Kiprah Hari Sucipto, Maestro Pelukis Genteng Kulon: Gratis Mengajar, Antar 4 Murid Tembus PTN Favorit

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Minggu, 5 April 2026 | 02:00 WIB
BERBAGI ILMU: Hari Sucipto bersama anak didiknya yang sukses menembus perguruan tinggi favorit. Para mahasiswa tersebut berguru melukis dari pria yang tinggal di Desa Genteng Kulon. (Hari Sucipto for Radar Banyuwangi)
BERBAGI ILMU: Hari Sucipto bersama anak didiknya yang sukses menembus perguruan tinggi favorit. Para mahasiswa tersebut berguru melukis dari pria yang tinggal di Desa Genteng Kulon. (Hari Sucipto for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kiprah Hari Sucipto, 62, pelukis asal Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, layak mendapat apresiasi tinggi.

Di tengah keterbatasan akses pendidikan seni bagi sebagian kalangan, ia justru membuka ruang belajar gratis bagi generasi muda sejak 2012.

Pelukis beraliran realisme tersebut tidak hanya sekadar membagikan ilmu, tetapi juga membimbing dengan penuh ketelatenan.

Hasilnya, empat murid didikannya berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Indonesia.

Terbaru, salah satu muridnya, Sheva Andra Wijaya, dinyatakan lolos ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Capaian ini menambah daftar keberhasilan murid dari sang maestro lokal tersebut.

Sebelumnya, tiga murid lain yang belajar di Bravo Art Galery—sanggar lukis milik Hari—juga telah lebih dulu diterima di kampus seni ternama.

Mereka melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Yang menarik, seluruh proses pembelajaran di sanggar tersebut tidak dipungut biaya. Hari tidak pernah mematok tarif kepada para siswa yang mayoritas masih duduk di bangku SMA.

“Anak-anak bebas menggunakan alat lukis, mulai dari cat hingga kanvas. Saya ingin mereka fokus belajar tanpa terbebani biaya,” ujar Hari.

Metode pengajaran yang diterapkan pun terbilang unik. Ia tidak membatasi gaya melukis para muridnya. Sebaliknya, setiap siswa diarahkan sesuai minat dan karakter masing-masing.

Pendekatan santai namun kaya materi teknis tersebut terbukti efektif. Para siswa yang awalnya hanya melukis secara sederhana, perlahan mampu menguasai teknik dasar hingga menghasilkan karya yang lebih matang.

Keberhasilan ini semakin istimewa mengingat latar belakang Hari yang bukan berasal dari pendidikan seni formal.

Ia bahkan baru mulai serius menekuni dunia lukis saat usianya menginjak 40 tahun.

“Saya cukup telat. Mulai melukis itu usia 42 tahun, dan awalnya juga tidak sengaja,” ungkapnya.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang. Justru, pengalaman otodidaknya menjadi kekuatan dalam membimbing murid dengan pendekatan yang lebih membumi dan mudah dipahami.

Kini, Bravo Art Galery tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi bibit-bibit seniman muda di Banyuwangi.

Dedikasi Hari Sucipto membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu harus mahal.

Lebih dari sekadar mencetak pelukis, ia telah membuka jalan masa depan bagi generasi muda melalui seni.

Sebuah kontribusi nyata yang patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Hari Sucipto pelukis Banyuwangi Bravo Art Galery FSRD ITB seniman Genteng Kulon