Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dedikasi Tak Lekang Usia, Jaswadi Peraih SoJ Award 2026 Dibidik Kemenbud sebagai Maestro Rengganis

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 30 Januari 2026 | 05:00 WIB

Jaswadi menerima penghargaan SoJ Awards 2026 dari Manajer Pemasaran JP-RaBa Elly Irwan Suryanto di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Rabu malam (28/1).
Jaswadi menerima penghargaan SoJ Awards 2026 dari Manajer Pemasaran JP-RaBa Elly Irwan Suryanto di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Rabu malam (28/1).

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai budaya lokal, sosok Jaswadi tetap berdiri tegak sebagai penjaga seni tradisi Banyuwangi.

Di usianya yang telah menginjak 88 tahun, Jaswadi masih aktif berkesenian dan membina generasi muda.

Dedikasinya itulah yang mengantarkannya meraih Sunrise of Java (SoJ) Award 2026 sekaligus menarik perhatian Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI.

Jaswadi dikenal luas sebagai pelestari kesenian rengganis, salah satu kesenian tradisional khas Banyuwangi yang kini kian jarang dipentaskan.

Sepanjang hidupnya, Jaswadi mendedikasikan diri untuk menjaga agar kesenian tersebut tidak punah ditelan zaman.

Melalui sanggar seni miliknya, Sanggar Mitra Remaja yang berlokasi di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Jaswadi secara konsisten melatih anak-anak muda.

Ia ingin memastikan regenerasi seniman tetap berjalan dan generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya.

Ketertarikan Jaswadi pada dunia seni bermula sejak usia belia. Ia mulai mengenal dan mempelajari seni pertunjukan pada usia 14 tahun, tepatnya pada 1952.

“Saya dulu mulai belajar seni umur 14 tahun, sekitar tahun 1952,” kenangnya.

Tanpa latar belakang pendidikan seni formal, Jaswadi menimba ilmu secara otodidak.

Ia belajar dengan mengamati langsung pertunjukan seni, lalu mempraktikkannya sendiri.


“Saya belajar otodidak. Lihat orang menari, kemudian saya pelajari dan saya praktikkan,” ujarnya.

Karier seni Jaswadi tidak serta-merta dimulai dari kesenian rengganis. Pada akhir 1959, ia justru terjun ke dunia ketoprak.

Bersama kelompoknya, ia berkeliling dari kota ke kota di Pulau Jawa hingga Jakarta menggunakan mobil.

“Awal karier saya tahun 1959, ikut kesenian ketoprak dan berkeliling ke berbagai kota sampai Jakarta,” tuturnya.

Dalam perjalanannya, Jaswadi mempelajari beragam seni tradisional, mulai dari ketoprak, jaranan, ludruk, hingga janger.

Rasa ingin tahu yang besar membuatnya terus menggali dan memperkaya pengetahuan seni hingga akhirnya mendalami kesenian rengganis.

Salah satu sosok yang paling menginspirasi Jaswadi adalah almarhum Sumitro Hadi, seniman Banyuwangi sekaligus pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Kecamatan Rogojampi.

“Inspirasi saya adalah Sumitro Hadi. Beliau seniman yang mencetuskan tari di Banyuwangi. Saya sangat salut dengan dedikasi beliau,” ungkapnya.

Pengalaman pentas Jaswadi pun tak diragukan. Selain berkeliling Jawa bersama kelompok ketoprak, ia pernah dipercaya mewakili Banyuwangi tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada masa kepemimpinan Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik.

“Saya pernah diutus tampil di TMII atas nama daerah,” katanya.

Kini, Jaswadi memilih tidak lagi aktif berkeliling tampil ke berbagai daerah. Fokus utamanya adalah membina generasi muda di Sanggar Mitra Remaja.

Di sela aktivitas melatih seni, ia tetap bertani untuk menyambung hidup.

“Saya sekarang fokus mengajar anak-anak muda di sanggar, sambil bertani,” ujarnya.

Dedikasi panjang Jaswadi terhadap pelestarian seni di Bumi Blambangan berbuah apresiasi.

Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) menganugerahkan Sunrise of Java (SoJ) Award 2026 kepada Jaswadi.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara yang digelar di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Rabu malam (28/1).

Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas kiprah dan konsistensi Jaswadi dalam menjaga eksistensi kesenian rengganis khas Banyuwangi.

Di usia senjanya, Jaswadi menyimpan harapan besar agar kesenian tradisional Banyuwangi tetap lestari dan tidak punah.

Ia menaruh harapan pada generasi muda sebagai penerus estafet pelaku seni.

“Mudah-mudahan kesenian Banyuwangi jangan sampai punah. Karena itu saya terus mencari bibit-bibit penerus,” tuturnya.

Sementara itu, kiprah Jaswadi juga mendapat perhatian dari Kementerian Kebudayaan RI.

Direktur Promosi Budaya Kemenbud RI, Undri SS MSi, yang hadir mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam acara SoJ Award 2026, menyatakan pihaknya akan mengusulkan Jaswadi sebagai calon penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI).

“Kami akan mengusulkan ke direktorat yang menangani AKI,” ujarnya.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, langsung menindaklanjuti sinyal positif tersebut.

Ia menghubungi Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI, khususnya bagian yang menangani usulan penerima AKI.

“Kami dianjurkan mengusulkan Mbah Jaswadi sebagai maestro kesenian rengganis, karena kesenian ini sudah hampir punah,” jelasnya.

Hasan menambahkan, usia Jaswadi yang telah mencapai 88 tahun menjadi salah satu pertimbangan penting.

Apalagi, penghargaan SoJ Award 2026 dinilai dapat memperkuat usulan tersebut.

“Penganugerahan SoJ Award dari Jawa Pos Radar Banyuwangi tentu menjadi nilai tambah,” imbuhnya.

Pihak Kemenbud juga menyarankan agar segera mengumpulkan berbagai dokumen pendukung terkait kiprah Jaswadi, terutama dokumentasi digital.

“Pengajuan maestro biasanya dibuka Juni atau Oktober. Kami akan dikirimi contoh pengajuan maestro,” pungkas Hasan. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #seni #Sunrise Of Java Award #rengganis #banyuwangi #Maestro #Kemenbud #janger