RADARBANYUWANGI.ID - Suasana meriah melingkupi kawasan Pantai Kampungmandar, Banyuwangi, Minggu (9/11).
Deretan kapal nelayan berhias bendera warna-warni berjajar rapi di sepanjang kawasan pantai itu.
Sekitar pukul 10.00, iring-iringan tokoh adat dan masyarakat adat Mandar datang membawa sesaji utama berupa kepala sapi.
Di barisan depan tampak Ketua Adat Mandar Banyuwangi Puang Faizal Rizal Daeng Galak bersama Pelaksana Adat Mandar (Passili) Puang Dahliana Daeng Kebok, dan Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) M Puji Santoso.
Dentuman musik dan aroma dupa bercampur angin laut menandai dimulainya ritual Petik Laut Mandar.
Iring-iringan itu berhenti di tepi Pantai Ancol yang menjadi lokasi perahu untuk ritual bersandar.
Kepala sapi yang telah dihias dengan kunyit, bunga, dan minyak khas Mandar diserahkan ke kapal utama.
Sesaat kemudian, kapal yang membawa sesaji berangkat menuju tengah laut diiringi ratusan kapal nelayan lainnya.
Tak cuma kapal nelayan, beberapa kapal niaga, kapal wisata, dan jetski pun ikut mengawal iring iringan.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1.700-an. Semua tahapan tetap kami jaga seperti dulu. Kepala sapi diinapkan semalam di rumah adat, disembelih pada pagi hari, lalu dilumuri minyak Mandar sebelum dilarung ke laut. Minyak Mandar itu yang jadi ciri khas kami,” ujar Ketua adat Mandar Puang Faizal Rizal Daeng Galak.
Sebelum dilarung, Passili atau pemimpin upacara memimpin doa di atas kapal utama. Ayam berbulu hitam dicelupkan ke laut sebagai simbol pembersihan dan tolak bala.
Setelah doa usai, kapal yang membawa sesaji berputar mengelilingi kawasan Pantai Boom dan Pantai Ancol. Diiringi sorakan nelayan di antara suara ombak.
Faizal menjelaskan, tahun ini lebih dari 100 kapal nelayan ikut serta. Mereka tergabung dalam 11 Kelompok Usaha Bersama (KUB) dari Kelurahan Mandar dan Lateng.
“Petik laut ini bukan hanya soal adat, tapi juga tentang kerukunan antar-nelayan. Kita hidup dari laut, jadi harus menjaga laut dan menjaga kebersamaan,” katanya.
Ritual yang berlangsung sejak pagi hingga siang itu tak hanya menjadi milik masyarakat adat Mandar. Warga sekitar juga ikut meramaikan.
Di sepanjang jalan menuju pantai berderet sejumlah stan penjuala makanan, minuman khas pesisir hingga cindera mata.
Faizal mengatakan, dirinya berusaha menjaga ritual tetap lestari sesuai pakem. Hal ini sekaligus menandakan bahwa adat Mandar tetap lestari di Banyuwangi.
"Kita juga berharap hasil tangkapan nelayan tahun ini lebih baik dari sebelumnya," pungkasnya. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin