RADARBANYUWANGI.ID - Pameran seni rupa bertajuk ”Lereme Roso” digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254.
Pameran tersebut resmi dibuka oleh Bupati Ipuk Fiestiandani pada Senin malam (22/12) dan akan berlangsung selama sepekan hingga Minggu (28/12) di Gedung Juang 45 Banyuwangi.
Puluhan karya lukisan dari para pelukis lokal Banyuwangi berjajar memenuhi ruang pamer di Gedung Juang 45 Banyuwangi. Aneka lukisan dari tangan-tangan perupa terpajang rapi dalam sketsel.
Deretan lukisan dari segala aliran tersebut menghadirkan suguhan visual yang memukau.
Gedung Juang memang jadi langganan tempat pameran lukisan. Selain gedungnya unik, ruangannya sangat cocok untuk pameran lukisan. Tak salah jika perupa Banyuwangi kembali menggelar acara serupa di gedung yang berlokasi dekat Taman Blambangan tersebut.
Pameran kali ini melibatkan 156 perupa dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari Banyuwangi, ada dari Jakarta, Bali, Subaraya, Jogjakarta, Solo, Madiun, Jember, Bondowoso, dan Sragen, dan perupa dari wilayah tapal kuda. Peserta terjauh dari Manado.
”Satu perupa memamerkan satu karya. Sehingga total lukisan yang kita pamerkan sebanyak 156 karya,’’ ujar Ketua Panitia Pameran Lukisan ”Lereme Roso”, N. Kojin.
Dikatakan Kojin, Banyuwangi merupakan daerah yang kaya akan khazanah budaya. Dalam dinamika berkesenian, kearifan lokal senantiasa menjadi semangat sekaligus sumber inspirasi dalam berkarya, serta menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi.
“Banyuwangi memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kearifan lokal selalu menjadi roh dalam proses berkesenian dan menjadi perekat antarperupa maupun dengan masyarakat,” ujarnya.
Dalam rangka memperingati Harjaba ke-254 pameran senirupa ini mengusung tema Lereme Roso, yang diharapkan mampu menghadirkan sinergi dalam suasana yang lerem, adem, dan guyup.
“Melalui roso, pangroso, dan rumongso, tema ini menjadi ruang refleksi dan penyadaran, baik bagi individu, kelompok, maupun komunitas—sesama perupa maupun masyarakat luas secara bersama-sama,” jelasnya.
Kojin menambahkan, besar harapan panitia agar pameran ini mampu menumbuhkembangkan semangat berkesenian sehingga nilai-nilai budaya tidak terputus benang merahnya. “Nilai-nilai budaya harus terus terwariskan melalui proses getok tular dan gayung bersambut lintas generasi,” katanya.
Pembukaan pameran Lereme Roso dilakukan secara simbolis oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Taufik Rohman melalui prosesi pengguntingan pita dan penandatanganan media kanvas lukisan yang telah disiapkan sebagai tanda peresmian kegiatan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Puluhan karya dalam pameran lukisan Lereme Roso yang ditampilkan pun bervariasi dari segi aliran, namun tetap mengacu pada benang merah tema Lereme Roso. Keberagaman gaya lukis tersebut menjadi visualisasi atas kekayaan alam dan tradisi masyarakat Banyuwangi.
Bupati Ipuk mengatakan, dari tahun ke tahun para perupa terus berupaya menghadirkan keindahan seni rupa ke tengah masyarakat untuk memeriahkan Harjaba.
”Para pelukis terus memberikan makna dalam goresan-goresan kuasnya, para perupa Banyuwangi konsisten menggelar pameran dalam rangka memperingati Harjaba,” ungkapnya.
Atas terselenggaranya pameran Lereme Roso, Ipuk menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
”Kepada para perupa, kurator, budayawan, dan segenap penikmat seni, mari kita senantiasa menjaga cinta kita pada Banyuwangi. Cinta yang luhur di hari lahir daerah kita ini,” pungkasnya.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi Hasan Basri mengatakan, pameran ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperkuat denyut kehidupan seni budaya di Bumi Blambangan dalam peringatan Harjaba ke-254.
“Pameran ini bukan sekadar ruang untuk menampilkan karya, melainkan medan perjumpaan gagasan, pengalaman, serta perkembangan artistik para perupa Banyuwangi dan sekitarnya,” ujarnya. (M. Ksatria Raya/aif)
Editor : Ali Sodiqin