Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

225 Pelatih Tari Serbu Banyuwangi, Gandrung Sewu 2026 Dipacu Lebih Dini: Perebutan Standar Kualitas Dimulai

Ali Sodiqin • Senin, 20 April 2026 | 09:30 WIB
225 pelatih tari dari berbagai daerah ikuti pelatihan Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi. Standar kualitas dan pakem tari mulai diperebutkan. (banyuwangitourism.com)
225 pelatih tari dari berbagai daerah ikuti pelatihan Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi. Standar kualitas dan pakem tari mulai diperebutkan. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Persaingan menjaga kemurnian sekaligus kualitas tari Gandrung mulai memanas jauh sebelum panggung megah digelar.

Sebanyak 225 pelatih tari dari berbagai daerah menyerbu Banyuwangi, menandai dimulainya “pertempuran” standar gerak dalam persiapan Gandrung Sewu 2026.

Baca Juga: Gaji ke-13 ASN 2026 Terancam Dipangkas? Pemerintah Masih Hitung Beban Energi dan Opsi Efisiensi

Bertempat di Sanggar Tari Gandrung Arum, Kecamatan Cluring, Sabtu siang (18/4/2026), para pelatih dari Pasuruan, Situbondo, Sidoarjo hingga Malang mengikuti latihan bersama.

Agenda ini bukan sekadar pemanasan, tetapi langkah strategis untuk memastikan kualitas ribuan penari tetap seragam di hari H pada Oktober mendatang.

Standar Gerak Jadi Taruhan

Panitia memilih mempercepat proses kurasi dan penyamaan persepsi gerak. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Semakin luas jangkauan peserta, semakin besar pula risiko pergeseran pakem tari.

Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Agustus? Ini Formasi 160 Ribu yang Disiapkan, Pelamar Diminta Bersiap

Ketua Patih Senawangi, Suko Prayitno, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi fondasi utama sebelum para pelatih turun ke daerah masing-masing.

“Hari ini pelatihan untuk para pelatih dalam rangka menyongsong Gandrung Sewu 2026. Nantinya mereka akan melatih peserta di korwil masing-masing,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman banyuwangitourism.com.

Di sinilah letak konflik utamanya: bagaimana menjaga “roh” tari Gandrung tetap otentik, sementara peserta datang dari latar budaya dan gaya latihan yang beragam.

Tanpa standarisasi ketat, koreografi kolosal berpotensi kehilangan identitas.

Magnet Budaya Tembus Batas Daerah

Kehadiran ratusan pelatih dari luar Banyuwangi menjadi bukti kuat bahwa Gandrung Sewu bukan lagi milik lokal, tetapi telah menjelma menjadi magnet budaya nasional.

Baca Juga: Hadirkan Ulama Kharismatik Achmad Azaim Ibrahimy, Smada Prima Bershalawat Gegerkan Situbondo, Ribuan Warga Padati HUT ke-49 SMAN 2

Natasya Miftahul Indriani, peserta dari Kota Batu, mengaku antusias bisa terlibat dalam proses awal ini.

“Hari ini sangat semangat karena bisa bertemu teman-teman penari di Banyuwangi. Selain belajar, ini juga jadi ajang silaturahmi,” tuturnya.

Namun, di balik semangat itu, tersimpan tanggung jawab besar: membawa “nafas” Gandrung ke daerah asal tanpa mengurangi esensinya.

Farida Amelia dari Pasuruan mengungkapkan bahwa antusiasme peserta di daerahnya sangat tinggi. Banyak siswa yang sudah menanti kesempatan tampil di panggung kolosal tersebut.

“Banyak siswa kami yang sangat excited. Dengan pelatihan ini kami bisa membawa nafas Tari Gandrung ke kota kami,” katanya.

Dari Sanggar ke Panggung Kolosal

Pelatihan di Sanggar Gandrung Arum menjadi titik awal rantai panjang produksi Gandrung Sewu. Dari sini, standar gerak akan disebarkan ke ratusan bahkan ribuan penari di berbagai wilayah.

Baca Juga: Tol Gilimanuk–Mengwi Dirombak, Tak Lagi Full Tol: Pemerintah Kejar Target 2031 di Tengah Minat Investor

Setiap pelatih menjadi “penjaga gerbang” kualitas. Kesalahan kecil dalam interpretasi gerak bisa berdampak besar ketika ditampilkan secara massal.

Karena itu, proses ini tidak hanya soal teknik, tetapi juga transfer nilai budaya.

Antara Ekspansi dan Otentisitas

Gandrung Sewu terus berkembang sebagai ikon budaya Banyuwangi. Namun, ekspansi besar-besaran ini membawa dilema: semakin luas jangkauan, semakin besar tantangan menjaga keaslian.

Apakah tari Gandrung akan tetap otentik di tengah ribuan penari dari berbagai daerah? Ataukah akan terjadi kompromi gerak demi keseragaman massal?

Pertanyaan ini menjadi bayang-bayang di balik megahnya panggung yang akan digelar Oktober nanti.

Satu hal yang pasti, langkah awal sudah dimulai. Dari ruang latihan di Cluring, masa depan wajah Gandrung Sewu 2026 sedang dibentuk—antara menjaga tradisi atau menyesuaikan diri dengan skala besar pertunjukan.

Dan bagi Banyuwangi, ini bukan sekadar event. Ini adalah pertaruhan identitas budaya di hadapan publik nasional hingga internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya banyuwangi #Gandrung Sewu 2026 #pelatih tari Banyuwangi #Sanggar Gandrung Arum #event budaya Indonesia