Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Komunitas Stand Up Comedy Banyuwangi: Dari Open Mic Kafe Hingga Panggung Acara Besar

M Ksatria Raya • Selasa, 21 April 2026 | 05:30 WIB
TETAP EKSIS: Personel stand up comedy Banyuwangi saat tampil dalam acara festival di Gesibu Banyuwangi pada 2024. (Danang for Radar Banyuwangi)
TETAP EKSIS: Personel stand up comedy Banyuwangi saat tampil dalam acara festival di Gesibu Banyuwangi pada 2024. (Danang for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Tawa yang lahir dari keresahan kini memiliki rumah di Banyuwangi. Melalui Komunitas Stand Up Comedy Banyuwangi, para komika lokal menjadikan panggung sebagai ruang berekspresi, menyampaikan cerita keseharian, hingga kritik sosial yang dibalut humor.

Berbeda dengan komunitas seni pada umumnya, mereka tidak membawa alat musik, kanvas, atau gerakan tari.

Yang mereka andalkan hanya satu: cerita. Dari keresahan hidup, pengalaman pribadi, hingga fenomena sosial sehari-hari, semuanya diolah menjadi materi komedi tunggal atau stand up comedy.

Baca Juga: 50+ Ucapan Hari Kartini 2026 Paling Inspiratif yang Bikin Hati Tergerak

Komunitas ini berdiri sejak 2012, berawal dari empat orang yang memiliki ketertarikan pada seni komedi tunggal.

Dari pertemuan sederhana dan diskusi ringan, lahirlah sebuah komunitas yang kini terus bertahan lebih dari satu dekade.

“Awalnya hanya empat orang yang sering kumpul karena tertarik dengan stand up comedy, akhirnya terbentuk komunitas ini pada 2012,” ujar Danang Idaman, Ketua Stand Up Comedy Banyuwangi.

Danang sendiri baru bergabung pada 2022. Sejak itu, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas, terutama open mic yang menjadi agenda rutin setiap pekan.

Kegiatan open mic biasanya digelar setiap Jumat di berbagai lokasi kafe yang mendukung suasana pertunjukan.

Baca Juga: LATIHAN SOAL SNBT 2026 LENGKAP: TPS, Literasi, dan Penalaran Matematika

Beberapa di antaranya adalah Warkop Mansur di Kelurahan Penganjuran, Hachi Cafe, hingga sejumlah kafe di Kecamatan Genteng.

Open mic bukan sekadar panggung tampil, tetapi juga ruang latihan dan evaluasi. Para komika akan mencoba materi baru di depan penonton sekaligus menerima masukan dari sesama anggota komunitas.

“Materi yang dibawakan biasanya yang sedang trending supaya penonton bisa relate. Selain itu juga dari pengalaman pribadi atau keresahan yang ingin disampaikan,” jelas Danang.

Sebelum naik panggung, para komika terlebih dahulu menulis materi secara mandiri. Naskah tersebut kemudian dibahas bersama anggota komunitas lain untuk diperbaiki, disesuaikan, bahkan diuji kelayakannya sebelum dibawakan di depan publik.

Baca Juga: Tabel KUR BNI 2026 Rp350 Juta: Cicilan Mulai Rp5,7 Juta, Peluang Besar atau Beban Baru UMKM?

Dalam penampilannya, mereka menggunakan berbagai teknik seperti storytelling, act out, hingga roasting. Kombinasi teknik ini membuat setiap penampilan memiliki warna berbeda dan menarik bagi penonton.

Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 30 anggota aktif. Setiap pekan, 7 hingga 8 komika tampil bergantian dalam sesi open mic, dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga pelaku kreatif.

Tak hanya di panggung komunitas, para komika Banyuwangi juga kerap diundang tampil dalam berbagai acara, termasuk kegiatan perusahaan dan instansi. Salah satu penampilan terbaru mereka bahkan digelar dalam acara yang diselenggarakan BPJS.

Namun, dunia stand up comedy juga penuh tantangan. Danang pernah mengalami situasi tak terduga saat diundang ke sebuah acara organisasi kepemudaan berbasis keagamaan.

Baca Juga: Mensos Pastikan Bansos April 2026 Cair untuk 18 Juta Penerima, Data Dinamis Jadi Kunci Akurasi

“Awalnya saya kira penontonnya anak SMA sampai kuliah, ternyata yang datang anak-anak SD. Akhirnya materi harus langsung diubah di tempat,” kenangnya.

Durasi penampilan stand up comedy umumnya hanya 7 hingga 10 menit, namun dalam waktu singkat itu seorang komika harus mampu membangun tawa sekaligus menyampaikan pesan.

Soal honor, setiap penampilan memiliki nilai berbeda tergantung popularitas dan kesepakatan dengan pihak penyelenggara.

Lebih dari sekadar hiburan, para komika melihat stand up comedy sebagai medium penyampaian keresahan sosial dengan cara yang ringan.

“Materi biasanya dari keresahan pribadi yang disampaikan dengan komedi di atas panggung,” ujar Yansa, salah satu anggota komunitas asal Kalipuro.

Baca Juga: Harga Emas Antam 20 April 2026 Anjlok Rp44.000, Emas Perhiasan Mandek—Pasar Terjepit Konflik Global

Hal serupa disampaikan Alfiya Hasan, anggota lain yang mengaku bergabung karena kecintaannya pada dunia komedi.

“Saya memang suka komedi sedari dulu, jadi ini salah satu cara untuk menyalurkan hobi,” katanya.

Ke depan, komunitas ini berharap stand up comedy semakin dikenal luas oleh masyarakat Banyuwangi serta mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. Mereka juga pernah terlibat dalam agenda besar daerah seperti Gandrung Sewu 2025.

Dari kafe sederhana hingga panggung besar, tawa yang mereka hadirkan menjadi bukti bahwa komedi bukan sekadar hiburan—tetapi juga cara untuk memahami kehidupan dari sisi yang lebih ringan namun bermakna. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#stand up comedy Banyuwangi #komunitas komedi Banyuwangi #open mic Banyuwangi #komika Banyuwangi #seni komedi Indonesia