RADARBANYUWANGI.ID – Festival Gandrung Sewu 2025 di Pantai Marina Boom Banyuwangi bakal tampil beda dari tahun-tahun sebelumnya.
Bukan hanya diikuti ribuan penari dari berbagai kalangan, tahun ini sejumlah kepala desa (kades) dan lurah se-Banyuwangi juga turun langsung ke arena menari bersama 1.300 penari gandrung.
Para kades yang biasanya hanya duduk di kursi tamu kehormatan, kini justru berbaur di barisan depan.
Mereka ikut dalam latihan intensif di Stadion Diponegoro, Sabtu (18/10), demi memastikan penampilan mereka tak kalah anggun dari para penari profesional.
Kades Ikut Menari di Gandrung Sewu
Salah satu peserta, Malihi, Kepala Desa Gumuk, Kecamatan Licin, mengaku bangga bisa ikut menari di acara budaya terbesar di ujung timur Pulau Jawa itu.
“Selama ini kami cuma menonton. Tapi sekarang, kami ikut di tengah arena. Rasanya luar biasa!” ujarnya sambil tersenyum usai latihan.
Menurut Malihi, keikutsertaan para kepala desa menjadi bentuk nyata semangat kebersamaan dan tanggung jawab dalam melestarikan budaya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kepala desa tidak hanya urus administrasi, tapi juga ikut menggerakkan semangat kebudayaan,” tambahnya.
Namun, menjadi penari gandrung ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
“Gerakannya kelihatan lembut, tapi sebenarnya sulit dan presisi. Salah sedikit langsung terlihat,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Latihan di Tengah Kesibukan
Para kades dan lurah rela meluangkan waktu di sela padatnya aktivitas pemerintahan desa untuk ikut latihan dua hingga tiga kali seminggu.
“Meski sibuk, kami tetap semangat. Ini bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga budaya Banyuwangi,” ujar Malihi.
Ia menambahkan, pengalaman menari bersama warga menjadi momen langka yang penuh kehangatan.
“Kami bisa tertawa bersama, belajar bareng, salah gerak bareng. Rasanya menyatu kembali dengan masyarakat,” katanya dengan mata berbinar.
Baca Juga: Catat! Ini Daftar Lengkap Rest Area Tol Jawa Timur, Ada Fasilitas Super Lengkap!
Bagian dari Cerita Besar Gandrung Sewu
Ketua Tim Kreatif Gandrung Sewu 2025, Suko Prayetno, menjelaskan bahwa keterlibatan para lurah bukan sekadar hiburan tambahan.
“Ini bagian dari alur cerita besar Gandrung Sewu tahun ini. Kami menampilkan prosesi paju gandrung yang menggambarkan suka cita masyarakat Banyuwangi,” terangnya.
Dalam prosesi tersebut, terdapat adegan gedog, di mana penari gandrung mengajak tamu menari bersama — simbol kebersamaan dan persatuan masyarakat Banyuwangi.
“Kehadiran lurah di panggung menegaskan bahwa Gandrung Sewu bukan sekadar tontonan, tapi simbol gotong royong dan kebanggaan Banyuwangi,” tambah Suko.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 20 Oktober 2025 Anjlok Tajam! Turun Rp13.000 per Gram, Investor Waswas!
Simbol Kebersamaan Banyuwangi
Festival Gandrung Sewu 2025 yang akan digelar pada 25 Oktober mendatang dipastikan menjadi ajang budaya spektakuler.
Ribuan penari akan memenuhi pesisir Pantai Marina Boom, menampilkan kolaborasi apik antara seniman, pelajar, dan pejabat daerah.
Partisipasi para lurah menjadi simbol kuat bahwa Gandrung bukan sekadar tarian massal, melainkan perayaan identitas, gotong royong, dan kebanggaan sebagai warga Banyuwangi. (Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin