Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Macet Parah ke Ketapang, Tradisi Puter Kayun Boyolangu Banyuwangi Dialihkan Putar Kota

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 30 Maret 2026 | 21:00 WIB
PUTAR KOTA: Rombongan tradisi Puter Kayun berangkat dari Kelurahan Boyolangu, Senin (30/3). Gara-gara jalur menuju Watudodol macet, rute Puter Kayun cukup di jalanan kota Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PUTAR KOTA: Rombongan tradisi Puter Kayun berangkat dari Kelurahan Boyolangu, Senin (30/3). Gara-gara jalur menuju Watudodol macet, rute Puter Kayun cukup di jalanan kota Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi tahunan masyarakat Kelurahan Boyolangu, Giri, Banyuwangi, yakni Puter Kayun, tahun ini tidak berjalan seperti biasanya. 

Kemacetan parah menuju kawasan Pantai Watudodol dan Pelabuhan Ketapang memaksa iring-iringan warga mengalihkan rute hanya berputar di dalam kota Banyuwangi, Senin (30/3).

Tradisi yang rutin digelar setiap 10 Syawal tersebut sejatinya merupakan ritual napak tilas dari Boyolangu menuju Watudodol.

Namun, padatnya arus kendaraan pada momen arus balik Lebaran membuat jalur menuju lokasi tujuan tidak memungkinkan dilalui.

Akibatnya, iring-iringan dokar hias yang menjadi ciri khas Puter Kayun hanya melintasi jalanan kota tanpa mencapai titik akhir ritual.

Salah seorang kusir dokar, Abdul Mufid, 65, mengatakan bahwa tahun ini hanya ada dua dokar hias yang ikut serta. Dokar tersebut dihiasi ornamen naga emas di sisi kanan dan kiri.

“Saya sudah menjadi kusir sejak 1971. Setiap tahun selalu ikut Puter Kayun. Yang penting itu napak tilasnya,” ujarnya.

Menurutnya, meski rute berubah, semangat warga untuk menjaga tradisi tetap tidak surut. Warga tetap mengikuti iring-iringan dengan penuh antusias meski hanya berkeliling kota.

Ketua Panitia Puter Kayun, Risyal Alfani, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, khususnya Ki Buyut Jakso, tokoh yang diyakini berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.

Dalam cerita turun-temurun, Ki Buyut Jakso disebut berhasil membongkar gundukan batu besar yang menghalangi akses wilayah utara. Dari peristiwa itu, kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Watudodol, yang berarti batu yang didorong atau dibongkar.

“Puter Kayun adalah napak tilas perjalanan leluhur. Ini bukan sekadar tradisi, tapi bentuk penghormatan atas jasa mereka,” jelas Alfani.

Ia menambahkan, secara historis masyarakat Boyolangu banyak yang berprofesi sebagai kusir dokar. Karena itu, kendaraan tradisional tersebut digunakan sebagai sarana utama dalam ritual napak tilas.

Namun tahun ini, kemacetan panjang menuju Ketapang membuat perjalanan ke Watudodol tidak memungkinkan. Bahkan, upaya warga untuk mengakali dengan menggunakan kendaraan roda dua juga tidak mampu menembus kepadatan arus lalu lintas.

“Karena banyak pertimbangan, akhirnya ritual hanya dilakukan di dalam kota,” ujar Kusuma, salah satu warga Boyolangu.

Tradisi Puter Kayun sendiri merupakan puncak dari rangkaian kegiatan budaya masyarakat Boyolangu selama bulan Syawal. Sebelumnya, warga menggelar berbagai acara dalam rangkaian Boyolangu Traditional Culture.

Kegiatan tersebut diawali dengan Lebaran Kopat pada 7 Syawal, dilanjutkan tradisi Kebo-keboan pada 9 Syawal, hingga puncaknya Puter Kayun pada 10 Syawal.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus daya tarik wisata.

“Banyuwangi berkomitmen untuk terus mengangkat dan melestarikan tradisi lokal, termasuk Puter Kayun. Selain menjaga warisan budaya, ini juga menjadi atraksi wisata,” ujarnya.

Meski tahun ini pelaksanaannya tidak maksimal, semangat masyarakat Boyolangu dalam menjaga tradisi tetap menyala. Puter Kayun pun tetap menjadi simbol kuat identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #Puter Kayun Banyuwangi #Boyolangu Banyuwangi #Watudodol macet #tradisi Banyuwangi #budaya osing