Kisah Hari Sucipto: Bangkit dari Bangkrut, Lukisan Iseng Laku Rp100 Ribu Jadi Titik Balik

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Minggu, 5 April 2026 | 06:00 WIB
BERBAGI ILMU: Hari Sucipto bersama anak didiknya yang sukses menembus perguruan tinggi favorit. Para mahasiswa tersebut berguru melukis dari pria yang tinggal di Desa Genteng Kulon. (Hari Sucipto for Radar Banyuwangi)
BERBAGI ILMU: Hari Sucipto bersama anak didiknya yang sukses menembus perguruan tinggi favorit. Para mahasiswa tersebut berguru melukis dari pria yang tinggal di Desa Genteng Kulon. (Hari Sucipto for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI – Perjalanan hidup Hari Sucipto tidak selalu mulus. Pelukis asal Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, ini justru menemukan jalan hidupnya di dunia seni saat berada di titik terendah kehidupan.

Sekitar tahun 2006, Hari mengalami masa krisis setelah usaha yang digelutinya mengalami kebangkrutan.

Bisnis rental VCD hingga toko yang ia jalankan perlahan meredup, hingga akhirnya membuat kondisi keuangannya terpuruk.

“Saat itu benar-benar tidak punya uang,” kenang pria yang kini dikenal sebagai pelukis realis tersebut.

Di tengah kondisi sulit itu, sebuah momen tak terduga menjadi titik balik hidupnya. Hari menemukan gambar tokoh Thomas Stamford Raffles.

Rasa tertarik membuatnya mencoba menggambar ulang tokoh tersebut, sekadar untuk mengisi waktu.

“Awalnya iseng saja. Saya lihat gambar itu, lalu saya coba menggambarnya,” tuturnya.

Berbekal hobi menggambar sejak sekolah, ia mulai kembali menekuni aktivitas yang sempat lama ditinggalkan. Tak disangka, hasil gambarnya cukup memuaskan.

Gambar tersebut kemudian diberi pigura dan dipajang di ruang tamu rumahnya. Tanpa rencana besar, lukisan itu justru membuka jalan rezeki.

Seorang temannya yang berkunjung terpikat dengan karya tersebut. Tanpa banyak basa-basi, lukisan itu langsung dibeli seharga Rp100 ribu.

“Teman saya datang, lihat lukisan itu, lalu langsung membelinya,” ungkap Hari.

Momen sederhana itu menjadi titik balik penting. Hari mulai menyadari bahwa karya seni memiliki nilai ekonomi. Sejak saat itu, ia mulai serius menekuni dunia lukis, khususnya aliran realisme.

Ia terus mengasah kemampuan dengan menggambar berbagai tokoh. Dari sketsa pensil hingga penggunaan cat di atas kanvas, Hari perlahan membangun kualitas karyanya.

“Pelan-pelan karya saya bertambah. Beberapa bahkan laku dengan harga lebih tinggi. Dari situ saya yakin bisa mencari nafkah dari seni,” jelasnya.

Untuk memperluas jangkauan, Hari juga menerapkan strategi branding yang terbilang cerdas. Ia melukis tokoh-tokoh nasional sebagai bagian dari upaya promosi.

Nama-nama seperti Presiden Joko Widodo, Ganjar Pranowo, hingga tokoh lokal seperti Abdullah Azwar Anas dan Ipuk Fiestiandani pernah ia tuangkan dalam kanvas. Lukisan tersebut kemudian ia hadiahkan kepada tokoh terkait.

“Selain sebagai bentuk apresiasi, itu juga jadi media promosi saya,” katanya.

Strategi tersebut terbukti efektif. Nama Hari Sucipto mulai dikenal luas, tidak hanya di Banyuwangi, tetapi juga di luar daerah.

Meski demikian, perjalanan sebagai seniman tidak selalu mudah. Hari mengakui, ada masa-masa sulit ketika lukisannya tidak laku dalam waktu tertentu.

“Hidup dari seni itu tidak mudah kalau tidak didasari cinta. Harus benar-benar sayang dengan seni,” ujarnya.

Tantangan semakin terasa ketika event seni mulai jarang digelar. Padahal, pameran atau event menjadi ruang penting bagi seniman untuk memperkenalkan karya sekaligus bertemu kolektor.

“Kalau ada event, karya bisa dikenal dan berpeluang laku. Kalau event jarang, tentu lebih sulit,” pungkasnya.

Kisah Hari Sucipto menjadi bukti bahwa keterpurukan bukanlah akhir segalanya. Dari sebuah lukisan iseng, ia mampu bangkit, menemukan passion, sekaligus mengubah nasib melalui seni. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Hari Sucipto pelukis Banyuwangi lukisan realis seniman bangkit dari bangkrut kisah inspiratif