kembang dermo merupakan identitas budaya yang tidak hanya sarat makna, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Olehsari. (Disbudpar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang dipastikan hadir dengan wajah baru. Tahun ini, tema “Kembang Dermo” diangkat sebagai ruh utama pertunjukan, menghadirkan sentuhan sakral yang kental dengan nilai filosofis khas budaya Banyuwangi.

Tidak sekadar elemen estetika panggung, Kembang Dermo dipilih karena memiliki akar kuat dalam tradisi spiritual masyarakat, khususnya dalam ritual Seblang Olehsari. Tema ini sekaligus menjadi upaya mengangkat kembali kearifan lokal yang sarat makna ke dalam panggung kolosal yang melibatkan ribuan penari gandrung.

Kembang Dermo sendiri merupakan rangkaian bunga yang tersusun dari dua bunga kenanga berwarna kuning dan hijau, serta bunga kantil atau cempaka putih di bagian tengah. Rangkaian tersebut ditancapkan pada sebilah bambu kecil dan dipercaya memiliki makna spiritual mendalam.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Kembang Dermo bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga diyakini sebagai penolak bala, pembawa keberuntungan, hingga harapan akan keberkahan dan jodoh. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan menjadi konsep besar pertunjukan Gandrung Sewu tahun ini.

Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis, menyambut positif pengangkatan tema tersebut. Ia menilai Kembang Dermo merupakan identitas budaya yang tidak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat.

“Kembang dermo adalah inti dari ritual Seblang. Secara etimologi berasal dari ‘sak dermo’ yang berarti keikhlasan dalam menjalani kehidupan sesuai peruntukannya,” ujarnya.

Menurut Joko, filosofi tersebut menjadi pengingat penting bagi manusia untuk menjalani kehidupan dengan niat tulus dan penuh kesadaran, sebagaimana makna yang terkandung dalam rangkaian bunga tersebut.

Senada dengan itu, Ketua Paguyuban Pelatih dan Seniman Banyuwangi, Suko Prayitno, menegaskan bahwa pemilihan tema Kembang Dermo telah melalui proses pertimbangan matang. Hal itu dilakukan agar nilai sakral yang terkandung tidak hilang meskipun dikemas dalam bentuk pertunjukan massal.

“Kami sangat berhati-hati dalam mengangkat tema ini. Filosofinya harus tetap terjaga meskipun ditampilkan dalam skala besar,” katanya.

Ia menambahkan, proses kreatif yang dilakukan juga tidak lepas dari norma adat yang berlaku. Salah satunya dengan melakukan ‘kulonuwun’ atau permisi kepada tokoh adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh rangkaian persiapan hingga pelaksanaan acara berjalan lancar tanpa melanggar nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi masyarakat.

“Selain menjaga esensi, kami juga meminta petunjuk kepada tokoh adat agar seluruh proses diberikan kelancaran,” imbuhnya.

Dengan mengusung tema Kembang Dermo, Festival Gandrung Sewu tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan spektakuler, tetapi juga tuntunan yang memperkuat identitas budaya Banyuwangi.

Perpaduan antara seni pertunjukan dan nilai spiritual diyakini akan menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam bagi penonton, sekaligus mempertegas posisi Gandrung Sewu sebagai ikon budaya kelas dunia. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya banyuwangi #Gandrung Sewu 2026 #Kembang Dermo #festival Banyuwangi #Seblang Olehsari