RADARBANYUWANGI.ID – Aroma kopi menyeruak di sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Sabtu malam (8/11).
Festival Ngopi Sepuluh Ewu kembali digelar, menyuguhkan lebih dari sekadar kopi: ini adalah perayaan budaya, keramahan, dan kearifan lokal masyarakat Suku Osing.
Desa adat Kemiren, yang dikenal sebagai penjaga tradisi Osing, menjadikan ngopi sebagai simbol etika menyambut tamu.
“Suguh, gupuh, lungguh. Itulah ajaran leluhur kami,” ujar Suhaimi, Ketua Adat Osing, seperti dikutip dari laman banyuwangikab.go.id.
Suguh berarti menyuguhkan hidangan, gupuh adalah antusiasme menyambut tamu, dan lungguh bermakna menyediakan tempat duduk terbaik.
Festival ini bukan sekadar pesta kopi. “Kami siapkan satu kuintal kopi robusta asli Banyuwangi,” kata Ketua Panitia M. Edy Saputro.
Bubuk kopi itu dibagikan ke warga yang rumahnya berada di jalur utama desa. Setiap rumah menjadi ‘warung dadakan’ lengkap dengan cangkir khas warisan leluhur.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut festival ini sebagai contoh sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata.
“Tradisi Osing jadi daya tarik wisata. Ini perlu terus didorong di desa-desa lain,” ujarnya.
Dengan ribuan cangkir kopi dan semangat menyambut tamu, Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadikan Kemiren bukan hanya tempat ngopi, tapi destinasi budaya yang tak terlupakan. (*)
Editor : Ali Sodiqin