Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Desa Adat Kemiren Banyuwangi Jadi Magnet Wisata Budaya, Generasi Muda Turut Jaga Tradisi Oseng

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 2 Februari 2026 | 05:30 WIB

Wisatawan menikmati kopi pada Festival Ngopi Sepuluh Ewu di jalan utama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah 8 November 2025 lalu.
Wisatawan menikmati kopi pada Festival Ngopi Sepuluh Ewu di jalan utama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah 8 November 2025 lalu.

RADARBANYUWANGI.ID — Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terus mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi wisata adat unggulan di ujung timur Pulau Jawa.

Desa ini dikenal memiliki kekayaan adat dan budaya Suku Oseng, suku asli Bumi Blambangan, yang hingga kini masih terjaga dan dilestarikan secara turun-temurun.

Keunikan adat istiadat yang berpadu dengan panorama alam pedesaan yang asri menjadikan Desa Kemiren sebagai tujuan favorit wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman).

Tak hanya itu, eksistensi Desa Kemiren sebagai desa adat juga kerap mengantarkannya meraih berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kepala Desa Kemiren Mohammad Arifin melalui Sekretaris Desa (Sekdes) Suprianto menyampaikan bahwa kekuatan utama Desa Kemiren terletak pada adat dan budaya.

Oleh karena itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Kemiren secara konsisten memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan adat dan budaya yang menjadi identitas desa.

“Potensi Desa Kemiren adalah adat dan budaya. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, kami terus memberikan dukungan terhadap kegiatan adat dan budaya. Kami memiliki tiga ritual adat dan satu kegiatan budaya utama, seperti Ider Bumi, Tumpeng Sewu, dan Ngopi Sepuluh Ewu, serta masih banyak ritual adat lainnya,” ujar Suprianto.

Ritual-ritual tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menyedot ribuan pengunjung setiap tahunnya.

Tumpeng Sewu, misalnya, dikenal sebagai salah satu tradisi adat yang paling ikonik di Banyuwangi, dengan ribuan tumpeng disajikan serentak di sepanjang jalan desa.

Dalam setiap pelaksanaan kegiatan adat dan budaya, Pemdes Kemiren secara aktif melibatkan generasi muda.

Suprianto menegaskan bahwa peran pemuda sangat vital dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya Suku Oseng agar tidak tergerus oleh zaman.

“Kami selalu melibatkan generasi muda, baik dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) maupun karang taruna. Mereka juga selalu menjadi panitia ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan adat dan budaya,” katanya.

Tak hanya sebatas kepanitiaan, generasi muda juga dilibatkan secara langsung dalam prosesi ritual adat.

Keterlibatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki serta tanggung jawab terhadap pelestarian budaya lokal.

“Alasan generasi muda selalu terlibat adalah agar mereka tahu, memahami, dan ikut melestarikan adat serta budaya yang ada di Desa Kemiren,” tambah Suprianto.

Upaya pelestarian budaya yang konsisten tersebut membuahkan hasil. Desa Adat Kemiren mendapatkan berbagai pengakuan bergengsi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Terbaru, pada Oktober 2025, Desa Kemiren terpilih masuk dalam Upgrade Programme of the Best Tourism Villages by UN Tourism 2025.

Dalam ajang tersebut, Desa Kemiren berhasil lolos dari proses seleksi ketat dengan bersaing bersama 270 kandidat desa wisata dari 65 negara di dunia.

Capaian ini semakin mengukuhkan posisi Desa Kemiren sebagai destinasi wisata budaya berkelas internasional.

Seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, dampak positif juga dirasakan langsung oleh perekonomian masyarakat desa.

Berbagai sektor mengalami pertumbuhan signifikan, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola homestay, hingga para seniman dan pelaku kesenian tradisional.

“Peningkatan pariwisata di Desa Kemiren berdampak langsung pada meningkatnya perekonomian masyarakat. UMKM, homestay, hingga kesenian menjadi sektor yang paling merasakan manfaatnya,” ungkap Suprianto.

Meski demikian, di tengah pesatnya perkembangan pariwisata, Desa Kemiren juga dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah pengaruh budaya luar yang berpotensi menggeser nilai-nilai adat dan tradisi lokal.

“Tantangan kami adalah bagaimana mengantisipasi pengaruh dari luar. Kami harus bisa merangkul seluruh elemen masyarakat agar tetap menjaga adat dan pariwisata yang ada di Desa Kemiren,” jelasnya.

Untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian budaya, Pemdes Kemiren berkomitmen memberikan pengalaman wisata yang edukatif dan berkelanjutan.

Setiap wisatawan yang berkunjung akan disuguhkan berbagai atraksi budaya, mulai dari kesenian tradisional, rumah adat Oseng, hingga produk-produk UMKM lokal.

“Kami sajikan kesenian, rumah adat, serta produk UMKM lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata di Desa Kemiren,” katanya.

Ke depan, Pemerintah Desa Kemiren berkomitmen untuk terus menjaga eksistensi desa adat dengan melestarikan budaya Suku Oseng secara berkelanjutan.

Berbagai inovasi pariwisata berbasis budaya akan terus dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.

“Kami ingin terus eksis dengan menjaga adat dan budaya, serta berencana terus mengembangkan destinasi wisata yang ada di Desa Kemiren agar tetap lestari dan berdaya saing,” pungkas Suprianto. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi #wisata budaya #Desa Kemiren Banyuwangi #oseng