Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sego Lemeng & Kopi Uthek Banyuwangi Diserbu Ribuan Orang, Festival Janda Reni Jadi Magnet Wisata Budaya Osing

Ali Sodiqin • Minggu, 19 April 2026 | 14:00 WIB
Festival Janda Reni di Banyuwangi sedot ribuan pengunjung. Sego lemeng dan kopi uthek jadi ikon kuliner Osing sarat filosofi hidup. (banyuwangitourism.com)
Festival Janda Reni di Banyuwangi sedot ribuan pengunjung. Sego lemeng dan kopi uthek jadi ikon kuliner Osing sarat filosofi hidup. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Ledakan antusiasme tak terbendung saat Festival Janda Reni mengubah wajah Desa Banjar menjadi lautan manusia, Sabtu malam (18/4/2026).

Ribuan warga dan wisatawan berdesakan di sepanjang jalan desa, memburu satu hal yang sama: mencicipi warisan kuliner kuno yang kini justru naik kelas menjadi magnet wisata.

Di tengah derasnya modernisasi kuliner, Sego Lemeng dan Kopi Uthek justru tampil sebagai simbol perlawanan tradisi.

Keduanya bukan sekadar makanan, melainkan identitas masyarakat Osing yang dipertaruhkan di panggung pariwisata.

Baca Juga: Latihan SNBT 2026: TPS - Tes Potensi Skolastik Model Terbaru, Fokus Logika Bukan Hafalan

Dilansir dari banyuwangitourism.com, event bertajuk Janda Reni yang masuk kalender Banyuwangi Festival itu berlangsung semarak. 

Aroma nasi bakar dari dalam bambu menyelimuti udara lereng Gunung Ijen, memancing rasa lapar sekaligus rasa penasaran para pengunjung.

Tradisi atau Sekadar Tontonan?

Di balik kemeriahan itu, terselip pertanyaan: apakah tradisi ini masih murni sebagai warisan leluhur, atau mulai bergeser menjadi komoditas wisata?

Tokoh adat setempat, Lukman Hakim, menegaskan bahwa Festival Janda Reni bukan sekadar pesta kuliner. Nama unik tersebut lahir dari proses sakral dalam tradisi agraris masyarakat.

“Reni itu bunga aren, sedangkan Janda atau Rondo berarti proses pemisahan. Ini bagian dari siklus kehidupan masyarakat kami,” ujarnya.

Baca Juga: Spesialis Pencuri Meteran Air Banyuwangi Tertangkap Tangan, 15 Unit Disita Polisi

Penjelasan itu menegaskan bahwa festival ini berakar kuat pada kearifan lokal, bukan sekadar branding pariwisata.

Filosofi di Balik Sepiring Nasi dan Secangkir Kopi

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menambahkan bahwa Sego Lemeng dan Kopi Uthek menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa.

“Kopi uthek dengan gula aren menggambarkan pahit-manis kehidupan. Sementara sego lemeng adalah simbol kecukupan dan ketahanan,” jelasnya.

Filosofi ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah tren wisata berbasis pengalaman autentik.

Proses Panjang, Rasa Tak Tergantikan

Sego lemeng bukan makanan instan. Prosesnya panjang dan penuh kesabaran. Nasi berbumbu dicampur ayam atau tuna, dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke bambu muda.

Baca Juga: Nyalip dari Kiri Berujung Maut: Dua Pemotor Tewas Terlindas Truk di Jalur Nasional Banyuwangi–Situbondo

Bambu itu kemudian dibakar selama empat jam menggunakan kayu bakar. Hasilnya adalah nasi dengan aroma asap khas dan tekstur lembut yang sulit ditiru dengan metode modern.

Konon, makanan ini dulunya menjadi bekal para gerilyawan di masa penjajahan, sekaligus logistik andalan warga yang hendak mendaki kawasan Ijen.

Sensasi “Uthek” yang Ikonik

Tak lengkap tanpa Kopi Uthek. Cara menikmatinya unik: penikmat menggigit gula aren terlebih dahulu, lalu menyeruput kopi hitam pekat.

Baca Juga: Modus Pipa dan Es Balok: Cara Licik Sindikat Oplos Elpiji Banyuwangi Terungkap

Bunyi “uthek” dari gigitan gula itulah yang menjadi asal nama minuman ini. Sensasi pahit-manis yang muncul bersamaan menciptakan pengalaman rasa yang khas—dan sulit dilupakan.

Wisatawan Terpikat, Tradisi Diuji

Arbain, wisatawan asal Banyuwangi Kota, mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut.

“Saya beruntung bisa datang. Warganya ramah, kulinernya autentik, dan semua masih terasa asli,” ujarnya.

Namun lonjakan wisatawan juga menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi mengangkat ekonomi lokal, di sisi lain berpotensi menggeser makna tradisi jika tak dijaga.

Kolaborasi Seni Perkuat Identitas

Festival ini juga diramaikan pertunjukan “Gontang Kawean” hasil kolaborasi Kampus ISI Surakarta kelas Banyuwangi dengan sanggar Sayu Wiwit. Seni pertunjukan ini mempertegas bahwa Janda Reni bukan sekadar festival kuliner, tetapi perayaan budaya secara utuh.


Di Desa Banjar, Sego Lemeng dan Kopi Uthek bukan hanya tentang rasa. Ia adalah cerita panjang tentang identitas, ketahanan, dan filosofi hidup masyarakat Osing—yang kini berdiri di persimpangan antara pelestarian dan komersialisasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Sego Lemeng #Kopi Uthek #Festival Janda Reni #Desa Banjar Licin #Kuliner Banyuwangi