RADARBANYUWANGI.ID – Ritual adat Seblang Olehsari kembali menjadi magnet budaya di Kabupaten Banyuwangi pada momentum Idul Fitri tahun ini.
Tradisi sakral yang sarat nuansa mistis tersebut digelar selama tujuh hari berturut-turut, mulai Senin (23/3) hingga Minggu (29/3), di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual warisan leluhur ini sukses menyedot perhatian ribuan wisatawan.
Tidak hanya dari dalam daerah, pengunjung dari berbagai kota hingga mancanegara turut memadati lokasi untuk menyaksikan langsung prosesi unik yang hanya digelar setahun sekali tersebut.
Seblang Olehsari dikenal sebagai ritual adat yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam pelaksanaannya, seorang penari akan menari dalam kondisi tidak sadar.
Penari dipercaya dirasuki energi leluhur yang menggerakkan setiap langkahnya secara spontan, bahkan dalam kondisi mata terpejam sepanjang pertunjukan.
Tradisi ini rutin digelar setiap awal bulan Syawal sebagai bentuk ritual tolak bala dan bersih desa.
Masyarakat meyakini, melalui Seblang, desa akan terhindar dari berbagai marabahaya serta diberikan keselamatan dan keberkahan.
Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran pelaksanaan ritual tahun ini.
Ia menyebut, antusiasme masyarakat dan wisatawan menjadi bukti bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
“Saya sangat bersyukur ritual adat Seblang Olehsari tahun ini berlangsung lancar. Ritual sakral ini dapat disaksikan oleh masyarakat luas, baik warga lokal maupun luar Banyuwangi,” ujarnya.
Tahun ini, perhatian publik juga tertuju pada sosok penari baru, Sayu Apriliani (20). Ia menjalani debut sebagai penari Seblang menggantikan Putri Ramadhani yang telah menjalankan peran tersebut selama tiga tahun terakhir.
Sayu merupakan putri dari pasangan Muhammad Putra Wahyudi dan Irawati. Kehadirannya sebagai penari baru menambah daya tarik tersendiri dalam gelaran Seblang tahun ini.
Pemilihan penari Seblang bukan proses biasa. Selain harus memiliki garis keturunan dari penari sebelumnya, proses penunjukan juga melibatkan unsur supranatural. Hal ini semakin menegaskan kuatnya nilai spiritual yang melekat dalam tradisi tersebut.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut memberikan apresiasi atas keberlangsungan ritual Seblang sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur.
“Banyuwangi sangat kaya akan tradisi adat dan budaya. Kami akan tetap berupaya melestarikan tradisi ini sebagai warisan leluhur,” ungkapnya.
Menurut Ipuk, Seblang Olehsari kini tidak hanya menjadi ritual adat semata, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian dari daya tarik wisata unggulan daerah.
“Selain menjadi tradisi masyarakat, Seblang juga telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung di Banyuwangi selama libur Lebaran ini,” tambahnya.
Sebagai informasi, Banyuwangi memiliki dua tradisi Seblang yang masih lestari hingga saat ini. Selain di Desa Olehsari, ritual serupa juga digelar di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah.
Perbedaannya, di Bakungan penari Seblang adalah perempuan yang telah menopause, dan pelaksanaannya dilakukan setelah Hari Raya Idul Adha.
Sementara di Olehsari, penari berasal dari garis keturunan tertentu dan digelar setelah Idul Fitri.
Ketua Adat Desa Olehsari, Ansori, berharap ritual Seblang tahun ini membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Dengan adanya Seblang Olehsari ini, mudah-mudahan pemerintah desa serta masyarakat dijauhkan dari penyakit dan dimudahkan rezekinya untuk beribadah kepada Allah,” pungkasnya. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin