RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi unik kembali digelar warga Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Sabtu (15/11).
Masyarakat setempat mengadakan ritual mantu kucing, sebuah prosesi adat turun-temurun yang sejak puluhan tahun lalu dipercaya sebagai penyambut datangnya musim penghujan.
Ritual yang diyakini telah berlangsung hampir satu abad itu diramaikan dengan arak-arakan kesenian jaranan menuju Sumber Air Umbul Sari, di sisi utara desa.
Warga berjalan kaki beriringan sambil membawa sesajen, air, dan perlengkapan ritual lainnya.
“Biasanya digelar hari Jumat, tapi kali ini digelar pada Sabtu,” ujar Misman, salah satu sesepuh Desa Grajagan.
Perjalanan menuju lokasi ritual diiringi lantunan musik gamelan, menambah kesakralan suasana.
Di tengah kerumunan, tampak dua ekor kucing—jantan dan betina—yang digendong warga untuk diarak menuju Umbul Sari.
Meski disebut “mantu”, prosesi ini tidak memuat unsur akad seperti pernikahan manusia.
“Prosesinya bukan akad, melainkan doa-doa yang dipanjatkan sesepuh desa agar musim penghujan membawa berkah dan keselamatan,” terang Misman.
Jejak Tradisi Sejak 1930-an
Misman menuturkan, tradisi ini muncul sekitar tahun 1930-an, saat wilayah Grajagan mengalami kemarau panjang.
Kala itu, warga melakukan mantu kucing untuk memohon turunnya hujan.
“Warga saat itu betul-betul membutuhkan pertolongan. Kemarau terlalu panjang,” ujarnya.
Kucing dipilih karena dianggap memiliki kepekaan terhadap perubahan cuaca, sekaligus simbol harmoni antara alam dan manusia.
Simbolisasi dua kucing ini menjadi harapan turunnya hujan sekaligus doa keselamatan.
“Kalau dulu untuk meminta hujan, sekarang lebih ke tolak balak atau meminta keberkahan,” imbuhnya.
Dari Permohonan Hujan Menjadi Syukur
Kepala Desa Grajagan, Supriono, mengatakan bahwa mantu kucing kini lebih dipandang sebagai ungkapan syukur atas datangnya musim penghujan.
“Tradisi ini bukan hanya soal meminta hujan. Ini momentum warga untuk berkumpul, bersyukur, dan menghormati peninggalan leluhur,” ujarnya.
Menurut Supriono, tradisi mantu kucing menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Selain menjaga warisan leluhur, tradisi ini membuktikan budaya lokal mampu bertahan dan tetap relevan bagi generasi berikutnya.
“Intinya, melestarikan budaya,” pungkasnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin