Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ribuan Penari Ramaikan Festival Gandrung 'Dari Masa ke Masa', Banyuwangi Lestarikan Identitas Budaya Daerah

Ali Sodiqin • Senin, 29 Desember 2025 | 00:25 WIB

Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” digelar Banyuwangi, diikuti 1.500 penari dari Jawa dan Bali sebagai upaya melestarikan Tari Gandrung.
Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” digelar Banyuwangi, diikuti 1.500 penari dari Jawa dan Bali sebagai upaya melestarikan Tari Gandrung.

RADARBANYUWANGI.ID – Upaya melestarikan sekaligus mempromosikan Tari Gandrung terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara berkelanjutan.

Salah satunya melalui kompetisi Tari Gandrung yang dikemas dalam Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”, yang sukses menyedot perhatian ribuan penari dari berbagai daerah di Pulau Jawa hingga Bali.

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” digelar selama tiga hari, mulai 24 hingga 26 Desember 2025, di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu).

Ajang ini diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai kategori, mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga kategori umum.

Peserta tidak hanya berasal dari Banyuwangi dan Jawa Timur, tetapi juga datang dari Yogyakarta, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali.

Kehadiran peserta lintas daerah ini menunjukkan bahwa Tari Gandrung telah berkembang dan dikenal luas di luar Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Tari Gandrung merupakan identitas budaya Banyuwangi yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan kebersamaan.

Menurutnya, festival ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi. Lomba ini bukan hanya kompetisi, tetapi upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025), sebagaimana dikutip dari banyuwangikab.go.id.

Ipuk menambahkan, festival ini juga menjadi ruang ekspresi dan pembelajaran bagi generasi muda agar mencintai, memahami, dan mengembangkan seni tradisi daerahnya sendiri.

“Lomba ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” ujarnya.

Bupati Ipuk juga menyampaikan apresiasi kepada para pegiat seni, sanggar tari, komunitas budaya, serta semua pihak yang konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung dan mempromosikannya hingga ke tingkat nasional maupun internasional.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah menginisiasi dan mendukung kegiatan ini. Upaya seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan budaya,” imbuhnya.

Inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”, Sabar Haryanto, mengatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun ketiga pelaksanaan festival tersebut. Setiap tahun, ribuan peserta selalu ambil bagian dalam ajang ini.

“Sebagai pegiat seni daerah, ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Tari Gandrung, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Sabar yang juga pengasuh Sanggar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia secara khusus mengundang sanggar dan komunitas tari dari luar daerah.

Hal ini dilakukan karena Tari Gandrung kini telah banyak dipelajari dan ditarikan oleh penari di berbagai daerah.

“Alhamdulillah, peserta dari luar kota cukup banyak. Padahal kami hanya mengabarkan melalui surat. Ini menunjukkan Tari Gandrung sudah familiar dan diminati,” jelasnya.

Dalam kompetisi tersebut, para peserta membawakan delapan variasi Tari Gandrung.

Di antaranya Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan, serta variasi lainnya.

“Kompetisi ini juga menjadi sarana mengenalkan berbagai jenis Tari Gandrung. Karena Gandrung memiliki banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, dan kreativitas seniman,” terang Sabar.

Antusiasme juga datang dari peserta luar daerah. Salah satunya Nasseh, pelatih tari asal Lumajang, yang menurunkan dua grup penari dalam festival tersebut.

Menurutnya, Tari Gandrung telah menjadi tarian yang cukup dikenal di komunitasnya.

“Kami mulai latihan khusus sejak November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Tari Gandrung,” katanya.

Sementara itu, Ikrom, pelajar kelas IX SMPN 1 Tempeh Lumajang, mengaku senang bisa tampil langsung di Banyuwangi, daerah asal Tari Gandrung.

Dengan latar belakang penari berbagai genre, ia merasa tertantang sekaligus bangga bisa membawakan Gandrung Marsan, tari Gandrung yang khusus ditarikan oleh laki-laki.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa membawakan dengan baik dan masuk final,” ujarnya.

Melalui Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”, Banyuwangi kembali menegaskan komitmennya menjadikan seni budaya sebagai kekuatan identitas sekaligus daya tarik daerah, yang terus hidup dan berkembang lintas generasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #penari gandrung #seni #festival #banyuwangi #gandrung