RADARBANYUWANGI.ID – Situs bersejarah Situs Tondowongso menjadi salah satu peninggalan penting peradaban Hindu di Jawa Timur. Terletak di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, situs ini menyimpan struktur candi dan berbagai arca yang diperkirakan berasal dari era Kerajaan Medang pada abad XI–XII Masehi.
Penemuan situs ini bermula dari kejadian tak terduga pada akhir 2006, saat seorang warga menggali tanah untuk mencari sumber air di lahan tegalan.
Awal Penemuan dari Galian Warga
Juru Pelihara Situs Tondowongso, Edi Saputro, mengungkapkan bahwa penemuan awal situs ini berawal dari laporan masyarakat.
“Saat pemilik lahan menggali untuk mencari sumber air, ia justru menemukan arca serta struktur bangunan candi,” ujarnya.
Arca pertama yang ditemukan adalah arca Siwa Catur Muka, salah satu ikon penting dalam ajaran Hindu Siwaisme. Kini, arca tersebut telah diamankan dan disimpan di Museum Jayabaya.
Diduga Candi Pemujaan Era Mpu Sindok
Berdasarkan kajian arkeologi, situs ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Mpu Sindok, pendiri dinasti Isyana dari Kerajaan Medang.
Berbagai temuan arca seperti Siwa, Agastya, Durga, dan Nandi memperkuat dugaan bahwa situs ini merupakan kompleks candi pemujaan.
“Temuan arca dewa-dewa menunjukkan bahwa ini adalah tempat ibadah atau pemujaan umat Hindu pada masa itu,” jelas Edi.
Luas Situs Capai Belasan Hektare
Saat ini, area yang telah digali mencapai sekitar 9.700 meter persegi. Namun, berdasarkan penelitian, luas keseluruhan kompleks candi diperkirakan bisa mencapai hingga 17 hektare.
Potensi tersebut menjadikan Situs Tondowongso sebagai salah satu situs arkeologi terbesar di wilayah Kediri yang belum sepenuhnya terungkap.
Keunikan Sumber Air di Sekitar Candi
Salah satu keunikan Situs Tondowongso adalah adanya sumber air di sekitar fondasi candi yang kerap menggenang.
Fenomena ini menarik perhatian peneliti karena berkaitan dengan konsep spiritual dalam pembangunan candi Hindu yang sering berhubungan dengan unsur air.
Meski demikian, sumber air tersebut biasanya akan mengering saat musim kemarau.
Perawatan Dilakukan Bertahap
Sejak dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Kediri pada 2009, setelah proses pembebasan lahan, upaya pelestarian terus dilakukan.
Edi bersama tim rutin melakukan perawatan seperti membersihkan area, merawat tanaman, hingga menjaga struktur bangunan.
Namun, kondisi struktur yang lama tertimbun tanah membuatnya cukup rentan.
“Bangunan ini rawan roboh karena lama tertimbun. Sekarang mulai dipasang atap pelindung secara bertahap sesuai anggaran,” jelasnya.
Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata Sejarah
Situs ini kini tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga destinasi edukasi bagi pelajar dan pecinta sejarah.
Kunjungan biasanya ramai pada siang hingga sore hari, terutama dari kalangan siswa yang mencari referensi tugas sekolah.
“Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan pernah ada arkeolog dari 14 negara yang berkunjung ke sini,” ungkap Edi.
Potensi Wisata Sejarah Kediri
Dengan nilai sejarah yang tinggi, Situs Tondowongso memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah unggulan di Kediri.
Selain memperkaya pengetahuan sejarah, keberadaan situs ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata.
Situs Tondowongso menjadi bukti penting kejayaan peradaban Hindu di Jawa Timur, khususnya pada masa Kerajaan Medang. Penemuan yang bermula dari galian sederhana kini berkembang menjadi situs arkeologi bernilai tinggi.
Dengan pengelolaan yang tepat, situs ini berpotensi menjadi ikon wisata sejarah sekaligus pusat edukasi budaya yang menarik perhatian nasional hingga internasional. (*)
Editor : Ali Sodiqin