RADARBANYUWANGI.ID – Kalender wisata Banyuwangi kembali diramaikan agenda budaya berbasis kearifan lokal. Festival Ithuk-Ithukan Jopuro siap digelar pada Rabu, 29 April 2026 di Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah.
Event ini bukan sekadar festival biasa. Ithuk-Ithukan Jopuro merupakan tradisi turun-temurun yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus perekat kebersamaan masyarakat desa.
Baca Juga: Suzuki APV 2026 Bertahan di Tengah Gempuran Mobil Listrik, Andalkan Ketangguhan dan Biaya Murah
Digelar mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, kegiatan ini menghadirkan pengalaman autentik yang memadukan budaya, kuliner, dan suasana pedesaan yang masih asri.
Tradisi Syukur Sarat Makna
Ithuk-Ithukan berasal dari tradisi makan bersama menggunakan wadah daun pisang yang disebut “ithuk”. Dalam praktiknya, masyarakat menyajikan beragam hidangan tradisional sebagai wujud syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima.
Tradisi ini menjadi refleksi nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih kuat di tengah masyarakat Dusun Rejopuro.
Baca Juga: Sukun dari Nusantara Diburu Dunia: Dari Fantasi Eropa hingga Solusi Krisis Pangan Global
Festival Ithuk-Ithukan Jopuro menjadi momentum penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda dan wisatawan.
Suguhkan Wisata Rasa dan Suasana
Selain sarat nilai budaya, festival ini juga menawarkan daya tarik kuliner khas. Pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan tradisional yang disajikan langsung di atas ithuk daun pisang.
Aroma masakan kampung berpadu dengan suasana alami pedesaan menciptakan pengalaman wisata yang berbeda dari biasanya.
Lokasi acara di Desa Kampung Anyar dikenal memiliki lanskap hijau yang masih terjaga, sehingga menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa desa autentik.
Dorong Wisata Berbasis Komunitas
Pelaksanaan festival ini juga menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis komunitas di Banyuwangi. Keterlibatan langsung warga dalam setiap rangkaian acara menunjukkan kuatnya peran masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.
Baca Juga: Trik Nelayan Profesional Mancing Cumi di Laut Saat Cuaca Ekstrem, Hasilnya di Luar Dugaan
Dengan konsep sederhana namun sarat makna, Ithuk-Ithukan Jopuro diharapkan mampu menjadi magnet baru dalam menarik kunjungan wisatawan, baik lokal maupun luar daerah.
Ajakan Lestarikan Budaya
Panitia mengajak masyarakat luas untuk hadir dan menjadi bagian dari pelestarian budaya Banyuwangi. Tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai peserta yang merasakan langsung nilai-nilai kebersamaan yang diusung.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi seperti Ithuk-Ithukan menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah kekuatan utama yang harus dijaga.
Bagi pencari pengalaman berbeda, festival ini menawarkan lebih dari sekadar hiburan—melainkan perjalanan menyelami kehidupan masyarakat desa yang hangat, sederhana, dan penuh makna. (*)
Editor : Ali Sodiqin