RADARBANYUWANGI.ID – Persaingan menjaga kemurnian sekaligus kualitas tari Gandrung mulai memanas jauh sebelum panggung megah digelar.
Sebanyak 225 pelatih tari dari berbagai daerah menyerbu Banyuwangi, menandai dimulainya “pertempuran” standar gerak dalam persiapan Gandrung Sewu 2026.
Baca Juga: Gaji ke-13 ASN 2026 Terancam Dipangkas? Pemerintah Masih Hitung Beban Energi dan Opsi Efisiensi
Bertempat di Sanggar Tari Gandrung Arum, Kecamatan Cluring, Sabtu siang (18/4/2026), para pelatih dari Pasuruan, Situbondo, Sidoarjo hingga Malang mengikuti latihan bersama.
Agenda ini bukan sekadar pemanasan, tetapi langkah strategis untuk memastikan kualitas ribuan penari tetap seragam di hari H pada Oktober mendatang.
Standar Gerak Jadi Taruhan
Panitia memilih mempercepat proses kurasi dan penyamaan persepsi gerak. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Semakin luas jangkauan peserta, semakin besar pula risiko pergeseran pakem tari.
Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Agustus? Ini Formasi 160 Ribu yang Disiapkan, Pelamar Diminta Bersiap
Ketua Patih Senawangi, Suko Prayitno, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi fondasi utama sebelum para pelatih turun ke daerah masing-masing.
“Hari ini pelatihan untuk para pelatih dalam rangka menyongsong Gandrung Sewu 2026. Nantinya mereka akan melatih peserta di korwil masing-masing,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman banyuwangitourism.com.
Di sinilah letak konflik utamanya: bagaimana menjaga “roh” tari Gandrung tetap otentik, sementara peserta datang dari latar budaya dan gaya latihan yang beragam.
Tanpa standarisasi ketat, koreografi kolosal berpotensi kehilangan identitas.
Magnet Budaya Tembus Batas Daerah
Kehadiran ratusan pelatih dari luar Banyuwangi menjadi bukti kuat bahwa Gandrung Sewu bukan lagi milik lokal, tetapi telah menjelma menjadi magnet budaya nasional.
Natasya Miftahul Indriani, peserta dari Kota Batu, mengaku antusias bisa terlibat dalam proses awal ini.
“Hari ini sangat semangat karena bisa bertemu teman-teman penari di Banyuwangi. Selain belajar, ini juga jadi ajang silaturahmi,” tuturnya.
Namun, di balik semangat itu, tersimpan tanggung jawab besar: membawa “nafas” Gandrung ke daerah asal tanpa mengurangi esensinya.
Farida Amelia dari Pasuruan mengungkapkan bahwa antusiasme peserta di daerahnya sangat tinggi. Banyak siswa yang sudah menanti kesempatan tampil di panggung kolosal tersebut.
“Banyak siswa kami yang sangat excited. Dengan pelatihan ini kami bisa membawa nafas Tari Gandrung ke kota kami,” katanya.
Dari Sanggar ke Panggung Kolosal
Pelatihan di Sanggar Gandrung Arum menjadi titik awal rantai panjang produksi Gandrung Sewu. Dari sini, standar gerak akan disebarkan ke ratusan bahkan ribuan penari di berbagai wilayah.
Setiap pelatih menjadi “penjaga gerbang” kualitas. Kesalahan kecil dalam interpretasi gerak bisa berdampak besar ketika ditampilkan secara massal.
Karena itu, proses ini tidak hanya soal teknik, tetapi juga transfer nilai budaya.
Antara Ekspansi dan Otentisitas
Gandrung Sewu terus berkembang sebagai ikon budaya Banyuwangi. Namun, ekspansi besar-besaran ini membawa dilema: semakin luas jangkauan, semakin besar tantangan menjaga keaslian.
Apakah tari Gandrung akan tetap otentik di tengah ribuan penari dari berbagai daerah? Ataukah akan terjadi kompromi gerak demi keseragaman massal?
Pertanyaan ini menjadi bayang-bayang di balik megahnya panggung yang akan digelar Oktober nanti.
Satu hal yang pasti, langkah awal sudah dimulai. Dari ruang latihan di Cluring, masa depan wajah Gandrung Sewu 2026 sedang dibentuk—antara menjaga tradisi atau menyesuaikan diri dengan skala besar pertunjukan.
Dan bagi Banyuwangi, ini bukan sekadar event. Ini adalah pertaruhan identitas budaya di hadapan publik nasional hingga internasional. (*)
Editor : Ali Sodiqin