Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Festival Layar Puan Pesisir di Muncar Banyuwangi, Perempuan Nelayan Bekerja hingga 20 Jam Sehari

Zamrozi Wahyu • Selasa, 17 Februari 2026 | 06:00 WIB

Penampilan penari gandrung di atas perahu nelayan yang hendak berangkat melaut memeriahkan pembukaan Festival Layar Puan Pesisir di Pelabuhan Muncar, Minggu (15/2).
Penampilan penari gandrung di atas perahu nelayan yang hendak berangkat melaut memeriahkan pembukaan Festival Layar Puan Pesisir di Pelabuhan Muncar, Minggu (15/2).

RADARBANYUWANGI.ID – Ketangguhan perempuan pesisir kembali mendapat panggung.

Nelayan di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar Festival Layar Puan Pesisir selama lima hari, mulai Minggu (15/2) hingga Kamis (19/2).

Festival bertajuk “Layar Puan Pesisir” ini menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi atas peran vital perempuan dalam kehidupan masyarakat nelayan.

Kegiatan dipusatkan di kawasan Pelabuhan Muncar, salah satu sentra perikanan terbesar di Indonesia.

Selama lima hari, rangkaian acara meliputi seminar, pelatihan, pemutaran film, hingga produksi karya seni berbentuk film yang mengangkat tema pangan dan papan perempuan pesisir.

Sebanyak 50 peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi dilibatkan dalam kegiatan ini.

Mereka ditantang memproduksi film yang merekam kehidupan perempuan pesisir secara langsung.

Para peserta juga tinggal di penginapan yang lokasinya berdekatan dengan rumah warga untuk merasakan pengalaman hidup bersama masyarakat setempat.

Panitia Festival Layar Puan Pesisir, Miftah, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar kegiatan seni. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengakuan sosial atas kerja panjang dan berat perempuan pesisir.

“Perempuan pesisir bisa bekerja 14 sampai 20 jam dalam sehari dan masih harus dilanjut dengan aktivitas domestik dan sosial,” ujarnya.

Penyokong Utama Ekonomi Keluarga Nelayan

Selama ini, perempuan pesisir dikenal sebagai penyokong utama para suami yang bekerja sebagai nelayan. Namun peran mereka kerap luput dari sorotan.

Saat para suami melaut dengan ketidakpastian hasil tangkapan, para istri tidak tinggal diam.

Mereka mengolah hasil laut, mulai dari membersihkan, mengasinkan, mengeringkan, hingga menjual ikan segar ke pasar maupun tempat pelelangan ikan.

Tidak sedikit pula yang mengembangkan usaha lain seperti membuka toko kelontong atau warung makan untuk menambah pemasukan keluarga.

Ketergantungan pada hasil laut membuat perempuan pesisir harus cermat mengelola keuangan rumah tangga, terutama saat musim paceklik.

“Intinya perempuan pesisir itu sangat hebat dan kuat. Mereka bisa hidup dengan ketidakpastian sehari-harinya. Sebagai istri nelayan, mereka sangat bergantung dengan hasil laut,” tegas Miftah.

Angkat Tema “Papan Perempuan Pesisir”

Festival ini digagas bersama Manamjupan Performing Arts Studio dengan tema “Papan Perempuan Pesisir di Wilayah Pelabuhan Muncar”.

Selain produksi film, peserta mengikuti seminar dan telusur aktivitas perempuan pesisir.

Ada pula pelatihan pembuatan rujak kelang, kuliner khas Muncar yang berbahan dasar hasil laut. Pelatihan ini sekaligus memperkenalkan kearifan lokal pangan masyarakat pesisir.

Menurut Miftah, festival ini menjadi ruang edukasi sekaligus advokasi budaya.

“Kegiatannya membuat karya berupa film, serta terdapat seminar dan telusur kegiatan wanita pesisir, serta pelatihan pembuatan rujak kelang yang menjadi makanan khas Muncar,” ungkapnya.

Dibuka dengan Ritual Adat Terinspirasi Petik Laut

Pembukaan festival pada Minggu (15/2) berlangsung khidmat dan sarat makna budaya. Acara diawali dengan ritual sebelum nelayan berangkat melaut yang terinspirasi dari tradisi petik laut.

Tradisi petik laut sendiri merupakan ritual selamatan masyarakat pesisir sebagai ungkapan syukur sekaligus doa keselamatan bagi nelayan saat melaut. Dalam pembukaan festival, doa bersama digelar untuk para sesepuh dengan harapan keselamatan dan keberkahan.

“Kita gelar doa bersama untuk sesepuh, tujuannya meminta keselamatan dan keberkahan,” imbuh Miftah.

Ritual dilengkapi tumpeng dan penampilan penari gandrung, kesenian khas Banyuwangi. Seorang penari gandrung kontemporer bahkan menari di atas perahu sebagai simbol penghormatan pada laut dan kehidupan pesisir.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas. Warga tidak hanya menyediakan perahu, tetapi juga ikut menari bersama. Suasana pembukaan festival pun berlangsung meriah sekaligus penuh makna.

Hasil Film Ditayangkan di Dusun Kalimoro

Sebagai puncak kegiatan, film hasil produksi peserta akan ditayangkan pada Kamis (19/2) di Dusun Kalimoro, Kecamatan Muncar.

Film tersebut menggambarkan peran perempuan pesisir dalam menopang ekonomi keluarga serta kearifan lokal terkait pangan dan papan dalam kehidupan sehari-hari.

Festival Layar Puan Pesisir di Muncar Banyuwangi ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya peran perempuan dalam ekosistem perikanan. Di balik perahu-perahu yang berlayar dan hasil laut yang melimpah, ada perempuan-peremp

uan tangguh yang bekerja nyaris tanpa jeda.

Mereka bukan sekadar istri nelayan. Mereka adalah penggerak ekonomi keluarga, penjaga tradisi, sekaligus penopang utama kehidupan pesisir. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#film #Festival Layar Puan Pesisir #banyuwangi #muncar