RADARBANYUWANGI.ID – Suasana Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, berubah riuh dan penuh warna pada Minggu (29/3/2026).
Ribuan warga tumpah ruah memadati sepanjang jalan protokol untuk menyaksikan tradisi sakral Kebo-keboan Boyolangu yang kembali digelar dengan meriah.
Tradisi ini merupakan bagian utama dari rangkaian Boyolangu Traditional Culture yang rutin diselenggarakan setiap tanggal 9 Syawal.
Kebo-keboan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol kuat pelestarian budaya lokal yang terus dijaga masyarakat di tengah arus modernisasi.
Menariknya, ritual ini juga menjadi pembuka menuju tradisi besar lainnya, yakni Puter Kayun yang digelar keesokan harinya. Sinergi dua tradisi ini memperlihatkan betapa kuatnya akar budaya masyarakat Boyolangu dalam merawat warisan leluhur.
Tradisi Kebo-keboan sendiri telah ada sejak 1950-an dan terus dilestarikan secara turun-temurun. Antusiasme warga pun tak pernah surut. Dari anak-anak hingga lansia, semua larut dalam suasana sakral sekaligus meriah.
Dalam prosesi ritual, sejumlah peserta berperan sebagai “kerbau” dengan tubuh dilumuri warna hitam pekat serta mengenakan tanduk buatan. Sebelum tampil, mereka menjalani ritual khusus menggunakan campuran kunyit dan beras yang dipercaya memiliki makna spiritual.
Para “kerbau” kemudian beraksi di tengah keramaian, menirukan gerakan membajak sawah hingga berinteraksi dengan warga. Adegan ini menghadirkan nuansa magis yang berpadu dengan hiburan rakyat, membuat penonton terpukau.
Sepanjang rute kirab, ribuan masyarakat turut mengikuti jalannya ritual, menciptakan lautan manusia yang bergerak bersama dalam satu irama budaya.
Ada yang berbeda pada gelaran tahun ini. Acara dibuka dengan sendratari “Kebo Cilik” yang dibawakan siswa-siswi SDN 1 Boyolangu. Penampilan ini menjadi simbol penting regenerasi budaya, agar nilai-nilai tradisi tetap hidup di kalangan generasi muda.
Puncak ritual dipimpin oleh sosok istimewa, Jessica Meidyas Putri yang berperan sebagai figur sentral, didampingi tokoh adat Ki Pramu.
Tokoh pemuda sekaligus tokoh adat Boyolangu, Slamet Darmadi, menegaskan bahwa Kebo-keboan merupakan identitas kolektif masyarakat setempat yang tidak bisa dipisahkan.
“Tradisi ini hampir setiap tahun digelar dan terus berkembang. Ini bagian dari jati diri masyarakat Boyolangu,” ujarnya.
Ia menambahkan, inovasi dalam penyelenggaraan terus dilakukan tanpa menghilangkan esensi ritual yang sarat nilai spiritual.
Lebih dari sekadar hiburan, Kebo-keboan adalah wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Kerbau dipilih sebagai simbol karena perannya yang sangat penting dalam kehidupan agraris masyarakat.
Tradisi ini sekaligus menjadi penghormatan terhadap alam dan bentuk harmoni antara manusia dengan lingkungan.
Dengan konsistensi pelestarian budaya, Boyolangu kini semakin dikenal sebagai salah satu pusat wisata budaya unggulan di Banyuwangi. Tradisi Kebo-keboan tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Ke depan, Boyolangu Traditional Culture diharapkan terus berkembang sebagai magnet wisata budaya, sekaligus benteng pelestarian tradisi di era modern. (*)
Editor : Ali Sodiqin