Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Barong Ider Bumi Kembali Digelar, Tradisi Sakral Suku Osing Banyuwangi Warnai Lebaran Kedua Idul Fitri

Ali Sodiqin • Minggu, 22 Maret 2026 | 16:31 WIB

Barong Ider Bumi Banyuwangi 2026 Digelar 2 Syawal, Ritual Tolak Bala Suku Osing Serap Ribuan Wisatawan
Barong Ider Bumi Banyuwangi 2026 Digelar 2 Syawal, Ritual Tolak Bala Suku Osing Serap Ribuan Wisatawan

RADARBANYUWANGI.ID - Perayaan Lebaran di Banyuwangi tidak hanya diwarnai dengan tradisi silaturahmi, tetapi juga ritual adat yang sarat makna.

Salah satunya adalah Barong Ider Bumi, tradisi turun-temurun masyarakat Suku Osing yang rutin digelar setiap tanggal 2 Syawal.

Tahun ini, ritual sakral tersebut kembali dilaksanakan pada Minggu, 22 Maret 2026, di Desa Kemiren.

Ribuan warga dan wisatawan tampak memadati desa adat tersebut sejak pagi hari untuk menyaksikan prosesi yang telah menjadi ikon budaya daerah.

Barong Ider Bumi bukan sekadar pertunjukan budaya. Tradisi ini dipercaya sebagai ritual tolak bala yang bertujuan mengusir wabah penyakit atau pageblug, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa.

Berawal dari Pageblug, Tradisi Bertahan Sejak 1800-an

Menurut cerita turun-temurun, tradisi Barong Ider Bumi telah ada sejak awal 1800-an. Ritual ini bermula ketika masyarakat Desa Kemiren dilanda wabah penyakit yang berkepanjangan.

Dalam kondisi tersebut, para sesepuh desa mendapatkan petunjuk spiritual di Makam Buyut Cili untuk menggelar ritual arak-arakan barong sebagai simbol penolak bala.

Sejak saat itu, tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Suku Osing.

Hingga kini, Barong Ider Bumi tetap dipercaya sebagai bentuk perlindungan spiritual bagi desa.

Arak-Arakan Barong Keliling Desa Jadi Puncak Ritual

Prosesi utama Barong Ider Bumi adalah arak-arakan barong yang mengelilingi desa.

Barong yang dianggap sebagai simbol penjaga dan pelindung desa diarak oleh warga, diiringi musik tradisional dan doa-doa.

Sepanjang perjalanan, masyarakat mengenakan busana adat Osing berwarna hitam. Tokoh adat, sesepuh, hingga warga dari berbagai kalangan turut ambil bagian dalam prosesi ini.

Suasana sakral berpadu dengan semangat kebersamaan terasa kental. Warga percaya, dengan mengelilingkan barong ke seluruh penjuru desa, segala marabahaya dapat diusir.

Tradisi Sembur Uthik-Uthik, Simbol Sedekah dan Tolak Bala

Salah satu momen yang paling dinantikan dalam rangkaian acara adalah tradisi Sembur Uthik-Uthik. Dalam prosesi ini, sesepuh desa menyebarkan uang koin yang dicampur dengan beras kuning dan bunga.

Bagi masyarakat, ritual ini memiliki makna mendalam. Selain sebagai simbol tolak bala, Sembur Uthik-Uthik juga menjadi bentuk sedekah dan harapan akan rezeki yang melimpah.

Tak heran, warga hingga wisatawan tampak antusias berebut uthik-uthik yang diyakini membawa keberkahan.

Pecel Pithik, Penutup Sakral Penuh Kebersamaan

Rangkaian ritual Barong Ider Bumi ditutup dengan selamatan makan bersama. Menu utama yang disajikan adalah pecel pithik, kuliner khas Suku Osing yang memiliki nilai simbolis.

Pecel pithik terbuat dari ayam kampung yang disuwir dan dicampur dengan parutan kelapa serta bumbu khas.

Hidangan ini menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang diberikan.

Tradisi makan bersama ini juga memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat.

Masuk Agenda Banyuwangi Festival, Sedot Ribuan Wisatawan

Seiring waktu, Barong Ider Bumi tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga bagian dari kalender wisata daerah melalui Banyuwangi Festival.

Setiap tahunnya, tradisi ini mampu menarik ribuan pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain menyaksikan ritual, pengunjung juga dapat menikmati suasana desa adat Osing yang masih kental dengan tradisi.

Pemerintah daerah pun terus mendorong pelestarian tradisi ini sebagai daya tarik wisata budaya unggulan.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Barong Ider Bumi menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat penting di tengah modernisasi.

Bagi masyarakat Desa Kemiren, ritual ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga identitas yang harus dijaga.

Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, tradisi ini diharapkan terus lestari dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga kearifan lokal.

Di tengah arus globalisasi, Barong Ider Bumi tetap berdiri sebagai simbol kekuatan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Osing di Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata budaya #pecel pithik #desa kemiren #ritual tolak bala #barong ider bumi #Banyuwangi Festival #tradisi suku Osing Kemiren