RADARBANYUWANGI.ID – Ribuan warga memadati Taman Blambangan, Banyuwangi, Rabu malam (31/12).
Mereka mengikuti malam refleksi akhir tahun yang diisi doa bersama, selawatan, serta penampilan Band Letto. Suasana benar-benar meriah meski tanpa hingar-bingar nyala kembang api.
Meski sempat diguyur hujan di awal acara, tidak menyurutkan antusiasme warga. Ribuan masyarakat tetap memadati Taman Blambangan hingga penghujung malam untuk merayakan tahun baru dengan cara yang sederhana, namun penuh makna refleksi.
Refleksi akhir tahun dihadiri Bupati Ipuk Fiestiandani, Wabup Mujiono, dan unsur lengkap Forkopimda. Hadir juga sejumlah tokoh agama.
Di antaranya KH Zainullah Marwan, KH Toha Muntaha, KH Hasan Toha, KH Ahmad Wahyudi, KH Riza Azizy, Ketua MUI Banyuwangi KH Muhaimin Asmuni, serta para ulama lainnya.
Bupati Ipuk Fiestiandani dalam sambutannya menyampaikan dua nasihat penting dari tokoh Indonesia. Ia mengutip pesan Buya Hamka yang mengingatkan bahwa kegagalan dan keberhasilan harus disikapi dengan bijak.
“Buya Hamka mengatakan bawasannya kegagalan bukan untuk disesali tetapi untuk diperbaiki, keberhasilan bukan untuk disombongkan, tetapi untuk disyukuri,” ujar Ipuk.
Selain itu, Ipuk juga menyampaikan pesan dari KH Ahmad Mustofa Bisri terkait sikap dalam menjalani kehidupan.
”Dalam hidup ini gunakan dua cermin, satu untuk melihat kekuranganmu dan satu lagi untuk melihat kelebihan orang lain,” katanya.
Menurut Ipuk, pesan-pesan tersebut sangat sejalan dengan makna kegiatan refleksi akhir tahun yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pesan ini sesuai dengan makna kegiatan malam itu.
”Muhasabah bukan untuk menyalahkan tetapi untuk menguatkan, serta refleksi bukan untuk merendahkan diri atau orang lain tetapi untuk naik satu tangga lebih tinggi dalam nilai kebijaksanaan dan juga kemanusiaan,” tutur Ipuk.
Ipuk menambahkan, setiap peristiwa yang dialami manusia mengandung pelajaran berharga.
“Dari keberhasilan yang kita peroleh kita belajar bersyukur, dari kegagalan yang kita alami kita belajar bersabar, dari musibah yang kita alami kita belajar untuk lebih dekat dengan Allah,” ungkapnya.
Dalam suasana refleksi tersebut, Ipuk juga mengajak masyarakat untuk ikut merasakan duka saudara-saudara sebangsa yang tengah tertimpa musibah.
Dikatakan Ipuk, tidak semua masyarakat menutup tahun dengan kegembiraan, ada juga yang sedang diuji dengan musibah, baik bencana alam, kesulitan ekonomi, bahkan kehilangan orang tersayang.
”Untuk itu pada malam ini kita penuhi dengan doa untuk saudara kita yang tengah tertimpa cobaan,” katanya.
Menutup Tahun dengan Prestasi
Ipuk menyebutkan, Banyuwangi menutup tahun 2025 dengan banyak prestasi yang diraih berkat kerja sama dan gotong royong semua pihak.
“Prestasi yang kita raih merupakan hasil gotong royong bersama. Semoga di tahun 2026 kita mampu melanjutkan hal-hal baik secara bersama sehingga saling membantu,” ujarnya.
Namun demikian, Ipuk menegaskan bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan menyambut tanggung jawab yang lebih besar.
Ipuk menyadari bahwa tantangan ke depan tidak semakin ringan, dinamika global, perubahan iklim, transformasi digital, dan ketidakpastian ekonomi.
”Selain itu tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi menuntut kita untuk terus beradaptasi dan inovatif,” tegasnya.
Dalam malam refleksi tersebut, Ipuk juga menyapa Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) yang berada di Sumatera dan Aceh secara daring yang ditampilkan dilayar panggung.
“Kami turut berduka atas musibah yang dialami saudara-saudara kita. Semoga Ikawangi di Aceh dan Sumatera selalu dilindungi Allah dan segera pulih,” ucapnya.
Kapolresta Rama Pamitan
Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra mengatakan, tidak digelarnya pesta kembang api merupakan bentuk empati atas musibah yang terjadi di Sumatera dan Aceh.
“Malam hari ini dengan imbauan yang telah dikeluarkan oleh Pemkab sebagai wujud empati duka yang terjadi di Sumatera dan Aceh, untuk sementara tidak direkomendasikan kembang api,” kata Rama.
Dalam kesempatan tersebut, Rama juga berpamitan kepada masyarakat Banyuwangi karena akan melanjutkan tugas di tempat yang baru.
“Dengan penuh rendah hati, saya berpamitan karena harus menjalankan tugas di tempat yang baru. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Banyuwangi atas dukungan dan kerja samanya. Alhamdulillah situasi Banyuwangi tetap aman dan kondusif,” tuturnya.
Vokalis Letto Sangat Terkesan
Malam refleksi tahun baru juga diisi dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh para kiai Bumi Blambangan, salah satunya Ketua MUI Banyuwangi KH. Muhaimin Asymuni.
Acara kemudian ditutup dengan penampilan band kawakan dari Jogjakarta Letto yang menghipnotis ribuan penonton.
Di tengah perform, vokalis Letto Sabrang Mowo Damar Panuluh, alias Noe mengaku terkesan dengan konsep perayaan tahun baru di Banyuwangi.
“Baru pertama kali ini kita mengalami tahun baru bukan dengan hingar-bingar perayaan, tetapi dengan renungan,” ujarnya.
Noe menambahkan, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus, akan tetapi setiap orang bisa memulai perjalanan yang lebih baik lagi.
“Tahun ini tidak semuanya berjalan indah, selalu ada yang menjadi sandaran hati. Kita bukan merayakan tahun baru, tetapi kita ingat bahwa kita selalu bisa memulai perjalanan yang baru,” katanya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin