Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jangan Lewatkan Tradisi Puter Kayun Banyuwangi, Napak Tilas Naik Dokar ke Pantai Watu Dodol Digelar Senin 30 Maret 2026

Ali Sodiqin • Minggu, 29 Maret 2026 | 12:52 WIB
Jangan lewatkan Puter Kayun Banyuwangi 30 Maret 2026. Napak tilas naik dokar, kenduri di Watu Dodol, nikmati wisata budaya Using. (banyuwangikab.go.id)
Jangan lewatkan Puter Kayun Banyuwangi 30 Maret 2026. Napak tilas naik dokar, kenduri di Watu Dodol, nikmati wisata budaya Using. (banyuwangikab.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi tahunan Puter Kayun kembali digelar di Banyuwangi, tepatnya akan digelar Senin besok, 30 Maret 2026. 

Ritual unik ini digelar warga Using Boyolangu, Kecamatan Giri, sebagai wujud syukur dan pemenuhan janji kepada leluhur mereka, Ki Buyut Jakso, yang membuka akses di wilayah utara Banyuwangi.

Setiap tahun, tepat pada hari ke-10 bulan Syawal, ratusan warga Boyolangu mengikuti prosesi napak tilas dengan menaiki dokar (delman) hias dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.

Sepanjang rute, masyarakat berpakaian hitam-hitam khas Using mengiringi dokar-dokar yang melaju meriah di jalan kampung hingga ke pantai.

Menurut Ahmad, salah seorang warga, tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga momen berkumpul dan berlibur bersama keluarga serta tetangga.

“Ini tradisi leluhur yang sangat menyenangkan. Bisa bareng-bareng tamasya dan selamatan di pantai Watu Dodol. Harus ikut sampai selesai ritual Puter Kayunnya, dan kembali bersama-sama pula,” ujarnya.

Sesampainya di Pantai Watu Dodol, acara dilanjutkan dengan kenduri atau makan bersama di sepanjang pantai sebagai ungkapan syukur atas rezeki setahun terakhir.

Tak hanya itu, tokoh adat menaburkan bunga ke laut sebagai penghormatan kepada para pendahulu yang meninggal saat membuka jalan di wilayah tersebut.

Ketua adat Puter Kayun, Mohamad Ikrom, menjelaskan sejarah tradisi ini. Konon, Ki Buyut Jakso membantu membuka jalan di bagian utara Banyuwangi atas permintaan pemerintah Belanda, setelah bersemedi di Gunung Silangu (sekarang Boyolangu).

Karena mayoritas masyarakat Boyolangu saat itu berprofesi sebagai kusir dokar, napak tilas dilakukan dengan menaiki dokar hingga disebut “lebarannya kusir dokar.”

Ritual Puter Kayun tidak dimulai begitu saja. Sebelum prosesi utama, masyarakat terlebih dahulu menggelar Kupat Sewu tiga hari sebelumnya.

Setiap rumah menyiapkan ketupat, lepet, dan makanan tradisional lain untuk dibagikan kepada tetangga serta menjadi bagian dari selamatan sepanjang jalan desa.

Hari berikutnya, berbagai atraksi budaya digelar, mulai dari tapekong, kebo-keboan, kuntulan, barong, ondel-ondel, gandrung, hadrah, hingga patrol, yang mengelilingi kampung.

Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan ziarah ke makam Buyut Jakso sebelum napak tilas Puter Kayun dimulai.

Tradisi Puter Kayun kini menjadi bagian penting dari agenda wisata Banyuwangi (Banyuwangi Festival). Wisatawan dapat menyaksikan nilai sejarah, budaya, dan kerukunan masyarakat Using dalam satu rangkaian acara yang memikat.

Tak hanya warga lokal, atraksi dokar yang dihias meriah, kenduri di pantai, dan tabur bunga ke laut menjadi daya tarik wisata budaya yang wajib dikunjungi bagi penggemar tradisi unik.

Dengan segala kemeriahan dan makna filosofisnya, Puter Kayun tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Using Banyuwangi sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang autentik bagi pengunjung. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya Banyuwangi #Puter Kayun Banyuwangi #Pantai Watu Dodol #tradisi Using #napak tilas dokar #boyolangu #Banyuwangi Festival