RADARBANYUWANGI.ID – Aksi budaya bertajuk Rubaiyat Hormuz digelar sejumlah penyair di Banyuwangi, Selasa (14/4). Kegiatan yang berlangsung di Sanggar Seni Langgar Art, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi itu menjadi ruang ekspresi sekaligus bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Iran.
Aksi tersebut dikemas dalam bentuk pembacaan puisi yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Para penyair menyuarakan kegelisahan atas konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada masyarakat sipil.
Puisi-puisi yang dibawakan tidak hanya berasal dari karya penyair lokal Banyuwangi, tetapi juga mengadaptasi karya sastrawan Persia serta sastrawan dunia yang sarat pesan kemanusiaan. Tema besar yang diusung berkisar pada peperangan, penderitaan manusia, hingga harapan akan perdamaian global.
Ketua Penyelenggara Rubaiyat Hormuz, Baru Rohim alias Ayung Notonegoro, mengatakan kegiatan tersebut merupakan respons nyata komunitas sastra terhadap dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Menurutnya, sastra memiliki kekuatan moral untuk menyuarakan nilai kemanusiaan di tengah situasi konflik. “Kami ingin menunjukkan solidaritas terhadap isu kemanusiaan global. Ekspresinya melalui pembacaan karya sastra yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Ayung menjelaskan, konsep Rubaiyat diambil dari bentuk puisi klasik dalam tradisi sastra Persia atau Iran. Dalam kegiatan ini, karya yang dibacakan dibagi menjadi tiga kategori. Yakni puisi karya sastrawan Persia, karya sastrawan dunia bertema kemanusiaan, serta karya penyair lokal Banyuwangi dengan perspektif global.
Sebanyak 15 penyair ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Wulandari yang membawakan puisi berjudul Orang-Orang yang Dituduh Langit, Ahmad Fauzi dengan puisi Nyala Tak Pernah Padam, serta Ihwan Bopeng dengan karya Satu Tubuh Satu Suara.
Melalui lantunan puisi yang dibacakan secara bergantian, suasana reflektif terasa kuat. Setiap bait menghadirkan suara nurani atas konflik yang terjadi, sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak perang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga kemanusiaan.
Para penyair juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap isu global, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Selat Hormuz yang memiliki dampak luas, baik secara ekonomi maupun sosial.
Ayung menegaskan, pesan utama dari kegiatan tersebut adalah menyerukan penghentian perang serta menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama. Ia menilai, kepentingan apa pun, termasuk energi dan politik, tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Nilai kemanusiaan tidak bisa ditukar dengan energi atau kepentingan lainnya,” tegasnya.
Aksi budaya ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga mampu membangun kesadaran publik bahwa solidaritas kemanusiaan dapat diwujudkan melalui berbagai cara, termasuk lewat sastra. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin