RADARBANYUWANGI.ID – Perayaan hari jadi ke-242 Klenteng Hoo Tong Bio tak sekadar meriah, tetapi juga sarat makna persatuan. Di tengah keberagaman, konsep baru bertajuk euni kimsin justru menghadirkan dinamika unik—setiap klenteng wajib membawa rupang (patung) dewa-dewi masing-masing ke satu altar utama. Sebuah simbol kuat, sekaligus ujian harmoni antarumat.
Rangkaian peringatan Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin yang digelar Jumat malam (17/4) itu dihadiri ratusan umat Tri Dharma dari berbagai daerah. Mulai dari Jember, Probolinggo, Mojokerto, Surabaya, hingga Lombok dan Bangkalan, semua tumpah ruah dalam satu perayaan lintas kota.
Baca Juga: KPK Periksa ASN Kemenhub Terkait Dugaan Suap Proyek Jalur Kereta Api, Kasus Melebar ke 21 Tersangka
Kehadiran Bupati Ipuk Fiestiandani bersama jajaran Forkopimda semakin menambah semarak. Kedatangan mereka disambut atraksi barongsai yang enerjik, menandai dimulainya perayaan penuh warna tersebut.
Konsep Euni Kimsin: Simbol Persatuan dalam Perbedaan
Ketua TITD Hoo Tong Bio Banyuwangi, Sylvia Ekawati, menegaskan bahwa konsep euni kimsin menjadi inti dari perayaan tahun ini. Dalam konsep tersebut, setiap klenteng yang hadir diwajibkan membawa rupang dewa-dewi untuk ditempatkan di altar utama.
Langkah ini bukan tanpa makna. Di balik ritual tersebut, tersimpan pesan kuat tentang persatuan, kesetaraan, dan saling menghormati antarumat.
Baca Juga: Harga BBM Melonjak Drastis, Pertamax Turbo hingga Dex Tembus Rekor Baru
“Ini momentum untuk mempererat persaudaraan dan meningkatkan rasa syukur atas bimbingan para dewa-dewi,” ujarnya.
Sebanyak delapan klenteng dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam ritual sakral ini. Kehadiran rupang-rupang tersebut menjadi simbol pertemuan spiritual yang dikenal sebagai Shen Ming Ju Hui, atau pertemuan para dewa.
Harmoni di Tengah Keberagaman
Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menekankan pentingnya menjaga harmoni sebagai fondasi kehidupan masyarakat Banyuwangi yang majemuk.
“Harmoni adalah nilai utama. Dalam perbedaan keyakinan dan budaya, yang harus dijaga adalah kebersamaan,” tegasnya.
Ia menilai, nilai-nilai yang diajarkan Kongco Tan Hu Cin Jin—tentang kebajikan, keteladanan, dan pengabdian—relevan dalam menjaga persatuan di tengah dinamika sosial.
Ipuk juga berharap doa-doa yang dipanjatkan membawa keberkahan bagi masyarakat Banyuwangi, sekaligus memperkuat semangat toleransi.
Ritual Sakral hingga Atraksi Budaya
Perayaan tahun ini dikemas lebih atraktif. Selain ritual utama, acara juga dimeriahkan musik tradisional Tionghoa oleh grup Toa Koo Jue, serta atraksi barongsai yang menyambut kedatangan rupang dari berbagai klenteng.
Pengurus klenteng, Alexander Martin, menjelaskan bahwa rangkaian acara dimulai dari upacara pertemuan dewa, dilanjutkan sembahyang, hingga malam resepsi dan hiburan.
“Ini momen kebersamaan bagi seluruh umat Tri Dharma untuk berkumpul dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Salah satu umat, Ardiyan, menyebut konsep ini sebagai yang pertama kali digelar di Hoo Tong Bio. “Ada delapan rupang dari delapan klenteng. Ini pengalaman baru dan sangat bermakna,” katanya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Tak hanya berdimensi spiritual, perayaan ini juga berdampak pada sektor ekonomi lokal. Pemerintah daerah mendorong pelibatan pelaku UMKM untuk memanfaatkan momentum keramaian.
Dengan ribuan pengunjung yang datang, perputaran ekonomi di sekitar klenteng pun meningkat, memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Momentum Toleransi
Di tengah tantangan keberagaman, perayaan ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan.
Konsep euni kimsin yang menyatukan berbagai rupang dalam satu altar menjadi simbol konkret bahwa harmoni bisa dibangun dari keberagaman itu sendiri.
Perayaan 242 tahun ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga pesan kuat: kebersamaan dan toleransi adalah fondasi utama menjaga keutuhan masyarakat. (fre/aif
Editor : Ali Sodiqin