RADARBANYUWANGI.ID – Antusiasme generasi muda membanjiri seleksi Banyuwangi Ethno Carnival 2026 (BEC) 2026. Rangkaian audisi resmi ditutup Rabu siang (22/4) di Kantor Disbudpar Banyuwangi, dengan lonjakan peserta baru yang menjadi sorotan utama.
Hari kedua audisi bahkan tampil lebih “panas” dibanding hari pertama yang digelar di Kecamatan Genteng. Wajah-wajah baru mendominasi, membawa energi segar sekaligus menandai regenerasi kuat di panggung karnaval etnik kelas dunia tersebut.
Baca Juga: Dispendik Banyuwangi Kumpulkan Lintas Instansi, Fokus Tekan Anak Tidak Sekolah dan Dongkrak IPM
Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, mengapresiasi keberanian para peserta, terutama pendatang baru yang tampil penuh percaya diri.
“Kami sangat berterima kasih atas dedikasi peserta. Wajah-wajah baru ini luar biasa, mereka berani tampil dan menunjukkan potensi terbaiknya untuk menghidupkan tema Perang Bayu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari banyuwangitourism.com.
Tema Perang Bayu Jadi Magnet
Tema besar tahun ini, Perang Bayu, terbukti menjadi daya tarik kuat. Narasi sejarah perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme diterjemahkan dalam bentuk ekspresi artistik yang menuntut totalitas performa.
Semangat itu terasa dari para peserta. Salah satunya Eka Wahyu Maulana Aprilianto asal Kecamatan Pesanggaran. Ia mengaku tertantang mengikuti ajang ini untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Pertamina Ancam Putus Hubungan Pangkalan Nakal, Kasus Oplosan Elpiji 3 Kg di Banyuwangi Terkuak
“Saya sangat excited. Tema Perang Bayu membuat saya ingin tampil beda dan maksimal,” ungkapnya.
Optimisme serupa datang dari Ama Dhea Revalinda asal Kecamatan Rogojampi. Meski debut, ia percaya diri mampu bersaing.
“Saya sudah persiapan matang. Ingin menampilkan karakter kuat sesuai semangat perjuangan,” tegasnya.
Regenerasi Seni Makin Kuat
Dominasi peserta baru dalam audisi kali ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan BEC sebagai ikon budaya Banyuwangi. Regenerasi pelaku seni berjalan dinamis, memperkaya interpretasi artistik dalam setiap gelaran.
Usai tahap seleksi, peserta yang lolos akan langsung masuk fase lanjutan yang lebih ketat: technical meeting hingga workshop intensif. Di tahap ini, mereka akan mendapatkan pendalaman konsep, koreografi, hingga karakterisasi sesuai tema.
Menuju Panggung Spektakuler
Dengan berakhirnya audisi, mesin produksi BEC 2026 kini resmi bergerak ke tahap inti. Disbudpar Banyuwangi menargetkan pertunjukan tahun ini tampil lebih megah, baik dari sisi artistik maupun narasi sejarah.
Baca Juga: Usai Pesta Arak di Pantai Muncar Banyuwangi, Nelayan Situbondo Ditemukan Tewas Misterius
Kehadiran talenta-talenta muda dengan energi baru diyakini akan memperkuat daya tarik BEC di kancah internasional. Terlebih, tema Perang Bayu membawa pesan historis yang kuat dan relevan.
BEC selama ini bukan sekadar karnaval, tetapi juga medium diplomasi budaya yang mengangkat identitas lokal ke panggung global.
Dengan semangat peserta yang membara dan proses kurasi yang ketat, BEC 2026 dipastikan tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga peristiwa budaya yang menghidupkan kembali marwah sejarah Banyuwangi di mata dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin