RADARBANYUWANGI.ID - Ada yang terasa berbeda dalam peringatan Harjaba di halaman kantor Pemkab Banyuwangi tahun ini.
Jika tahun sebelumnya, narasi Perang Puputan Bayu hanya dibacakan lewat pengeras suara, kali ini langsung divisualisasikan lewat fragmen yang dimainkan oleh siswa Sekolah Rakyat (SR) dan Dewan Kesenian Blambangan (DKB).
Visualisasi lewat fragmen singkat tersebut langsung bisa dipahami ceritanya. Peserta upacara pun sangat antusias mengikuti alur cerita Perang Puputan Bayu lewat gerakan-gerakan yang dimainkan siswa SR tingkat SD hingga SMA dan DKB.
Tak pelak, fragmen yang mengusung tema ”Perang Puputan Bayu” tersebut sukses menghibur para penonton yang memadati lokasi. Fragmen perang Puputan Bayu merupakan persembahan dari DKB bersama siswa SR.
Pertunjukan ini disutradarai oleh Samsudin Adlawi selaku Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi sekaligus Ketua Majelis Kehormatan DKB serta Aekanu Hariyono, budayawan Banyuwangi yang juga turut serta dalam pertunjukan.
Meski hanya menjalani latihan selama tiga hari, sebanyak 40 siswa jenjang SD hingga SMA dari SR mampu tampil apik. Seluruh proses latihan dilakukan di bawah bimbingan DKB Banyuwangi.
“Awalnya memang grogi. Tapi setelah itu lancar, dan juga senang bisa tampil di depan banyak orang,” kata Akbar, siswa kelas 7 SR.
Perasaan serupa diungkapkan Yusuf. Siswa kelas 7 Sekolah Rakyat Licin itu mengaku terharu sekaligus bangga dapat ambil bagian dalam peringatan Harjaba.
“Ini pertama kali tampil di hadapan orang banyak. Apalagi ada Ibu Bupati. Senang sekali,” ujarnya.
Dalam fragmen tersebut, para siswa SR mengisahkan Perang Puputan Bayu, pertempuran besar antara rakyat Blambangan melawan VOC Belanda pada tahun 1771.
Diceritakan, kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat Blambangan yang memantik semangat perlawanan di bawah pimpinan Pangeran Rempeg Jogopati, keturunan Prabu Tawang Alun, Raja Kerajaan Blambangan.
Puncak pertempuran terjadi pada 18 Desember 1771 dengan perlawanan habis-habisan yang dikenal sebagai perang Puputan di Desa Bayu, yang kini masuk wilayah Kecamatan Songgon.
Dalam perang tersebut, pasukan VOC mengalami kerugian besar, termasuk tewasnya komandan mereka, Sersan Mayor Van Schaar. Namun, Pangeran Jagapati juga gugur dalam pertempuran besar yang menewaskan puluhan ribu orang itu.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, pada 18 Desember yang jatuh kemarin (18/12) merupakan momentum penting yang membawa memori kolektif masyarakat Banyuwangi kembali ke tahun 1771, saat peristiwa Puputan Bayu meletus.
“Peristiwa itu adalah simbol perlawanan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme. Banyuwangi tidak lahir dari ruang hampa, tetapi lahir dari perjuangan peradaban,” tegasnya.
Ipuk menegaskan, komitmen pemerintah daerah untuk terus memberikan panggung bagi generasi muda Banyuwangi di berbagai bidang, mulai seni, budaya, sains hingga olahraga.
”Kami rangkul semuanya. Anak-anak muda harus diberikan ruang ekspresi yang seluas-luasnya. Tak terkecuali siswa di SR,” ujarnya.
Menurut Ipuk, pelibatan pelajar Sekolah Rakyat dalam peringatan Harjaba ke-254 merupakan upaya memupuk kepercayaan diri bagi bara anak-anak di Banyuwangi.
“Ini salah satu cara memotivasi agar mereka lebih percaya diri. Tidak perlu minder, karena semua anak memiliki kelebihan dan kesempatan untuk sukses,” tegasnya.
Selain fragmen Perang Puputan Bayu, peringatan Harjaba ke-254 juga dimeriahkan beragam kesenian lainnya.
Di antaranya tari kolosal Jayantara yang mengisahkan keberanian rakyat Banyuwangi dalam mempertahankan Bumi Blambangan, disuguhkan oleh puluhan pelajar dari berbagai wilayah.
Pementasan paduan suara serta grup gamelan yang seluruh anggotanya merupakan pelajar turut melengkapi kemeriahan peringatan Harjaba. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin