RADARBANYUWANGI.ID - Pemandangan berbeda kini menyambut siapa pun yang melintas di Jalan Agung Suprapto, Banyuwangi.
Tepat di samping SMP Muhammadiyah 3 Banyuwangi, sebuah patung Bunda Maria berdiri anggun di halaman Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Damai.
Balutan kebaya putih, jarik batik Gajah Oling khas Banyuwangi, serta selendang biru yang menjuntai lembut menjadikan patung tersebut tampak menyatu dengan kearifan lokal Bumi Blambangan.
Patung Bunda Maria berkebaya Gajah Oling itu digagas oleh Romo Andreas Adhi Prasetyo.
Pengerjaannya melibatkan seniman lintas agama sejak Juli 2025, sebelum akhirnya diresmikan pada 2 Februari 2026.
Kehadiran patung tersebut bukan hanya memperindah halaman gereja, tetapi juga menjadi simbol perjumpaan iman, budaya, dan keberagaman di Banyuwangi.
Sekilas, patung Bunda Maria itu menampilkan wajah perempuan desa Banyuwangi.
Ekspresi teduh dan sederhana yang terpancar berbeda dengan patung Bunda Maria pada umumnya yang banyak dijumpai di gereja-gereja.
Tak heran jika patung ini menjadi pusat perhatian, baik bagi umat Katolik yang datang berdoa maupun masyarakat umum yang sekadar melintas.
Rabu (4/2), Romo Andreas Adhi Prasetyo mengajak wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi mengunjungi Taman Doa Bunda Maria Welas Asih yang berada di halaman Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Damai.
Di taman doa tersebut, patung Bunda Maria tampak tanpa alas kaki, berdiri sederhana namun penuh makna.
Selain busana adat Banyuwangi, patung tersebut juga dilengkapi ornamen 12 bintang berwarna emas yang melingkar di bagian belakang kepala Bunda Maria.
Ornamen tersebut sarat dengan makna Kekatolikan. Di bagian belakang bangunan patung, terukir tulisan Magnificat atau Kidung Maria yang tertulis dalam Injil Lukas 1:46–55.
Romo Adhi mengungkapkan, ide menghadirkan patung Bunda Maria berbusana adat Banyuwangi berangkat dari pengalamannya bersentuhan langsung dengan kearifan lokal masyarakat setempat.
“Ide itu muncul ketika saya melihat kearifan lokal Banyuwangi yang sangat kental. Saya sering menghadiri dan ikut bagian dalam acara adat. Ketika melihat para sesepuh simbah yang selalu mengenakan kebaya dan jarik bermotif Gajah Oling klasik, ada kesan yang sangat kuat,” ujarnya.
Menurutnya, ada rasa kesejukan dan keteduhan yang ia rasakan setiap kali melihat para sesepuh perempuan Banyuwangi dalam berbagai kegiatan adat.
“Rasanya adem ketika melihat simbah-simbah, apalagi saat mereka menyiapkan acara, menyuguhkan makanan, atau ikut berpartisipasi dalam tradisi seperti Ider Bumi dan Ngopi Sewu di Kemiren,” tambahnya.
Taman Doa Bunda Maria Welas Asih, lanjut Romo Adhi, dipersembahkan untuk umat Katolik di Banyuwangi sekaligus untuk Bumi Blambangan secara keseluruhan.
Dalam tradisi Gereja Katolik, setiap elemen busana yang dikenakan Bunda Maria memiliki makna rohani yang mendalam.
“Kebaya putih yang dikenakan Bunda Maria bukan sekadar busana. Warna putih melambangkan kemurnian, ketulusan, dan kesederhanaan,” jelasnya.
Sementara itu, selendang biru yang dikenakan patung Bunda Maria juga memiliki makna tersendiri.
Dalam tradisi Gereja Katolik, warna biru kerap melambangkan kesetiaan, iman yang teguh, dan keteduhan.
Adapun pemilihan jarik bermotif batik Gajah Oling memiliki pesan yang sangat kuat.
Motif khas Banyuwangi tersebut dimaksudkan agar Bunda Maria benar-benar hadir sebagai ibu bagi umat Katolik di Banyuwangi.
“Pemakaian jarik Gajah Oling menegaskan bahwa Bunda Maria hadir sebagai Ibu umat Katolik di Banyuwangi, bukan sebagai sosok asing,” tegas Romo Adhi.
Ia juga mengungkapkan bahwa patung Bunda Maria tersebut dikerjakan oleh seniman pematung Dedy Purnomo asal Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.
Proses pengerjaan ornamen dan elemen pendukung lainnya melibatkan teman-teman lintas iman, termasuk dari kalangan Muslim.
“Yang mengerjakan patung Bunda Maria ini merupakan lintas iman. Ini menjadi simbol keberagaman di Banyuwangi yang sangat kuat,” ujarnya.
Pembangunan Taman Doa Bunda Maria Welas Asih dimulai pada Juli 2025 dan rampung awal 2026.
Romo Adhi berharap, keberadaan patung dan taman doa ini dapat menjadi sarana pembelajaran spiritual sekaligus ruang refleksi bagi umat Katolik.
“Harapan saya, umat Katolik di Banyuwangi dapat belajar meneladani Bunda Maria yang berbelas kasih, penuh kedamaian, dan mampu hadir di tengah masyarakat Banyuwangi yang majemuk,” pungkasnya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin